Penutup Bagian I. Ilusi kehangatan mulai retak. Kemuning merasakan dingin di tengah kehangatan tatap mata sang kekasih.
POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Tepi Telaga Sarangan, Lereng Gunung Lawu
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Bagian I: Tunas Harapan & Janji Manis
Uap Napas di Bawah Lindungan Lawu
☼
Kabut Sarangan pagi itu tidak turun seperti selendang bidadari dalam dongeng-dongeng pengantar tidur; ia merayap serupa getah basah yang berat, menelan air telaga hingga tepiannya lenyap ke dalam kekosongan kelabu. Angin lereng Gunung Lawu berembus liar, membawa aroma khas yang selalu kukenal seumur hidup: perpaduan sengit antara asap arang sate kelinci dari lapak-lapak yang baru menyalakan bara, bau lumut basah di bibir dermaga kayu lapuk, dan hembusan belerang tipis yang tertinggal di celah bebatuan. Dinginnya tidak sekadar menempel di permukaan kulit, melainkan menyusup lewat pori-pori kancing jaket wolku, menggigit tulang belikat dengan kepastian yang membuat gigi gemeletuk tanpa permisi.
Aku merapatkan selendang tenun lurik biru tua yang melingkari leherku, meniupkan segumpal uap hangat dari bibir yang terasa mulai kaku. Di kejauhan, dua perahu kayuh bermoncong bebek—salah satunya memiliki leher miring akibat benturan musim liburan lalu—terombang-ambing lesu diikat pada tonggak kayu yang menghitam oleh air tawar. Tempat ini biasanya ramai oleh tawa anak-anak kota yang berebut jagung bakar dan deru perahu cepat yang membelah ombak kecil. Namun pada pukul tujuh kurang dua puluh menit di hari Selasa berkabut ini, Sarangan adalah sebidang dunia yang sedang menahan napas.
Dan di sanalah dia berdiri.
Viqar bersandar pada pembatas beton berlumut tebal, persis di dekat undakan tempat para nelayan jaring tebar menambatkan sampan bambu. Jaket kanvas hitam kesayangannya—jaket tebal yang resletingnya selalu macet di dekat kerah—dikancingkan rapat sampai ke batas dagu. Kedua tangannya terbenam dalam-dalam ke dalam saku, seolah saku itu adalah lubang persembunyian terbaik di muka bumi dari sengatan udara beku. Bahunya terangkat kaku, membentuk garis persegi yang keras di bawah kanopi pohon pinus yang meneteskan embun.
Ada yang ganjil dari caranya berdiri. Biasanya, jika melihat langkah kakiku terantuk batu paving yang tidak rata di undakan jalan turun, Viqar akan melambaikan tangan dengan seringai mengejek, lalu berteriak memperingatkanku agar tidak menggelinding masuk ke telaga seperti labu siam. Namun pagi ini, ia mematung. Matanya lurus menatap pusaran kabut di tengah telaga, seolah-olah air hitam tenang itu menyimpan misteri yang jauh lebih mendesak daripada derap sepatuku yang menginjak dedaunan basah.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Patung Dwarapala & Perahu Bebek Miring
☼
"Kalau kamu berniat melamar pekerjaan jadi arca penjaga gerbang Candi Cetho, posturmu sudah lolos kualifikasi tanpa ujian tertulis, Qar," sapaku, memaksakan nada suara seringan mungkin, menepis gumpalan dingin yang mendadak menggantung di pangkal tenggorokan. "Tinggal cari gada batu seukuran paha sapi, lalu suruh juru kunci menempelkan lumut di telingamu. Sempurna."
Viqar menoleh lambat-lambat. Kepalanya bergerak seakan sendi lehernya terbuat dari engsel besi berkarat yang sudah setahun tidak diminyaki. Seringai yang kutunggu tidak kunjung merekah di bibirnya. Yang muncul hanyalah tarikan tipis di kedua sudut mulutnya—sebuah senyuman formal yang biasa dipakai para teller bank daerah ketika nasabah tua menolak memahami formulir setoran. Senyum yang tidak melibatkan otot mata sama sekali.
"Kamu datang tepat waktu, Kemuning," katanya pelan. Suaranya datar, tersaring lewat hembusan kabut yang memutihkan udara di antara kami. "Terima kasih sudah mau menyempatkan turun dari lereng atas."
Aku membelalakkan mata, berpura-pura terkesiap sambil meletakkan telapak tangan di dada. "'Kemuning'? Tanpa 'Ning', tanpa 'Tuan Putri Pemakan Cabai Rawit'? Sejak kapan kamu berbicara dengan kosakata kaku seperti juru bicara bupati yang sedang membacakan draf pembebasan lahan waduk? Apa jaketmu itu terlalu sempit sampai menjepit pita suaramu, hm?"
Aku melangkah mendekat, berniat menepuk bahunya dengan ujung sarung tangan rajutku, seperti kebiasaan konyol kami selama dua tahun terakhir. Namun tepat ketika jarak di antara kami tinggal dua jengkal, bahu Viqar tersentak sedikit ke belakang. Tidak kasar, bahkan sangat halus—gerakan refleks seseorang yang menghindari percikan minyak panas di penggorengan. Tetapi bagi mataku, gerak mundur itu berdentang seperti gong perunggu yang dipukul di dalam ruangan hampa.
Tanganku menggantung di udara selama dua detik yang terasa menyiksa. Demi menyelamatkan harga diriku yang mendadak terasa rapuh seperti kerupuk puli terendam kuah rawon, aku mengalihkan gerak tanganku untuk membenarkan ikatan selendang di leher, lalu tertawa pendek yang garing. "Dingin sekali memang, ya. Sampai-sampai orang bergerak saja seperti tersengat belut telaga."
"Duduklah dulu," sahut Viqar tenang, tanpa menanggapi ocehanku. Ia menggeser tubuhnya ke sisi kanan bangku beton yang berlumut, memberi ruang kosong di sebelah kirinya. Ruang kosong selebar dua jengkal yang sengaja ia sediakan, dan sekaligus sengaja ia jaga agar tidak terlewati.