Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #17

Malam Tanpa Bintang

Malam titik balik psikologis. Kemuning berhenti meratapi nasib dan mulai merancang penuntutan jawaban tegas.

POV: Puteri Kemuning·Puncak Menara Pengintai Kadipaten.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Malam itu, langit di atas Kadipaten Waringin Jajar runtuh dalam kepekatan yang tak menyisakan sebutir pun noktah perak. Tidak ada rembulan yang melengkung angkuh, apalagi gerombolan bintang yang sudi mengintip di antara gumpalan mendung pejal. Semuanya serba hitam, padat, dan pejal—seolah-olah dewata penjaga cakrawala telah menumpahkan sebalanga penuh tinta arang ke atas kubah bumi, lantas menutupnya rapat-rapat dengan tudung beludru basah yang kedap cahaya. Kegelapan itu bukan sekadar ketiadaan pendar, melainkan sebuah kehadiran yang menekan, sebuah ruang hampa raksasa yang menelan seluruh warna, menyisakan kesenyapan yang begitu rapat hingga desah napas sendiri terdengar laksana guntur tertahan.

Di ketinggian seratus dua puluh kaki dari pelataran keraton, tepat pada bibir terluar balkon Menara Pengintai Barat, Puteri Kemuning Ratnadewi berdiri mematung. Angin lembah yang berhembus liar dari ngarai Sungai Brantas menyambar parasnya tanpa secuil pun belas kasihan. Hawa dingin yang mengangkut uap basah hutan perbukitan itu menyusup licik melalui pori-pori kain sutra jingga mudanya, mengikis sisa kehangatan kulit, menusuk persendian belulang, lalu merayap ke rongga dadanya bagai ratusan jarum es halus. Seharusnya ia menggigil hebat. Seharusnya seorang puteri kadipaten yang sejak buaian terbiasa diselimuti kain beludru tebal di bangsal keputren akan bergegas turun seraya memanggil dayang pemanas dupa. Namun Kemuning justru sengaja menyodorkan dadanya ke hadapan amukan badai malam. Baginya, rasa perih yang nyata dari tamparan angin jauh lebih masuk akal—jauh lebih jujur—daripada kebasnya rasa sakit yang mengendap di ulu hatinya selama empat belas purnama.

Batu-batu andesit purba tempat sepasang alas kakinya bertumpu terasa sedingin lantai liang lahat. Lumut kerak yang menempel pada celah-celah batu meriam mengeluarkan aroma khas yang menusuk hidung—perpaduan antara tanah basah yang membusuk, lumut tua bergetah, dan karat besi dari moncong meriam peninggalan kakek buyutnya. Meriam perunggu bernama Kiai Guntur Kala itu berdiri membisu di sampingnya, dengan laras panjang berdiameter dua jengkal yang menganga pongah ke arah barat laut. Dulu, kata para juru babad keraton, moncong perunggu itulah yang memuntahkan timah panas membara demi memorak-porandakan barisan penjarah kadipaten yang hendak menerobos gerbang barat. Kini, meriam perkasa itu tak lebih dari sebongkah logam dingin berlumut yang membisu, menjadi saksi bisu betapa seorang keturunan trah Rajasa tengah kalah telak melawan sebentuk keraguan yang bahkan tak memiliki wujud fisik.

"Kau lihat dirimu sekarang, Kiai Guntur?" bisik Kemuning parau, jemarinya yang lentik menyentuh bibir meriam yang dingin dan berpatina kehijauan kasar. "Bahkan kau yang sanggup meruntuhkan dinding benteng musuh pun tak berdaya ketika ditikam oleh waktu yang diam membatu. Kita berdua sama-sama menyedihkan: kau menunggu perintah perang yang tak akan pernah dititahkan, dan aku... aku menunggu seorang lelaki yang gemar mempermainkan arah mata angin."

Di kejauhan, hutan randu alas yang membentang di kaki perbukitan kadipaten bergoyang laksana samudra hitam bergelora. Pohon-pohon raksasa itu meliuk-liuk di bawah cambukan angin, desau ranting keringnya berderak menyeramkan seperti rintihan prajurit yang meregang nyawa di medan laga. Bunyi kepak sayap kelelawar pemakan buah melintas cepat di atas kepalanya, disusul jerit parau burung hantu kukuk dari atap menara lonceng. Semesta seakan berkonspirasi memantulkan kekosongan jiwanya. Namun, kesunyian yang mencekam itu tiba-tiba terkoyak oleh bebunyian yang sama sekali tidak puitis: suara tarikan napas pendek yang megap-megap, disusul benturan beruntun antara bakiak kayu kelapa dan anak tangga batu andesit yang berderak canggung.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Bagian II: Kepulan Wedang Jahe dan Filosofi Bakiak

Celoteh Mbok Gendhis Membelah Kesakralan Duka

☼

"Duh Gusti Pangeran Jagad Batara... Hyang Mami Sang Penjaga Neraka Jahanam! Kalau tahu Gusti Puteri sedang bertapa mencari ilham kuntilanak di puncak menara ini, sumpah demi sumpah hamba tadi pasti menyewa dua kuli panggul pasar Klewer untuk menggotong pantat hamba yang melar ini!"

