Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #7

Tanda-Tanda Senyap

Ketiadaan kabar bukan karena ketiadaan waktu, melainkan keengganan untuk menyampaikan hal yang sebenarnya.

POV: Puteri Kemuning·Keputren Kadipaten

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Bagian 1: Penantian di Ambang Gerbang Sirap

Aroma Cempaka, Ikan yang Tersipu, dan Lidah Pedas Embok Ranti

☼

Gerimis musim rendeng selalu punya cara paling kejam untuk meraba ingatan. Butir-butir airnya turun tanpa suara tergesa, meluncur perlahan menyusuri lekuk genting sirap kayu jati tua yang telah menghitam oleh lumut bertahun-tahun, lalu jatuh menimpa kelopak teratai putih di kolam keputren dengan ketukan ritmis yang melelahkan rongga dada. Sudah empat belas hari lamanya. Empat belas senja yang basah kuyup, dan gerbang kayu ulin berukir kepala garuda itu tetap membisu dingin, menelan jalan setapak berbatu kali yang mengular jauh ke arah jalan raya Kadipaten.

Aku memilin ujung selendang ungu mudaku hingga sutra halusnya kusut di sela jemari yang kaku oleh dingin. Warna ungu pucat ini bukan sebuah kebetulan estetik biasa. Viqar sendiri yang memilihnya di pasar malam pelabuhan pesisir tiga purnama yang lalu, seraya berseloroh di hadapanku bahwa ungu adalah lambang kesabaran para bidadari kayangan yang setia menanti kepulangan suaminya dari samudra lepas. Betapa manis dan memabukkan racun yang dibungkus dengan untaian kata-kata puitis. Kini, kain sutra tipis ini terasa lebih mirip belenggu basah yang mencekik pergelangan tanganku sendiri, mengikat denyut nadiku pada janji yang kian mengabur di kejauhan.

Di sekeliling pelataran, aroma wangi cempaka basah berbaur dengan uap tanah lempung yang tersiram hujan, menciptakan kepekatan udara yang menusuk hidung. Setiap tetes air yang menimpa dedaunan pisang kipas terdengar bagai langkah kaki seseorang yang tergesa. Setiap desir angin barat yang mengguncang dahan pohon tanjung membuat dadaku berdegup kencang, berharap ada derap tapal kuda kurir pengantar warkah yang membelah keheningan dinding benteng keputren. Namun yang kembali hanyalah gema desau angin kosong yang mempermainkan rasa hausku akan sepenggal kabar.

"Aduh, Gusti Ayu Kemuning yang jelita tiada tandingan di tujuh penjuru mata angin..." Suara serak berlogat medok itu tiba-tiba membelah keheningan gerimis. Disusul bunyi derit baki kuningan yang beradu dengan gelang perunggu tebal. Embok Ranti melangkah gontai dari serambi belakang, membawa cawan tembikar berisi wedang jahe serai yang uap panasnya menebarkan aroma pedas cengkih. "Kalau Ndoro Putri terus-terusan berdiri mematung di bibir gerbang begini sampai lumut tumbuh di ujung selop beludru itu, saya khawatir kawanan ikan mas koki di kolam itu bakal mati mendadak karena jantungan."

Aku tidak menoleh, berusaha sekuat tenaga mempertahankan wibawa yang mulai retak di hadapan dayang tua itu. Aku hanya menghela napas tipis yang langsung berbaur dengan hawa dingin sore. "Jangan mengada-ada, Mbok. Ikan di kolam mana yang punya akal untuk peduli pada orang yang berdiri di tepi air?"

"Lho, peduli sekali, Ndoro!" bantah Embok Ranti seraya meletakkan baki kuningan di atas bangku batu andesit dengan bunyi dentang yang sengaja dikeraskan agar mengejutkanku. Dayang sepuh berbibir merah sirih itu berkacak pinggang, menatapku dengan mata sipitnya yang selalu tampak geli sekaligus menyimpan kecemasan seorang ibu. "Ikan-ikan itu sudah tiga hari tiga malam tidak berani buang hajat karena merasa terus diawasi oleh sepasang mata putri adipati yang sedang merana! Mereka malu, Ndoro. Bahkan ikan lele belang di dasar lumpur saja sampai lupa cara bertelur saking tegangnya melihat Ndoro Putri mengembuskan napas panjang setiap tiga ketukan. Katanya, kolam ini mendadak terasa lebih angker daripada makam keramat jurang kidul!"

Celetukan kasar itu membuat sudut bibirku bergetar pelan. Embok Ranti memang selalu begitu. Ia adalah satu-satunya manusia di seantero keputren ini yang berani melompati sekat tata krama istana untuk menampar kepedihanku dengan kelakar rakyat jelata. Namun di balik lelucon tentang ikan yang tersipu itu, aku tahu pasti: Embok Ranti sedang menghitung hari yang sama. Ia tahu dua pekan adalah jeda waktu yang terlampau panjang untuk sebuah surat cinta.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Bagian 2: Derak Gerbang & Kurir Tanpa Warkah

Caping Bambu yang Terguling dan Bumbung Kulit yang Kosong

☼

Tawa getirku belum sempat pudar ketika suara derit engsel besi berkarat memecah udara sore. Bukan pintu gerbang utama kadipaten yang berderit, melainkan pintu butulan kecil di dinding samping keputren—pintu rahasia yang biasa digunakan kurir berkuda dari pesisir untuk menyelundupkan surat tanpa dicatat oleh juru tulis kepatihan. Detak jantungku mendadak melonjak naik, berdegup liar menghantam rusukku sendiri.

Dari balik pintu kayu ulin yang setengah terbuka itu, sesosok tubuh terhuyung masuk ke pelataran basah. Sadana. Kurir pesisir yang biasanya terkenal tangkas menunggang kuda kepang dan selalu tersenyum congkak itu kini tampak seperti ayam jago aduan yang habis tercebur ke dalam sumur pembuangan comberan. Jarik luriknya basah terpilin lumpur merah sampai ke lutut, mantel serat nanasnya sobek di bahu kanan, dan caping bambunya terlepas dari kepala saat ia tersandung trap batu pelataran.

Caping bambu itu menggelinding di atas ubin andesit yang licin, berputar beberapa kali sebelum akhirnya terhenti tepat di tepi kolam, mengapung miring di samping rumpun teratai. Suasana mendadak beku seketika.

"Ampun... ampun, Gusti Ayu Putri!" Sadana langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai batu yang basah berair, mencium ubin yang dingin tanpa memedulikan kotoran lumpur yang menempel di pipinya. Napasnya memburu tersengal-sengal seperti orang yang baru saja lolos dari kejaran harimau loreng alas roban. Keringat asin dan air hujan mengalir deras menyatu di pelipisnya yang legam legam.

Lihat selengkapnya