Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #13

Bisikan Dayang Istana

Kenyataan pahit menyeruak melalui obrolan para pelayan istana. Gaun pengantin telah dipesan, namun bukan untuk Kemuning.

POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Dapur Ageng Kadipaten |

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


BAGIAN I: MENYUSUP KE BALIK ASAP & REMPAH

☼

Bau kapulaga sangrai dan minyak kelapa mendidih menyergap rongga hidung Kemuning sebelum ujung selop beludrunya bahkan sempat menyentuh pelataran belakang Dapur Ageng. Asap kelabu mengepul pekat dari celah-celah genting tanah liat, menggulung bersama uap kaldu kuah bebaluk yang bergolak di dalam kawah tembaga raksasa. Di tempat inilah denyut lapar kadipaten dipadamkan, namun malam ini, bagi Kemuning, tempat ini adalah sarang bisik-bisik paling berbisa di seluruh benteng Wanayasa.

Ia telah menanggalkan kemben sutra prada kencana dan sanggul agungnya yang berat sejak lonceng tabuh asar berdentang. Kini, hanya berbalut kebaya katun lurik warna nila kusam milik seorang dayang rendahan—yang ia pinjam tanpa izin dari bilik jemuran barat—ia melangkah jinjit di atas lantai bata merah yang licin oleh cipratan santan dan jelaga. Setiap gesekan kain pada kulitnya terasa seperti duri semak; bukan karena kasarnya tenunan desa, melainkan karena martabat seorang putri mahkota kadipaten yang terpaksa merangkak layaknya pencuri di rumahnya sendiri.

Di balik sekat kayu gebyok jati berukir sulur kangkung yang menghitam dimakan usia, Kemuning menahan napas. Jantungnya berdegup begitu keras hingga ia cemas dentumannya akan mengalahkan derak kayu bakar di liang perapian anglo. Matanya nanar menyapu sudut-sudut ruangan: tumpukan keranjang bambu berisi kemiri kupas, jajaran kendi arak beras, dan sebuah meja kayu nangka panjang tempat bumbu-bumbu ditumbuk dengan alu batu yang tak henti-hentinya berderak berirama.

Tujuan Kemuning datang ke liang panas ini bukanlah demi mencuri resep rahasia opor angsa kesukaan adipati sepuh. Bukan pula untuk menghirup udara berjelaga yang membuat matanya yang bundar berair. Ia mencari peti kurir. Berita yang dibawa telik sandi dari gerbang pelabuhan dua malam lalu menyebutkan bahwa sebuah kiriman tertutup berikat rami rumbia telah diselundupkan bersama gerobak garam pesisir, dan atas perintah juru gudang dalam, peti itu dititipkan di sudut gudang bumbu Dapur Ageng agar luput dari pengawasan para punggawa istana selatan.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


BAGIAN II: GURAUAN RENYAH DI DEPAN LIANG API

☼

"Heh, Sambi! Matamu itu ditaruh di mana, bocah gering?!" Suara serak dan melengking milik Mbok Warni mendadak membelah riuh dapur bagai petir di musim labuh. Wanita tambun berpinggul lebar itu menepuk kukusan bambu dengan centong kayu kelapa hingga berdebam nyaring. "Bawang merah itu diiris tipis-tipis menyerupai kuping jangkrik, bukan dicacah kasar macam pakan kerbau balapan! Mau kau suguhkan sambal goreng yang bikin para nayaka istana tersedak lalu memuntahkan giginya di hadapan Gusti Adipati?"

Dayang Cempaka, gadis berusia belasan dengan pipi penuh bedak pupur beras yang cemong oleh abu arang, menjulurkan lidahnya seraya mengusap peluh di kening dengan ujung selendang gombal. "Aduh, Mbok Warni yang semampai bak pohon randu alas! Jangan suka marah-marah saat mengaduk kuah asam, nanti kuahnya ikutan kecut seperti raut wajah juru timbang garam. Lagipula, siapa suruh Ki Lurah Jagal tadi memotong daging kijangnya sebesar kepalan tangan prajurit garda depan? Katanya biar para menteri cepat kenyang dan tidak banyak cerewet menanyakan anggaran bedil mesiu!"

Dari sudut pemotongan daging, Ki Jagal Kardi yang mengenakan caping pandan bolong terbahak hingga kumis baplangnya berguncang-guncang. "Sembarangan kalau menuduh, Nduk! Daging kijang hutan Roban ini liatnya mengalahkan tekad janda mencari suami baru. Kalau tidak dipotong besar, bisa-bisa hancur lebur jadi bubur sebelum sempat dicicipi Pangeran Ghazanfar. Ngomong-ngomong soal Pangeran, apa benar malam ini beliau minta disajikan pindang serani khas pesisir? Lidah beliau ini aneh-aneh saja, biasanya doyan lodeh jantung pisang buatan Kadipaten Selatan, kenapa mendadak berselera air asin?"

Lihat selengkapnya