Metafora alam yang merefleksikan keroposnya hubungan. Kemuning mendapati dirinya lebih lelah menanti daripada berjuang.
POV: Puteri Kemuning·Taman Melati Keputren
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Babak I: Lumpur di Musim Gersang
☼
Matahari di atas langit Keputren Mayangkara menggantung laksana tembaga pijar yang enggan bergeser. Kemarau tahun ini bukan sekadar merampas kesegaran dedaunan beringin di alun-alun luar, melainkan telah menyusup ke sela-sela dinding kapur keputren—mengeringkan dasar kolam teratai hingga dasar lumpurnya retak menyerupai sisik naga yang sekarat. Namun, di sudut barat taman, anomali yang ganjil tengah berlangsung dengan penuh kekeraskepalaan.
Puteri Kemuning berjongkok di atas ubin terakota, membiarkan ujung kain jarik parang selingkuhnya yang bersulam benang prada berlumur tanah basah pekat. Tangannya yang biasanya halus memetik senar siter kini berlepotan humus basah yang mengeluarkan bau langu menyeruak. Di hadapannya, tiga pot porselen berukir burung merak tampak mengenaskan. Daun-daun melati keputren yang tersohor wangi itu tidak gugur karena kekeringan udara; mereka terkulai kuning pucat, loyo, dan basah kuyup seolah habis dihempas air bah semalaman.
"Gusti Puteri yang ayu titisan dewi," sebuah suara melengking datar terdengar dari balik rumpun kamboja gading, disusul suara gesekan sandal bakiak kayu yang beradu dengan lantai batu. Dayang Kinanti melangkah terhuyung-huyung membawa sebuah ember tembaga kosong yang pinggirannya sudah penyok. Napas dayang muda itu kembang kempis, sanggulnya miring lima belas derajat ke kiri, dan sehelai bunga melati layu tersangkut sembarangan di belakang telinganya. "Jika Gusti bermaksud membuka persawahan padi ketan di dalam pot porselen Cina hadiah dari Dinasti Ming itu, hamba rasa kita tinggal mencari dua ekor anak kerbau kerdil untuk membajaknya. Cacing tanah di dasar pot itu bahkan tadi hamba lihat melompat keluar sambil membawa bendera putih, Gusti! Mereka protes karena hampir mati tenggelam di tengah puncak musim kemarau!"
Kemuning tidak tertawa, meski bibir mungilnya bergetar menahan sunggingan getir. Jemarinya yang ramping terus menggali ke dalam gumpalan tanah yang terlalu basah itu. "Jangan ngawur, Kinanti. Kau lihat sendiri daunnya menguning kusam. Di luar udara begitu memanggang, tanah keputren gersang sampai air sumur pun asin. Jika tidak kusiram tiga kali sehari dengan kendi tembaga, bagaimana mungkin melati ini bertahan hidup?"
"Aduh, Gusti Ayu junjungan hamba yang budiman," Kinanti berjongkok di sebelah sang putri, mengipas-ngipaskan selendang birunya yang berbau minyak kelapa dan dupa melati murahan. Wajah bundar Kinanti berkerut penuh keprihatinan yang jenaka. "Melati itu tanaman berakar priyayi, Gusti. Mereka suka kelembapan yang santun, bukan banjir bandang kiriman rasa cemas! Gusti menyiramnya subuh, menyiramnya lagi ketika matahari sepenggalah, lalu siang bolong kembali mengguyurnya seakan-akan keputren ini sedang kena kutukan empu pembuat hujan. Daunnya kuning itu bukan karena haus, Gusti... melainkan karena akarnya sudah tidak bisa bernapas!"
Jari-jemari Kemuning tiba-tiba membeku di dalam tanah. Ujung kukunya menyentuh gumpalan akar utama melati itu. Saat ia menarik sedikit tangkai terbawahnya perlahan, apa yang ia temukan meruntuhkan seluruh pertahanan logikanya: jaringan akar yang seharusnya kokoh berwarna putih kekuningan itu kini terburai lembek, berwarna cokelat kehitaman, licin oleh lendir pembusukan, dan menebarkan bau bangkai tumbuhan yang pekat. Tanaman itu tidak mati karena kejamnya terik kemarau Mayangkara. Tanaman itu sekarat karena kebaikan yang berlebihan—karena cinta yang dipaksakan mengalir tanpa henti dari sepasang tangan yang panik menolak kenyataan.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Babak II: Cermin Rapuh dan Topeng Pemakluman
☼
Kinanti yang biasanya tak bisa menutup mulut mendadak terdiam menatap serabut akar hitam di telapak tangan majikannya. Suasana taman mendadak sunyi, hanya derit ranting bambu kering tertiup angin barat yang menyisakan desah perih. Dayang setia itu menggaruk pelipisnya yang berkeringat, lalu berdeham pelan mencoba mencairkan beku udara.
"Nah... kan, Gusti," bisik Kinanti lebih lembut, nada sarkasmenya meluruh menjadi keibuan yang canggung. "Bahkan tanah pun tahu batas kenyang. Manusia dan tanaman itu mirip, Gusti. Diberi air segelas mereka mengucap berkah, diguyur seember setiap dua jam mereka menganggapnya siksaan tahanan perang. Seperti... eh, maafkan kelancangan lidah hamba yang tak bertulang ini... seperti Raden Aryo Damar yang setiap purnama Gusti kirimi tiga kendi selai delima dan sepuluh gulung surat sulam, sementara balasan darinya cuma secarik lontar bertuliskan: 'Kanda sehat, tugas tapal batas amat berat, jangan banyak bertanya.'"