Akar masalah keraguan Viqar terungkap: hutang kehormatan masa lalu ayahnya yang mengikatnya pada janji politik lain.
POV: Viqar Ghazanfar | Lokasi: Puri Ghazanfar, Ruang Arsip Pusaka
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Lilin malam berjelaga itu menetes lambat ke atas permukaan meja jati hitam yang usianya barangkali lebih tua daripada tiga generasi dinasti kami. Di dalam Ruang Arsip Pusaka Puri Ghazanfar, waktu seolah berhenti mengalir, membeku di antara barisan lemari lontar apak, deretan mata tombak berpamor yang beristirahat dalam sarung beludru kusam, serta bau dupa cendana yang telah mengendap di pori-pori dinding andesit selama berabad-abad. Udara malam pegunungan merembes lewat celah kisi-kisi batu berukir sulur garuda, membawa hawa gigil dan aroma tanah basah sehabis hujan lebat. Di hadapanku, tergeletak selembar perkamen tebal berpinggir keemasan dengan segel lilin hitam yang belum sepenuhnya pecah—segel bergambar sepasang jangkar bersilang mahkota karang, cap resmi Wangsa Pesisir yang dilegalisasi oleh cincin stempel Dewan Tetua trahku sendiri.
Lilin hitam. Dalam tradisi tata krama wangsa kami, warna itu bukan pertanda duka cita kematian raga, melainkan lambang ikatan tak terelakkan: hutang kehormatan tertinggi yang tak boleh ditawar dengan sebutir emas pun. Jemariku yang terbiasa menggenggam hulu keris Singa Nawa kini terasa kaku, dingin bagai menyentuh lempengan es di puncak Merbabu. Setiap goresan aksara Jawa Kawi di atas perkamen itu tampak seperti barisan semut berbisa yang merayapi mataku. Dewan Tetua tidak sedang memohon; mereka memerintahkan. Dalam tempo tiga puluh purnama semenjak penobatan kepanglimaan, aku diharuskan melayarkan bahtera pengantin ke Pelabuhan Tanjung Mas, menyunting Rara Ayu Candramurti, putri bungsu penguasa pesisir utara. Bila titah ini kuabaikan, hak waris atas Puri Arga serta bekal pangan dan persenjataan bagi tiga batalion Garda Lembah akan dibekukan seketika dengan dalih pembangkangan terhadap wasiat darah leluhur.
"Kalau kau terus memelototi kertas sialan itu dengan pandangan seperti hendak menerkam harimau liar, aku khawatir perkamen itu akan terbakar sendiri sebelum sempat kau balas, Kangmas," sebuah suara serak menyela dari balik bayangan pilar batu. Langkah kakinya yang mengenakan selop kulit menjilat lantai batu dengan langkah malas tanpa beban. Raden Aryo Damar muncul dengan sebatang tebu manis di tangan kanannya, mengunyahnya dengan santai seolah kami sedang berada di warung tuak pinggir pasar dan bukannya di bilik paling sakral Puri Ghazanfar. Sepupuku itu melempar ampas tebu ke tempat pembakaran dupa tembaga tua—sebuah tindakan penistaan kecil yang entah bagaimana selalu berhasil meredakan sesak di dadaku.
"Jaga kelakuanmu, Aryo," desisku pelan tanpa mengalihkan pandangan dari segel hitam. "Jika Kiai Ageng Manduro melihat kau melempar sampah ke wadah dupa keramat kakek buyutmu, jenggotnya yang sepanjang dada itu bisa terbakar amarah." Aryo mendengus geli, menyandarkan punggungnya pada lemari arsip berukir sambil menyilangkan tangan di dada. "Kiai Manduro sedang sibuk di pendapa agung, menghitung berapa gantang beras yang bisa dipalak dari petani lereng selatan untuk membiayai kenduri sunatan cucunya yang ketujuh belas. Dan percayalah, kakek buyut kita di alam baka pasti lebih terhibur melihat ampas tebuku daripada mendengar ocehan dewan tetua yang bunyinya mirip katak bangkong di musim penghujan. Jadi, katakan padaku, wahai Panglima Besar Lembah Arga yang digdaya: racun apa yang mereka hidangkan malam ini dalam kemasan lilin malam hitam itu?"
───⋅☾ ☼ ☽⋅───