Sebuah kepala dengan gelung konde miring ke kiri mencuat lebih dulu dari lubang palka tangga lantai atas, disusul oleh paras bulat tembam yang memerah matang laksana kepiting rebus tersengat kuah santan. Mbok Gendhis, sang emban sepuh yang telah menyeka ingus Kemuning sejak tali pusarnya dipotong dengan sembilu bambu kuning empat puluh tahun silam, melangkah gontai keluar ke pelataran terbuka menara. Kedua tangannya yang gempal mencengkeram erat sebuah bakul anyaman bambu tali bertutup kain mori putih. Napas perempuan tua itu berhamburan seperti embusan ubupan pandai besi yang kehabisan arang jati.

"Mbok?" Kemuning menoleh cepat. Keterkejutannya membuyarkan pose agung melankolisnya, namun kedua sudut bibirnya yang semula membeku kini berkedut menahan senyum geli. "Bagaimana mungkin kakimu yang kemarin merintih linu sanggup memanjat seratus delapan anak tangga batu ini tanpa roboh di bordes tengah?"

"Jangan menyebut angka seratus delapan itu di depan muka hamba, Gusti! Mendengarnya saja membuat betis hamba berkedut seperti cacing kepanasan!" gerutu Gendhis seraya mengempaskan tubuh sintalnya ke atas sebongkah balok kayu jati bekas dudukan peluru meriam. Bunyi 'krieeek' yang panjang dan memilukan terdengar dari balok malang tersebut, seolah kayu berusia seabad itu tengah bersiap membelah diri menjadi dua. "Arsitek kadipaten masa lampau yang merancang menara ini pastilah orang kerdil yang hatinya dipenuhi dendam kesumat kepada kaum bertubuh subur berkah laksana hamba! Setiap undakan tingginya setengah jengkal lebih jangkung dari lutut normal manusia waras. Dan demi Hyang Widhi, untuk apa hamba merelakan tulang selangkangan hamba berderit lepas sendi? Demi mengantarkan penyelamat nyawa ini!"

Dengan gerakan dramatis yang menyerupai aksi pendeta membuka peti pusaka suci, Gendhis menyibakkan kain mori penutup bakulnya. Aroma tajam yang memabukkan dan luar biasa nikmat seketika menyeruak di udara menara, mengusir bau lumut busuk dan dinginnya embun malam: uap pedas manis dari wedang jahe merah emprit yang direbus lama bersama sereh gepuk, cengkeh hutan, kapulaga, dan gula kelapa tua beraroma sangit, berdampingan dengan dua kerat ubi madu bakar yang kulitnya merekah kehitaman memperlihatkan daging jingga yang melelehkan sari karamel hangat.

"Minum ini sebelum paru-parumu yang halus itu membeku menjadi es serut!" sergah Gendhis seraya menyodorkan sebuah cangkir tanah liat tebal yang mengepulkan asap putih tebal langsung ke depan hidung Kemuning. "Seorang puteri darah biru trah Rajasa boleh saja patah hati, Gusti. Boleh berteriak histeris, boleh menangis tersedu-sedu sampai kolam teratai keputren meluap menenggelamkan ikan mas koki. Tapi kalau sampai mati konyol gara-gara masuk angin duduk di atas menara pengintai di tengah malam buta begini... walah, sungguh itu aib terbesar dalam sejarah peradaban tanah Jawa!"

Gendhis menarik napas panjang, meniup uap cangkirnya sendiri lalu melanjutkan dengan mimik muka sok serius yang teramat jenaka: "Bayangkan apa yang akan ditulis para empu sastrawan babad kadipaten seratus tahun lagi: 'Dukacita melanda negeri; Puteri Kemuning yang masyhur rupawan gugur bukan karena tikaman keris Kyai Sengkelat, bukan pula karena racun upas mata panah musuh, melainkan karena menolak memakai selendang tebal dan hobi menantang angin malam demi memikirkan seorang lelaki pesolek yang bahkan tidak ingat ukuran sandalnya!' Mau ditaruh di mana muka leluhurmu di alam baka, Gusti?"

Kemuning tak sanggup lagi mempertahankan wibawa keratonnya. Gelak tawa renyah menyembur dari tenggorokannya—sebuah tawa lepas yang begitu murni, menggema menabrak dinding batu menara. Sudah berapa bulan ia tidak tertawa seperti ini? Rasa berat yang menghimpit dadanya mendadak terasa sedikit lebih ringan, laksana kabut tebal yang tersapu oleh kepulan uap rempah dan kelakar membumi sang pengasuh tua.

"Kau ini selalu saja tahu cara merusak momen puitisku, Mbok," ujar Kemuning seraya menerima cangkir tanah liat itu dengan kedua belah tangannya. Kehangatan tanah liat bakar itu meresap seketika ke telapak tangannya yang pucat pasi.


"Momen puitis itu hanya barang mewah bagi bangsawan yang perutnya kenyang dan dompetnya tebal, Gusti Puteri," sahut Gendhis tangkas sembari mengunyah sekerat ubi madu panas dengan lahap hingga kedua pipinya menggembung seperti tupai mencuri kelapa. "Bagi rakyat jelata, orang lapar yang berdiri kedinginan di tepi jurang itu namanya bukan melankolis penuh penghayatan jiwa, melainkan orang linglung yang sedang menunggu disambar petir!"

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Bagian III: Cindai Nila yang Membelit Leher

Lihat selengkapnya