Sudut pandang Viqar membongkar kelemahannya: ketidakmampuan berkorban dan ketakutan menanggung stigma pencoreng nama keluarga.
POV: Viqar Ghazanfar | Lokasi: Balairung Dewan Tetua Ghazanfar
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
KETUKAN 1: KETUKAN I: PERDEBATAN SENGIT DI BAWAH TATAP MATA KACA
☼
Aroma cendana di Balairung Ghazanfar selalu memiliki bakat purba untuk membangkitkan rasa mual di perutku. Bukan cendana segar dari perbukitan barat yang wangi getahnya membasuh paru-paru, melainkan cendana apak peninggalan dua generasi silam—dupa murah yang dibakar berlebihan demi menyamarkan bau kayu jati lapuk dan kepicikan orang-orang tua yang menolak mati.
Lantai marmer abu-abu di bawah sepatu lars kulitku terasa dingin menusuk, seolah-olah seluruh kehangatan musim kemarau tersedot habis ke liang lahat para leluhur yang potret minyaknya berjajar kaku di sepanjang dinding. Dua belas kursi berukir garuda patah sayap membentuk setengah lingkaran di depanku. Di atas kursi-kursi itu, tujuh orang tetua duduk bergeming laksana arca batu berbalut beludru ungu. Jenggot putih mereka menjuntai hingga dada, tampak begitu suci seandainya saja mata mereka tidak berkilat-kilat lapar seperti burung bangkai yang mengendus bau bangkai kuda.
"Dua langkah lagi maju, Viqar, dan kau akan menginjak lambang matahari pusaka di lantai itu," bisik Aryo Damar di samping bahu kiriku. Suara sahabat karib sekaligus pengawal berkepala dingin itu begitu datar, nyaris tak tertangkap oleh desau angin senja yang menyusup lewat kisi-kisi jendela.
"Aku tahu batas jalanku, Aryo," gumamku dari balik gigi yang beradu.
"Baguslah. Karena jika kau tersandung kain sarung kebesaranmu sendiri di depan pamanmu, aku bersumpah tidak akan menopangmu. Aku dibayar untuk menangkis anak panah musuh, bukan menanggung rasa malu seorang bangsawan yang kakinya gemetar memikirkan gadis pemetik jeruk."
Aku meliriknya tajam lewat ekor mata. Aryo hanya mendengus geli, merapikan sarung belati di pinggangnya dengan santai. Kejenakaan kering dan sarkasme pria itu terkadang menjadi satu-satunya jangkar yang menahanku dari terjun bebas ke dalam jurang kegilaan martabat Ghazanfar.
"Viqar Ghazanfar," suara serak bergetar memecah keheningan ruangan. Suara itu berasal dari kursi tengah, tempat Paman Bahir duduk bersandar. Di usianya yang menginjak enam puluh lima tahun, pamanku itu masih memiliki sepasang mata elang yang mampu menelanjangi kepalsuan siapa pun yang berdiri di hadapannya. Cincin batu giok di jari telunjuknya mengetuk-ngetuk sandaran tangan kursi dengan irama yang meremukkan saraf.
"Hamba hadir memenuhi panggilan Dewan Tetua, Paman," ujarku seraya membungkuk seringkas mungkin—cukup rendah untuk dianggap sopan, namun cukup kaku untuk menandaskan bahwa aku belum menyerah.
"Panggilan?" Paman Bahir terkekeh sumbang. Tiga tetua di sisi kanannya ikut tersenyum tipis, menampilkan deretan gigi berkarat sirih. "Kau menyebut titah para pengawal wangsamu sekadar 'panggilan', seolah-olah kau baru saja dipanggil untuk menikmati secangkir wedang jahe di beranda belakang? Kami menunggumu sejak fajar merekah, keponakanku. Ke mana larinya keberanian darah Ghazanfar yang konon sanggup membelah ombak selatan?"
"Kuda hamba kehilangan ladam di lereng berbatu, Tetua Martokusumo," jawabku berdusta tanpa berkedip. "Dan jalanan berlumpur sehabis hujan rintik semalam menuntut kehati-hatian."
