Pertemuan penuh ketegangan verbal. Viqar menggunakan kelihaian diplomasinya untuk menepis kecurigaan Kemuning.
POV: Puteri Kemuning (Orang Ketiga Terbatas / Third-Person Limited) | Lokasi: Pos Penjagaan Sayap Barat, Gerbang Batas Kota Karang Pura | Waktu: Senja Menjelang Maghrib hingga Kelam Menikam
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Kabut senja merayap turun tergesa-gesa melintasi benteng batu kali Karang Pura, menyerupai tirai kelabu lusuh yang ditarik sepasang tangan tak kasat mata demi menyembunyikan aib peradaban manusia dari pandangan langit. Di Gerbang Batas Kota, udara berbau sangit jelaga obor jarak yang baru dinyalakan para penjaga, berbaur dengan uap asam peluh kawanan kuda patroli, sengatan jerami basah, dan anyir lumpur parit pertahanan yang belum jua surut sejak badai kemarin lusa. Maghrib baru saja mengetuk cakrawala dengan guratan lembayung tua yang menyerupai luka sayatan pedang berdarah; gema beduk dari surau perbatasan bertalu lambat, bersaing sengit dengan derak roda pedati logistik pedagang malam dan derit engsel besi tempa raksasa yang mulai digrendel prajurit bergada tebal. Di celah pos jaga sayap barat—sebuah ruang sempit pengap dengan atap sirap lapuk yang meneteskan air tempias di sudut-sudutnya—Puteri Kemuning berdiri membeku di balik bayang-bayang tiang ulin penopang tiang bendera.
Gaun luaran berbahan beledu biru safir yang ia kenakan—karya terbaik perajin kain istana bagian dalam—kini terpercik noda tanah liat kemerahan di sepanjang kelim bawahnya, sebuah ceceran noda yang bagi para permaisuri dan dayang keraton akan dianggap sebagai bencana tata krama tak terampuni. Namun Kemuning tidak memedulikan selembar kain sutra atau aroma lumpur yang mengotori sepatunya. Jemari lentiknya yang biasa memegang pena bulu merak dan gulungan traktat kerajaan kini terkepal erat di balik lipatan mantel, menekan ujung kuku ibu jarinya kuat-kuat ke tengah telapak tangan hingga kulit halusnya memutih pasi. Itu adalah kebiasaan purba yang ia pelajari sejak kanak-kanak: sebuah upaya mekanis untuk mengunci jeritan amarah agar tidak meledak menjadi air mata yang memalukan di depan orang luar.
Pos penjagaan ini adalah tempat di mana kepalsuan tata krama istana dikuliti habis hingga menyisakan tulang-belulang keputusasaan hidup. Meja kayu jati di tengah ruangan berlumur lingkaran noda tuak yang mengering, serpihan abu tembakau nipah yang terinjak-injak, mangkuk tanah liat berisi sisa minyak babi pembasmi karat, dan tumpukan manifes perdagangan lintas wilayah yang ujung-ujungnya telah hangus tersengat lidah lilin. Kemuning menempuh jarak tiga puluh li menembus belukar hutan jati tanpa iring-iringan kereta kencana, melarikan diri dari sangkar emas paviliunnya hanya untuk satu tujuan: menatap langsung sepasang mata kelam milik lelaki yang selama sepekan terakhir telah memelintir akal sehat dan kedamaian tidurnya menjadi neraka prasangka.
"Jika Yang Mulia berniat mencari kepala juru masak istana yang kabur membawa lari tiga ekor bebek panggang madu," sebuah suara bariton renyah beraksen pesisir tiba-tiba membelah denging sunyi dari balik tumpukan karung goni di ambang pintu, "hamba dengan segala kerendahan hati menyarankan Tuan Putri memeriksa warung tuak Pak Jabat di seberang dermaga timur, bukan di pos perbatasan berkabut yang kutu anjingnya sanggup menembus tiga lapis celana kulit prajurit ini."
Viqar bin Samudra melangkah masuk ke dalam lingkaran cahaya temaram lentera minyak jarak dengan kelenturan gerak seorang penjelajah samudra yang terbiasa menjaga keseimbangan di atas geladak kapal oleng. Mantel kanvas kasarnya berlumur debu kapur perbukitan selatan, kancing kuningan teratasnya terlepas sembrono menampakkan pangkal leher jenjang yang kecokelatan terpanggang terik garam laut. Di jemarinya yang ramping namun dipenuhi kapalan tebal bekas tali temali tempaan belati, ia memutar sebatang kuas cina dengan keterampilan luar biasa, seolah benda itu adalah sebilah belati terbang yang siap menembus jantung siapa pun. Senyum miring yang amat dikenali Kemuning terkembang di bibirnya—senyum dengan satu lesung pipit di pipi kiri yang telah memenangkan puluhan konsesi tambang di meja perundingan, namun kini terasa bagai ejekan telanjang di hadapan sang putri.
"Sungguh sebuah pemandangan yang menggetarkan sanubari," sambut Kemuning, suaranya diatur sedatar mungkin, dingin memotong udara lembap pos jaga kendati rongga dadanya bergolak hebat. "Duta Agung Kerajaan, diplomat termahal yang gaji tahunannya sanggup membeli separuh sawah kadipaten kulon, kini beralih profesi menjadi kuli angkut pos tapal batas. Katakan padaku, Viqar, apakah perbendaharaan istana bangkrut hingga kau harus turun tangan mencium bau busuk karung ikan asin di waktu maghrib begini?"
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Viqar tertawa pendek, suara tawa yang begitu lepas dan merdu hingga untuk sekejap ruangan sempit itu terasa sedikit lebih manusiawi. Ia meletakkan kuas tintanya di atas meja yang kotor, menepis debu dari bahunya dengan gerak teatrikal yang disengaja. "Ah, Puteriku yang mulia, jangan sekali-kali menghina martabat ikan asin. Garam dan ikan asin adalah tiang penyangga imperium agung ini. Para jenderal bertubuh baja yang berbaris gagah di alun-alun itu akan menangis tersedu-sedu dan menolak mengangkat tombak jika ransum ikan asin mereka terlambat tiba di barak. Dan jujur saja, aroma terasi pesisir di meja ini jauh lebih jujur serta menyegarkan ketimbang minyak wangi kesturi para bangsawan balairung istana yang wanginya menyengat hidung, tetapi di dalam hatinya sarat dengan niat saling meracuni cawan anggur."
"Cukup kelakar murahanmu, Tuan bin Samudra," potong Kemuning, melangkah maju dua tapak hingga aroma lavender dari jubahnya mendesak mundur bau apek tembakau di ruangan itu. Sorot matanya menghunjam tanpa ampun, menyusup ke balik senyum manis lelaki itu. "Kau tidak sedang menghitung pasokan ikan asin. Kau tidak sedang mencatat karung garam. Dan kau jelas tidak sedang menanti saudagar beras dari lembah selatan yang malang."