Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #15

Antara Janji Hampa dan Nyata

Katalogisasi luka hati. Setiap untai kata manis yang pernah dibaca kini terasa bagai jarum yang menusuk ingatan.

POV: Puteri Kemuning·Teras Kamar Kemuning, Waktu Dini Hari.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


BABAK I: ORIENTASI DAN PEMBUKAAN (Eksposisi & Suasana Malam)

☼

Dini hari di Paviliun Barat Kadipaten selalu berbau embun yang menusuk dan kesunyian yang dingin. Jam air keraton baru saja menjatuhkan tetesannya yang kedua puluh empat ketika aku melangkah keluar menuju teras kayu kamarku. Suara denting air yang ritmis itu terdengar seperti detak jantung seorang prajurit menjelang hukuman mati—pelan, pasti, dan tanpa ampun.

Dari ambang teras lantai dua ini, atap-atap kadipaten yang terbuat dari serat ijuk hitam tampak menyerupai punggung naga raksasa yang tertidur lelap di bawah selimut kabut putih kelabu. Suara jangkrik malam terdengar nyaring bersahutan dari arah taman bawah, beradu dengan desau angin gunung yang menyusup kasar di sela-sela rerimbunan daun pohon kemuning di pelataran. Bau harum Bunga Kemuning yang menyeruak di malam hari biasanya memberi ketenangan, namun malam ini, aroma itu justru terasa seperti bau wewangian di ruang jenazah.

Di kedua tanganku, sebuah kotak kayu cendana terasa amat berat. Kayu itu berpahat sulur bunga melati dan sepasang kijang kencana—sebuah karya ukir jempolan dari pengukir istana atas perintah Viqar Ghazanfar. Itu adalah hadiah pertama yang diberikannya padaku saat ia pulang membawa kemenangan pertamanya dari Pertempuran Lembah Tembaga tiga tahun lalu. Ukiran kijang kencana itu dulunya melambangkan kesucian dan keberanian. Kotak itu tidak dikunci, engsel peraknya sedikit berderit setiap kali terguncang, namun selama sembilan bulan terakhir, kotak kecil ini terasa lebih rapat dan lebih gelap daripada makam para pangeran leluhur.

"Angin malam di teras ini cukup tajam untuk membuat seorang putri terkena batuk darah, Ndoro," sebuah suara serak dan sarat kekhawatiran memecah keheningan malam.

Mbok Sumi muncul dari balik tirai beledu sutra bernuansa hijau zamrud yang membatasi kamar tidurku dengan teras luar. Langkah kakinya yang tak bersuara membawanya mendekat. Di jemarinya yang legam dan keriput, ia membawa mangkuk tanah liat yang mengepulkan uap panas berasap aroma jahe bakar, cengkih, dan kayu manis.

"Tidurlah, Mbok," sahutku pelan tanpa beralih pandang dari kegelapan. Pandanganku tetap terpancang pada lentera minyak jarak yang terombang-ambing ditiup angin di tiang teras, memantulkan bayangan membayang yang menari-nari di atas lantai jati. "Malam ini terlalu bising untuk tidur."

Mbok Sumi meletakkan mangkuk tanah liat itu di atas meja kayu kecil berkaki lengkung di samping pembaringanku luar, lalu melirik kotak cendana yang kupeluk erat di pangkuan. Matanya yang cekung, dilindungi oleh selapis kelopak mata berkerut akibat dimakan usia, tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun. Abdi tua yang telah mengasuhku sejak pusarku dipotong itu tahu persis apa isi peti kecil tersebut. Dialah yang dulu menyembunyikannya di balik tumpukan kain batik di lemari pakaian tersembunyi sewaktu para juru periksa kadipaten mendatangi paviliunku atas perintah Ayahanda, saat desas-desus kedekatanku dengan perwira muda perkasa itu mulai merebak di balik dinding istana.

