Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #18

Titik Balik Keraguan

Penutup Bagian II. Surat telah dikirimkan. Bukan lagi surat kerinduan, melainkan panggilan kehormatan untuk mengakhiri sandiwara.

POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Ruang Kerja Kadipaten (Bale Purantara)

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Bagian I: Lembaran yang Dikutuk Tinta

Ruang Kerja Kadipaten (Bale Purantara) — Larut Malam

☼

Malam merayap serupa binatang melata yang dingin di atas lantai terakota Balairung Purantara. Bau jelaga lampu minyak kelapa sawit berkelindan pekat dengan aroma lapuk ribuan gulungan lontar perjanjian perang yang menumpuk di rak-rak kayu jati berukir sulur naga. Di luar selasar bertiang batu andesit, gerimis sisa senja masih menetes dari cucuran atap sirap, berderai monoton laksana jam pasir air yang menghitung sisa napas sebuah wangsa yang sedang sekarat. Puteri Kemuning duduk terpaku di balik meja kerja warisan kakek buyutnya—sebilah lempeng jati hitam berumur dua abad yang permukaannya dipenuhi goresan bekas ujung keris dan tumpahan tinta tua.

Tiga helai perkamen kulit kayu dluwang teronggok remuk di sudut meja, lumat diremas kepalan tangan yang dingin gemetar. Ujung pena bulu merak berurat besi yang ia genggam kini meneteskan setitik jelaga hitam ke atas lembaran keempat. Tetesan itu merekah pelan, menjalar di sela-sela serat selulosa cokelat pucat menyerupai laba-laba berkaki delapan yang meracuni pikiran waras. 'Sialan kau, Viqar,' desis Kemuning lirih di antara giginya yang bergemeletuk halus. Suaranya tenggelam oleh derit engsel jendela jati yang digoyang embusan angin lembah. 'Bahkan cara namamu menghantui bilik kerjaku pun sama kurang ajarnya dengan caramu menyeringai saat merebut kendali kudaku dulu.'

Kemuning menghela napas panjang, meraba pelipisnya yang berdenyut ngilu. Matanya yang sembab menatap tajam ke arah dinding seberang, tempat sebilah pedang pamor berhulu perak tergantung sunyi di samping peta topografi Lembah Kali Opak. Sepanjang dua puluh tahun hidupnya sebagai darah mahkota, ia telah diajari para resi istana untuk menimbang setiap nyawa manusia di atas timbangan nalar yang beku. Namun malam ini, neraca itu patah dua. Bukti yang disodorkan para telik sandi dewan kadipaten tiga hari lalu teramat telak: segel lilin serigala hitam milik klan Ghazanfar tertera pada perjanjian aliansi gelap dengan faksi pemberontak utara. Segalanya mengarah pada satu kesimpulan: Viqar Ghazanfar—panglima yang pernah berlutut mencium ujung kain jarik kebesarannya—tengah bersiap menusuk jantung Kadipaten Kemuning dari belakang.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Bagian II: Racun, Jahe, dan Omelan Dayang Sepuh

Pertikaian Jenaka di Tengah Badai Keraguan

☼

Pintu kayu gebyok di ambang bilik mendadak berderit keras tanpa ketukan sopan santun seorang dayang keraton. Sesosok perempuan tua gempal melangkah masuk dengan langkah berdebam-debam yang sanggup membangunkan arwah para leluhur di bangsal pusaka. Bi Warsi, emban sepuh yang telah menyuapi bubur bekatul sejak tali pusar Kemuning dipotong, meletakkan sebuah nampan kuningan berdentang di atas tumpukan berkas sensus pajak kadipaten.

'Bagus sekali, Gusti Ayu,' cibir Bi Warsi tanpa tedeng aling-aling sembari menyilangkan kedua tangannya yang berkulit keriput di dada. 'Sudah rembang petang berganti dini hari, dan junjungan agung seluruh rakyat Kadipaten Kemuning ini masih saja asyik berperang melawan selembar kertas tak berdosa. Lihat jari-jemarimu itu! Sudah hitam legam belepotan jelaga seperti tangan kuli tambang arang di bukit kidul. Mau menghadap Gusti Pangeran di nirwana dengan kuku berkubang arang begitu?'

Kemuning mendengus, buru-buru menyembunyikan lembaran surat yang baru terisi sepertiga di balik telapak tangannya. 'Bi Warsi, demi dewa penjaga mata angin, bilik ini sedang dalam darurat kedaulatan klan. Tolong simpan lidah berisimu itu di lumbung padi sebelum aku memerintahkan prajurit penjaga menyeretmu ke dapur kelapa.'

'Oh, silakan seret aku, Kanjeng Ratu perkamen!' balas Bi Warsi enteng sembari mengangsurkan cangkir tanah liat yang mengepulkan aroma jahe bakar, cengkih, dan serai wangi ke hadapan hidung sang puteri. 'Biar para penjaga itu merasakan bagaimana rasanya dicubit pinggangnya sampai membiru. Minum ini dulu! Teh melatimu di sudut meja itu sudah sedingin air basuhan mayat sejak Isya tadi. Kau ini mau menyusun taktik perang atau sedang menyiapkan upacara bunuh diri pelan-pelan karena patah arang pada lelaki kepala batu itu?'

Nama itu tak diucapkan, namun getarannya membuat bulu kuduk Kemuning meremang. Kemuning menerima cangkir tanah liat tersebut; kehangatannya yang membakar jemari sejenak meredakan kram dingin yang mencengkeram nadinya. Ia menyeruput cairan pedas itu, lalu meringis kecut. 'Jahe ini pedasnya keterlaluan, Bi. Kau memasukkan lada hitam sekepal utuh ke dalamnya?'

'Biar melek matamu itu!' sahut Bi Warsi tajam sembari memungut gulungan-gulungan perkamen yang kusut di lantai dengan decak kesal. 'Lelaki macam Viqar Ghazanfar itu bukan tipe pria yang bisa dipahami dengan menangis bombay di atas meja jati warisan. Sejak hari pertama dia menginjakkan kakinya di halaman kedaton tiga warsa lalu, aku sudah bilang: anak badai itu kalau berjalan kepalanya mendongak seperti ayam jago yang lupa kalau ekornya belum tumbuh. Kalau kau mau memenggal lehernya, penggal saja besok subuh. Tapi kalau kau cuma mau mengajaknya mengobrol soal rindu yang salah alamat, tulislah dengan kalimat waras, bukan meremas kertas sampai seperti kerupuk layu!'

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Lihat selengkapnya