"Ah, tentu saja! Ladam kuda," sambung Martokusumo, tetua yang paling gemar menjilat paman Bahir. Pria sepuh itu mengelus janggutnya yang kusut. "Atau mungkin ladam kudamu terlalu betah merumput di dekat pekarangan pondok kebun jeruk di perbatasan lembah? Kudengar bunga-bunga jeruk di sana sedang mekar harum... begitu harum hingga membuat seorang pewaris melupakan perjanjian armada laut pesisir."
Darahku berdesir panas. Aryo berdeham pelan di belakangku, jari telunjuknya mengetuk pelindung pedangnya dua kali—isyarat sandi kuno kami sejak masa remaja: *tahan amarahmu, lubang jebakan sedang digali.*
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
KETUKAN 2: KETUKAN II: BAU KARAT TEMBAGA DAN BAYANGAN ALMARHUM AYAH
☼
Aku menarik napas panjang, membiarkan aroma cendana menyengat kerongkonganku. "Hamba datang kemari bukan untuk memperdebatkan bunga jeruk ataupun ladam kuda. Hamba datang untuk membawa pertimbangan nalar yang jernih. Pertunangan pesisir itu... aliansi dengan Wangsa Sagara Manik... harus ditinjau ulang. Atau dibatalkan."
Kata 'dibatalkan' meluncur dari bibirku laksana batu kerikil yang dilemparkan ke danau beku. Riaknya seketika menyentak seisi balairung.
Seorang tetua di sayap kiri terbatuk keras hingga ludahnya memercik ke lantai. Paman Bahir tidak bergerak sedikit pun. Gerakan ketukan cincin gioknya terhenti seketika. Balairung itu mendadak begitu senyap, hingga derit pelan kayu atap yang digoyang angin terdengar seperti pekik peringatan.
"Dibatalkan?" bisik Paman Bahir. Nada suaranya turun dua oktaf, menjadi desis dingin yang lebih berbahaya ketimbang teriakan murka. "Begitu mudahnya lidah mudamu melafalkan kehancuran keluarga ini. Kau mengira perkawinan dengan putri bangsawan pesisir adalah tawar-menawar sayur mayur di pasar Kamis?"
"Wangsa Sagara Manik menuntut penguasaan mutlak atas tiga dermaga hilir kita, Paman!" sergahku, melangkah maju setengah tapak. Suaraku menggema di antara tiang-tiang jati berukir. "Mereka meminta hak pungut cukai garam selama tiga puluh tahun ke depan! Itu bukan persekutuan kehormatan. Itu perbudakan ekonomi yang dibungkus dengan kain sutra pengantin! Dan hamba menolak menjadi pion yang mengantarkan kunci lumbung leluhur kita ke tangan saudagar tamak pesisir!"
"Bicara yang bagus. Sangat puitis dan berwibawa," Paman Bahir bertepuk tangan pelan tiga kali. Suara tepukannya kering, hampa, dan menusuk jantung. "Ayahmu, almarhum Adhiraj, juga memiliki lidah perak yang persis seperti itu saat ia masih seusiamu. Selalu bicara soal kedaulatan, martabat leluhur, dan keluhuran budi para kesatria pegunungan."
Penyebutan nama ayah membuat lambungku berdenyut ngilu.
Dalam ingatanku, Ayah adalah sosok gunung karang yang tak tergoyahkan. Pria jangkung beraroma tembakau kapur sirih yang mengajariku memegang busur panah di bawah terik matahari perbukitan. Namun di sudut terdalam memoriku, tersimpan sebuah celah gelap yang selalu kucoba kubur: malam kelam saat usiaku baru sepuluh tahun, ketika pintu bilik kerja Ayah terbuka sedikit, dan aku melihat pahlawan perkasaku itu tersungkur berlutut di lantai dengan bahu terguncang tangis di hadapan utusan pesisir berjubah beludru hitam.