"Bising bukan di luar, Tuan Putri," tukas Mbok Sumi dengan kelugasan khas orang desa yang tak pernah berkurang, meski ia telah bertahun-tahun menghirup udara istana. "Bising itu ada di dalam batok kepalamu. Sejak Puteri Anindya yang ceria seperti burung kepodang itu tiba tadi sore membawa rombongan kereta kencana dari pesisir, isi kepalamu sudah berubah jadi medan perang Kurusetra. Apa yang kau tunggu dari kotak terkutuk itu? Menunggu aksara di dalamnya berubah menjadi emas? Ataukah menunggu seorang prajurit melompati pagar paviliun ini demi memeluk kaki Ndoro?"

Aku tersenyum tipis—sebuah getiran yang tercekat di kerongkongan bagai duri ikan. "Mbok, janji seseorang terkadang membakar kita lebih hebat dari api unggun."

"Pria yang janjinya semurah kuah sayur kemarin sore tidak pantas membuatmu begadang sampai matamu bengkak seperti katak sawah, Ndoro Kemuning," tegas Mbok Sumi tanpa ragu.

"Kuah sayur kemarin sore setidaknya masih bisa mengenyangkan perut orang lapar, Mbok," bisikku, mataku menatap ukiran sepasang kijang kencana di atas kayu cendana. "Janji Viqar... janji Viqar hanya mengenyangkan angan-angan kosong seorang gadis naif yang terlalu banyak membaca kidung percintaan."

Mbok Sumi menghela napas panjang. Udara dingin keluar dari hidungnya dalam bentuk uap tipis. Ia melangkah mendekat, memposisikan tubuhnya di samping kursi jatikusuma tempatku duduk. Tangannya yang kasar, penuh kapalan bekas menumbuk jamu dan memeras kain selama puluhan tahun, terulur dan menyentuh bahuku. Sentuhan itu hangat, jujur, dan sarat akan perlindungan yang hakiki—sebuah sentuhan maternal yang menghangatkan jiwaku lebih dari apa pun yang pernah ditawarkan oleh keagungan dan kemewahan dinding-dinding istana ini.

"Maka muntahkanlah angan-angan itu sekarang juga sebelum ia berubah menjadi racun yang menggerogoti ususmu sampai pembuluh darahmu membusuk," sahut Mbok Sumi tandas. tangannya mengusap puncak kepalaku pelan. "Aku akan berjaga di depan pintu. Jika Ndoro butuh api untuk membakar kebodohan masa lalu, panggil saja aku. Jangan ragu menyalakan lentera kebebasanmu sendiri. Kadipaten ini membutuhkan seorang ratu yang tangguh, bukan seorang putri yang meratapi bayangan di bawah bulan bungkuk."

Langkah kaki Mbok Sumi menyeret kain tapihnya perlahan menghilang di balik tirai beledu. Suara selot pintu kayu yang terkunci berdentang halus. Kini, tinggal aku sendirian di teras. Tinggal aku, malam yang kian membeku, dan seonggok masa lalu yang menanti penghakiman mutlak di atas meja kayu.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


BABAK II: KOMPLIKASI & PEMBUKAAN KOTAK (Menghadapi Kenangan Luar)

☼

Kutarik napas dalam-dalam, membiarkan udara dingin merasuk hingga ke celah-celah paru-paruku, mencoba mengusir rasa gundah yang menyumbat dada. Jariku yang ramping dan agak gemetar merayap menuju engsel perak kotak cendana itu. Dengan dorongan kecil, kutingkatkan penutupnya perlahan.

Kriiek...

Seketika itu juga, bau wangi cendana tua yang pekat dan memabukkan menyeruak ke udara malam, bercampur dengan aroma khas kertas lontar apak, bau tinta jelaga yang mengering, serta wangi samar kelopak bunga mati yang telah hancur menjadi serbuk kecokelatan. Di dalamnya tersimpan seluruh katalogisasi luka hatiku—sebuah museum miniatur dari cinta yang mati membusuk sebelum sempat membuah.

Lihat selengkapnya