Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #19

Surat Tanpa Jawaban

Bungkamnya Viqar menjadi siksaan mental terberat. Kemuning menyadari bahwa bungkam adalah cara pengecut menghindar.

POV: Puteri Kemuning·Teras Depan Keputren

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Fajar belum genap merekah, namun kabut di pelataran Keputren telah merayap naik seperti asap dupa pemakaman yang enggan membubung tinggi ke angkasa. Dinginnya marmer putih di selasar teras depan itu menusuk langsung ke telapak kakiku, menembus lapisan kain batik parang curigo yang membebat pinggang hingga mata kaki. Tiga hari. Tepat tujuh puluh dua jam aku berdiri mematung di sudut tiang jati berukir sulur nagawarna ini, mengamati celah gerbang kayu besi yang memisahkan keputren dari jalan lingkar Puri Ghazanfar. 

Setiap detik penantian itu terasa seperti tetesan cuka pekat di atas luka basah yang baru disayat sembilu.

Di ranting kamboja tua di samping teras, embun menggantung begitu berat pada kelopak putih yang mulai membusuk di tepiannya, sebelum akhirnya jatuh menimpa batu kali berlumut dengan bunyi kecipak yang teramat sunyi. Aroma tanah basah sisa gerimis semalam bercampur sengak dengan bau minyak melati basi dari pelita perunggu gantung yang apinya telah lama mati kehabisan sumbu. Mataku perih, bukan semata karena semilir angin gunung yang berembus tanpa tedeng aling-aling menerpa pelipis, melainkan karena tiga malam berturut-turut tanpa sedetik pun tidur yang lelap. 

Setiap kali kelopak mataku terpejam sekejap saja karena kelelahan jiwa, aku selalu tersentak oleh ilusi suara derap tapak kuda kurir yang berderak kencang di atas kerikil tajam halaman luar. Namun ketika mataku kubuka dengan dada berdegup liar, kesadaran dingin segera menamparku: derap itu hanyalah detak jantungku sendiri yang kalap, berkejaran dengan ketakutan yang tak mampu kuucapkan dengan kata-kata.

"Gusti Ayu Kemuning," sebuah suara serak memecah kepekatan kabut, disusul derit baki kuningan yang bergesekan pelan dengan kusen pintu geser di belakangku. "Kalau marmer dingin itu sanggup melahirkan telur emas murni karena terus-menerus diduduki sejak subuh buta, hamba rela ikut berjongkok di sana sampai kiamat kecil tiba."

Aku tidak menoleh. Aku sudah hafal betul suara langkah berat yang agak menyeret itu. Mbok Sekar Arum. Inang pengasuhku sejak aku masih bocah ingusan yang menangis hanya karena layang-layang putus di padang rumput wetan, atau merajuk berjam-jam karena duri mawar melukai jemari kelingkingku.

"Masuklah ke dalam bilik peraduan, Nini Mas," gerutu perempuan tua bertubuh gempal itu lagi sambil meletakkan cangkir porselen seladon bermotif burung hong ke meja kayu jati berkaki singa. Asap tipis mengepul dari bibir cangkir, membawa aroma tajam rimpang jahe merah bakar yang dipadu cengkih wangi, kapulaga, dan sejumput gula aren kelapa. "Angin subuh ini bukan angin biasa yang membawa berkah embun. Ini angin kiriman demit pegunungan kidul yang gemar mengincar rahim putri ningrat. Bila Gusti Ayu sampai masuk angin lalu jatuh gering demam, tabib keraton akan mencabik-cabik punggung hamba dengan sapu lidi berlumur garam dapur!"

"Darma belum kembali dari Puri Ghazanfar, Mbok," sahutku datar, nyaris berbisik. Suaraku terdengar asing bahkan di telingaku sendiri—kering, rapuh, bagai daun jati kering yang diinjak di tengah hutan belantara musim kemarau.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Mbok Sekar mendengus keras. Bunyi dengus khas wanita desa pedalaman yang tak pernah mampu disapu bersih oleh tiga puluh tahun etika keraton yang kaku dan munafik. Ia melangkah mendekat, kain jarik luriknya bergesekan dengan bunyi *kresek-kresek* yang mantap, lalu tanpa menunggu izin dariku, ia menyampirkan sehelai selendang beludru hijau lumut tebal bertepi sulaman benang emas ke pundakku yang dingin membeku.

