Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #10

Retak pada Cermin Hati

Kabar burung mulai menerobos benteng keputren. Kemuning berusaha menepisnya, namun hatinya tidak lagi tenteram.

POV: Puteri Kemuning·Kamar Rias Puteri Kemuning

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Kamar rias keputren itu selalu beraroma seperti tempat persemayaman rahasia yang enggan membusuk: campuran dupa cendana tua, minyak kelapa peram sari kenanga, dan uap peluh dingin yang ditahan mati-matian di balik kemban sutra ungu manggis. Di sudut ruangan, lentera minyak jarak berderak pelan, menjatuhkan bayang-bayang panjang meliuk ke dinding bata merah yang dipoles getah damar.

"Aduh, Gusti Ayu Kemuning... kepala sampeyan ini isinya otak calon penguasa atau batu asahan parang?" omel Mbok Gandari sambil mendesah kasar. Jari-jemarinya yang keriput dan sewarna umbi talas tua menyentak lembut sejumput rambut legam Kemuning. "Sejak beduk ashar tadi disisir, helai rambutnya melawan melulu. Kalau dipilin ke kiri, melompat ke kanan. Mau disanggul gaya Ukel Mayang Pasir malah melingkar seperti ekor musang kedinginan!"

Kemuning tidak tertawa, meski bibirnya yang berhias gincu sirih tipis tertarik ke atas setengah jengkal—hanya cukup untuk menghormati lelucon tua emban kesayangannya itu. Matanya terpancang lurus pada permukaan cermin tembaga di depannya. Cermin kuno bundar peninggalan mendiang Gusti Kanjeng Ratu, ibundanya, berbingkai ukiran naga kembar berbelit sulur teratai air. Logam kuning itu tidak pernah menyajikan pantulan yang sejujur kaca buatan saudagar Venesia; tembaga tua itu selalu membiaskan wajahnya dalam rona emas temaram, menyamarkan lingkaran hitam di bawah kelopak matanya yang kurang tidur tiga pekan terakhir.

"Itu bukan salah rambutku, Mbok," balas Kemuning pelan, nada suaranya berayun antara geliat malas dan tajamnya sembilu belati. "Rambut ini hanya tahu diri. Dia menolak dipaksa tunduk pada sisir tanduk kerbau yang giginya sudah ompong tiga. Persis seperti para punggawa istana luar yang menolak patuh pada titah paman adipati."

"Hush! Mulut puteri raja kok bicaranya kayak petasan banting pedagang Tionghoa!" sahut Mbok Gandari cepat sambil melirik cemas ke arah kisi-kisi jendela berukir motif lung-lungan. Dayang tua itu menepuk pundak Kemuning dengan kipas daun lontar, lalu kembali menyusupkan tusuk konde perak berujung kuntum cempaka. "Mbok ini cuma kasihan pada bunga-bunga melati ini, Gusti. Lihat ini. Baru dipetik dari taman barat tadi tengah hari oleh bocah-bocah juru taman, tapi baru dipilin sebentar saja kelopaknya sudah kecokelatan dan layu melintir. Baunya masam seperti tape ketan kelupaan ragi. Pertanda apa coba kalau melati putri keraton layu secepat kilat?"

"Pertanda juru tamanmu memetiknya sambil melamunkan janda penjual pecel di pasar wetan, Mbok. Jangan mendadak jadi peramal nasib istana. Dosa sirik," tukas Kemuning dingin, namun telapak tangannya tanpa sadar meraba untaian melati di pelipis kirinya. Kelopak-kelopak itu memang lembek dan hangus di tepiannya, seolah hawa panas yang membakar tengkuk Kemuning menular langsung ke serat-serat mahkota bunganya.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Mbok Gandari mendengus, mencibir dengan bibir bawahnya yang tebal berlumur susur tembakau. "Bukan salah juru taman, Gusti. Langit di atas keputren ini yang gerah. Udaranya berat seperti dada perjaka yang baru ditolak lamarannya. Lagipula... kalau Mbok boleh lancang berseloroh, melati itu tahu malu. Dia layu karena tidak tahan mencium desas-desus busuk yang dibawa Ki Darga tadi sore."

Jari jemari Kemuning yang sedang merapikan lipatan kain dodot prada seketika membeku. 

Ki Darga. Saudagar kain sutra pesisir berbadan tambun dengan seringai licin berminyak yang tadi sore diizinkan menghadap selasar keputren dengan alasan membawa kiriman kain tenun pesisir pesanan permaisuri. Saudagar itu berlutut dengan kepala menyentuh ubin, membawa gelendong sutra damaskus hijau lumut bersulam benang perak. Namun bukan kehalusan tenunan sutra itu yang membuat darah Kemuning mendadak terasa surut dari ujung-ujung jemarinya. Di sela-sela basa-basi tawar-menawar harga dan pujian munafik perihal keanggunan putri raja, mulut licik Ki Darga menyisipkan racun yang dikemas rapi dalam desah keprihatinan palsu.

*‘Ampun beribu ampun, Gusti Ayu... di bandar muara, angin laut bertiup kencang membawa kabar aneh. Gerbang kediaman Senapati Ghazanfar di lembah utara konon tak pernah sepi tiga malam terakhir. Tiga puluh kereta tertutup dengan panji naga bersirip biru dari armada kadipaten pesisir telah menurunkan peti-peti panjang berikat rantai tembaga di pekarangan belakangnya. Orang-orang pesisir yang bersorban jingga dan berbau mesiu mesiu asing itu disambut bak saudara kandung... konon persekutuan darah baru telah diikat dengan tuangan tuak kelapa dan materai lilin hitam.’*

Kemuning mengingat bagaimana detik itu ia tetap tersenyum dingin di hadapan sang saudagar, bahkan sempat memuji warna hijau sutra itu dengan nada datar bagai batu kali: *‘Kain yang elok, Ki Darga. Sayang sekali motifnya terlalu banyak cacing berbelit. Aku lebih suka motif parang rusak yang tegas membelah keraguan.’* Saudagar itu tersentak pucat, mencium lantai berulang kali sebelum merayap mundur keluar ruangan.

Namun sekarang, di kamar rias yang sunyi ini, kepura-puraan itu tanggal lapis demi lapis.

Lihat selengkapnya