Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #14

Kunjungan Tak Terduga

Pertemuan dramatis dua wanita yang sama-sama menjadi bidak catur di tangan keraguan dan ambisi keluarga Ghazanfar.

POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Pendopo Luar Kadipaten Waringin Jajar | Waktu: Sore Menjelang Senja

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


BABAK I: ORIENTASI & KETEGANGAN PENANTIAN

☼

Derak roda kereta kayu jati berlapis perunggu itu sudah terdengar bergema halus, membentur bebatuan jalanan bahkan sebelum panji bersulam naga laut dari Pesisir Barat tampak meliuk-liuk gagah di celah gerbang Waringin Jajar. Sore itu, udara di seluruh pelataran Kadipaten terasa melengket dan menusuk, dipadati oleh sisa gerimis musim pancaroba yang tak kunjung tuntas meresap ke dalam bumi.

Aroma tanah basah dan dedaunan membusuk bertarung sengit dengan kepulan wangi ratus melati serta membumbungnya asap dupa yang sengaja ditebarkan para abdi. Itu adalah sebuah upaya panik yang konyol dari para juru tata krama istana—sebuah sandiwara harum untuk menyamarkan kenyataan pahit bahwa Kadipaten pedalaman ini sesungguhnya sedang membusuk dari dalam oleh kasak-kusuk politik, perebutan pengaruh, dan utang kehormatan yang menumpuk.

Aku berdiri kaku di undakan teratas Pendopo Luar, meremas kuat-kuat ujung selendang sutra ungu tua bermotif megamendung yang melingkari lenganku. Dinginnya kain sutra kualitas terbaik itu sama sekali tak mampu meredam debar yang bergemuruh kencang di dalam rongga dadaku. Hari ini, sang takdir nampaknya memutuskan untuk melemparkan lelucon paling kejam dan menyakitkan tepat ke hadapan wajahku: rombongan tamu kehormatan dari pesisir utara meminta izin untuk singgah satu malam sebelum bertolak menuju ibu kota Kadipaten Agung.

Dan di antara puluhan prajurit berkuda, iring-iringan pembawa peti harta, serta kereta kencana yang megah itu, terselip satu nama yang selama tiga purnama terakhir berbisik bagai kutukan beracun di telingaku—Puteri Anindya dari Kadipaten Karang Segara.

"Tuan Putri," bisik Mbok Sumi dari balik bahu kiriku. Suara dayang sepuh itu terdengar sengau, sarat akan rasa prihatin sekaligus sarkasme tajam yang telah terasah selama empat puluh tahun mengabdi di lingkungan ningrat yang penuh racun. "Bila senyummu terus kau tarik sekaku dan sekeras itu, pipimu bisa patah menjadi dua bagian sebelum tamumu sempat melangkah dan mencicipi wajik ketan di atas talam. Tarik napas, Ndoro Ayu. Tunjukkan bahwa darah raja-raja pedalaman tidak akan pernah gentar hanya karena disapa oleh bau amis garam laut dan deretan dayang berbedak setebal dempul dinding benteng."

Sebuah dengusan geli yang getir hampir saja lolos dari bibirku, mengancam akan meremukkan topeng wibawa yang telah susah payah kupasang sejak matahari terbit dari ufuk timur. Hanya Mbok Sumi yang berani dan memiliki kelonggaran untuk berbicara selancang itu tepat di hadapan seorang putri darah murni. Namun anehnya, kelakar getir abdi tua itulah satu-satunya jangkar kenyataan yang menahanku agar tidak hanyut dan tenggelam dalam jurang histeria emosional.

"Aku tidak mencemaskan bedak atau perhiasan mereka, Mbok," balasku lirih melalui sudut bibirku tanpa sedikit pun menoleh. "Aku mencemaskan bagaimana caranya menatap mata seorang perempuan yang kini digadang-gadang oleh para tetua keluarga Ghazanfar untuk mendampingi Viqar di atas singgasana keprajuritan tertinggi."

"Halah! Pria yang namanya Viqar Ghazanfar itu saja kepalanya lebih sering dipenuhi abu mesiu, ambisi kosong, dan perintah membabi buta dari ayahnya daripada isi otaknya sendiri!" gerutu Mbok Sumi seraya pura-pura membetulkan lipatan stagen di pinggangku dengan tarikan yang kelewat kencang hingga membuatku hampir terengah. "Kalau bukan karena kuda hitamnya yang gagah dan parasnya yang lumayan tampan, Viqar itu tak ubahnya mandor gudang beras di pasar Wage—terlalu banyak berjanji dan bersumpah, tapi selalu lupa menakar isi lumbungnya sendiri!"

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


BABAK II: KETIBAAN SANG TAMU & KEJUTAN KARAKTER

☼

Sebelum aku sempat memprotes kelancangan Mbok Sumi yang menghujat sang komandan muda, arak-arakan kereta utama itu akhirnya berhenti tepat di bawah undakan teras pendopo. Pintu kereta kencana utama yang terbuat dari kayu mahoni bertatahkan ukiran cangkang mutiara berkilauan terbuka perlahan-lahan. Dua orang prajurit pesisir bertubuh tegap berzirah kulit penyu segera merendahkan tangga tumpuan kayu berukir.

Seketika itu juga, suasana di sekitar pelataran menghening. Semua orang menahan napas. Para tetua kadipaten dan pejabat keraton yang berdiri berjejer di samping kanan dan kiriku refleks menegakkan punggung, memasang wajah agung untuk menyambut sosok putri pesisir yang menurut kabar burung memiliki keanggunan sedingin dan seangker ombak samudra selatan.

Namun, apa yang terjadi dalam hitungan detik berikutnya secara brutal memporak-porandakan seluruh naskah keagungan dan tata krama kaku yang telah dirancang oleh juru wicara keraton selama berhari-hari.

Bukannya turun dengan langkah pelan dan gemulai bak bidadari yang baru menapakkan kaki di telaga nirwana, perempuan muda berbusana sutra hijau toska bersulam benang perak itu justru melompat turun dari pintu kereta dengan tergesa-gesa. Begitu kakinya menyentuh tanah, ia langsung memegangi pinggang belakangnya seraya mengaduh nyaring tanpa memedulikan puluhan mata yang menatapnya melotot.

Lihat selengkapnya