"Darma itu kurir berkaki pendek, Gusti," tukas Mbok Sekar tanpa tedeng aling-aling, sambil membetulkan letak selendang di bahuku dengan sentuhan yang kasar namun ganjilnya terasa menghibur. "Kudanya pun kuda sewaan pasar hewan legi yang lebih sering berhenti di pinggir parit untuk mengunyah rumput teki daripada berlari menembus pos perbatasan. Dan lagi, demi dewa penjaga dapur, kalau pria model Tuan Muda dari trah Ghazanfar itu disuruh menulis surat balasan cinta, jemarinya pasti mendadak kaku seperti kayu rengas kena sambar geledek! Menulis dua baris kalimat manis saja susahnya melebihi membelah batu andesit di puncak Merapi!"

Secuil senyum tipis sempat hinggap sesaat di sudut bibirku sebelum rasa ngilu di ulu hati menelannya kembali ke dalam jurang kehampaan. "Aku tidak meminta puisi asmara gubahan pujangga keraton yang berbunga-bunga, Mbok. Aku hanya meminta satu kata yang pasti. Ya, atau tidak."

"Lha, justru itulah penyakit kambuhan kaum pria yang merasa dirinya terhormat!" semprot Mbok Sekar seraya berkacak pinggang dengan percaya diri, menatapku dengan mata tuanya yang sipit namun berbinar awas bagai burung hantu tua. "Kalau disuruh mengayunkan golok panjang melibas kawanan begal di hutan Lodaya, dadanya dibusungkan sampai kancing rompi besinya mau meletus ke udara. Jalannya tegap, dagunya mendongak menantang matahari. Tapi begitu disodorkan secarik kertas surat bertinta nila yang menanyakan kejelasan lamaran pernikahan? Mendadak nyalinya menciut seukuran butiran ketumbar di dasar cobek! Mereka lebih memilih bersembunyi di balik dinding benteng batu sambil berpura-pura sibuk memeriksa tali kekang kuda perang atau menghitung persediaan panah."

Mbok Sekar menyodorkan cangkir wedang jahe itu tepat beberapa inci di depan ujung hidungku, memaksa mataku menatap lingkaran cairan kecokelatan yang bergolak hangat.

"Minum ini, Gusti Ayu. Habiskan selagi panas keprok. Jangan biarkan air mata Gusti menetes ke cangkir, nanti rasa manis gula arennya berubah jadi asin pahit. Tak ada gunanya menaburkan garam ke luka sendiri sementara orang di seberang sana mungkin sedang sarapan pulut gurih bertabur parutan kelapa muda tanpa kepikiran barang sekelumit pun tentang nasib anak orang di keputren."

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Kata-kata Mbok Sekar memang pedas menyengat bagai rajangan cabai rawit merah, namun justru kepedasan tanpa kepalsuan itulah satu-satunya tali penambat yang mencegah akal sehatku terhempas ke jurang keputusasaan. Aku menyambut cangkir seladon itu dengan kedua telapak tangan yang gemetar. Kehangatan porselennya menyengat kulit telapak tanganku yang pucat pasi. 

Kusesap cairan jahe pekat itu perlahan-lahan. Rasa pedas, getir, dan hangat seketika menjalari kerongkonganku, merambati rongga dada yang sedari kemarin malam terasa hampa bagai guci tembikar tua yang retak di terpaan badai.

Sembari menatap kabut tipis yang perlahan-lahan disingkap oleh semburat cahaya tembaga di ufuk timur, ingatanku terlempar tanpa ampun ke peristiwa empat pekan silam. 

Malam di Paviliun Teratai. 

Gerimis tipis kala itu membasahi atap sirap kayu besi, menimbulkan irama ketukan halus yang menemani detak jantung kami berdua. Viqar Ghazanfar berdiri bersandar pada pilar batu di hadapanku. Hawa tubuhnya yang hangat, berpadu dengan aroma tembakau pegunungan dan bau khas kulit pelana kuda, masih melekat pekat pada mantel wol hitamnya yang lembap. 


Viqar bukanlah tipe bangsawan muda keraton yang gemar mengobral senyuman manis atau melantunkan tembang macapat penuh sanjungan palsu demi memuji sehalus apa kulit tanganku atau sewangi apa minyak melati yang membasahi sanggulku. Tidak. Viqar menatapku sebagaimana seorang perwira lapangan mengamati medan pertempuran yang paling ia hormati: tajam, lekat, penuh perhitungan, namun menyimpan kilatan nyala api yang membuat lututku kehilangan kekuatannya.

Malam itu, di antara helai kelopak teratai merah yang menutup di atas permukaan kolam gelap, jemari tangannya yang kasar karena bertahun-tahun menarik tali busur panah dan menggenggam hulu pedang sempat menyentuh punggung tanganku. Hanya sekejap. Sentuhan yang begitu singkat, namun getarannya menjalari sekujur urat nadiku hingga ke dasar sumsum tulang.

*"Aku bukan pemuja kata-kata manis yang pandai merayu, Kemuning,"* bisik Viqar kala itu. Suaranya berat, serak, dan bergetar rendah di dasar tenggorokan, seolah setiap patah kata yang ia keluarkan harus ditebus dengan harga mahal. *"Tapi ketahuilah ini baik-baik: panah yang sudah kulepaskan dari busur pusakaku pantang ditarik kembali ke wadahnya. Bila tiba saatnya kau meminta ketegasan atas ke mana takdir akan membawa kita, aku tidak akan membiarkanmu meraba-raba dalam gulita. Puri Ghazanfar akan berdiri kokoh di belakangmu, menjadi dinding perisai yang tak tergoyahkan."*

*Tidak akan membiarkanmu meraba-raba dalam gulita.*

Kata-kata itu terpatri begitu dalam di dinding batinku, dipahat bagai prasasti tembaga purba yang kuanggap suci. Aku percaya pada sorot matanya yang teguh. Aku percaya pada reputasi wangsa Ghazanfar yang terkenal setia pada sumpah ksatria hingga tetes darah penghabisan.

Dan atas dasar kepercayaan buta itulah, tiga hari yang lalu, aku menanggalkan segala keangkuhan trah darah biru yang diajarkan ibundaku sejak buaian. Kutinggalkan sejenak etika keraton yang melarang seorang perawan ningrat menulis surat pribadi kepada seorang pria sebelum pinangan resmi diketuk di pendopo agung. Dengan jemari yang menggigil menahan deburan malu dan harap, kutulis sepucuk surat rahasia berbubuh cap cincin giok pribadiku:

*'Kepada Tuan Muda Viqar Ghazanfar di Puri Barat.*

*Waktu kian bergulir bagai air sungai meluap di musim penghujan. Sri Baginda telah memanggilku ke bangsal prabayeksa kemarin petang, menanyakan kesiapanku menerima pinangan Adipati Wirareja sebelum bulan purnama ketiga tahun ini memudar.*

*Bila janjimu di Paviliun Teratai bukan sekadar buaian malam berangin, nyatakanlah sikapmu secara ksatria ke hadapan ayahandaku. Namun bila langkahmu terhalang oleh restu wangsaimu atau keraguan di hatimu, katakanlah sejujurnya tanpa tabir.*

*Jangan biarkan aku mati perlahan dalam ketidakpastian yang dingin ini.'*

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Surat itu kutitipkan kepada Darma, kurir paling setia yang pernah dimiliki mendiang kakekku, dengan pesan mutlak: bawa kembali jawaban Viqar, apa pun isinya. Sepatah kata pun cukup, asalkan itu datang dari mulut atau goresan tangannya sendiri.

Dan kini, tiga hari telah luruh. Tujuh puluh dua jam penantian sunyi di mana setiap embusan angin terasa bagai seringai ejekan.

Apakah janji seorang ksatria Ghazanfar ternyata tak lebih berharga daripada buih di muara sungai? Ataukah semua tatapan mata dan sentuhan hangat di Paviliun Teratai tempo hari hanyalah permainan akal seorang prajurit licik yang bosan dengan rutinitas perang?

Lihat selengkapnya