[partImg:[0]]
Konfrontasi frontal pertama. Kemuning menolak kata-kata manis dan menuntut penjelasan mengapa suratnya tak dibalas.
POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Halaman Belakang Candi Kalasan (Pelataran Barat Daya)
∘₊✧──────✧₊∘
Bagian I: Bayang-Bayang di Gerbang Barat Candi
Ketika Zirah Besi Tertahan oleh Sehelai Kain Sutra Basah
☾ ☼ ☽
Hujan di tanah Kalasan tidak pernah turun seperti rahmat yang terburu-buru. Ia merambat pelan, serupa bisik-bisik pengkhianatan yang dijatuhkan setetes demi setetes dari pekatnya langit di atas lereng selatan Merapi. Kabut tipis merayap dari celah-celah persawahan basah, merangkul susunan batu andesit Candi Kalasan yang tegak membisu dalam kemegahan purbanya. Dinding candi yang dipoles lapisan bajralepa memantulkan kilap temaram—kilap dingin yang menolak kehangatan, persis seperti hati lelaki yang sedang kucari.
Aku berdiri tanpa payung kebesaran. Tanpa emban yang membawa cepuk sirih, tanpa dayang-dayang kemayu yang biasanya sibuk merapikan lipatan kain parang rusakk-ku. Air hujan telah menembus kemben sutra hijau daun pandan yang kupakai, membuatnya melekat berat dan dingin di kulit dada, mengingatkanku bahwa seorang puteri keraton pun ternyata bisa menggigil sehina gelandangan jika ia cukup dungu untuk menukar martabatnya dengan sekerat penjelasan.
Lumpur merah perbatasan telah mencemari selop sulam emasku. Jika ibunda ratu melihat ujung kainku yang berlumur tanah liat ini, beliau barangkali akan memilih mengurungku di paviliun utara bersama dayang-dayang pemintal kapas selama tujuh purnama. Namun harga diri sudah menjadi barang murah sejak sepucuk surat pun tak kunjung melintasi gerbang gapura selama tiga puluh hari.
Lalu, derap itu terdengar.
Mula-mula hanya getaran ritmis di tanah basah, disusul suara gemerincing kekang tembaga dan ringkik tertahan. Dua belas penunggang kuda muncul dari kelokan rumpun bambu pethuk. Di barisan paling depan, di atas pelana kuda jantan kelabu berotot liat, duduk sosok yang siluet bahunya sanggup kukenali bahkan seandainya dunia ini diselimuti malam tanpa bulan selamanya. Zirah lempeng perunggunya berkilau basah tertimpa tetesan gerimis. Di pinggangnya, hulu keris bertatah permata yakut berayun tenang—hulu keris yang sama yang pernah kupoles dengan minyak cendana menggunakan jemariku sendiri.
Panglima Muda Viqar. Pahlawan penumpas penyamun Kali Opak. Ksatria kebanggaan Rakai Panangkaran yang konon sanggup membelah barisan tombak tanpa berkedip. Namun begitu tatapannya menembus kabut dan menemukan diriku berdiri seorang diri di tengah genangan air, tali kekang kudanya disentak begitu keras hingga hewan perkasa itu meringkik panik dan hampir tergelincir di atas batuan licin.
"Demi Batara Guru di puncak Mahameru..." gumam suara parau dari belakang Viqar. Itu Sabda, lurah prajurit kawakan yang wajahnya penuh parut luka cambuk. Sabda mengusap matanya yang basah oleh air hujan dengan punggung sarung tangan kulit, menatapku seolah-olah ia baru saja melihat arca Dewi Tara turun dari relung candi dan memutuskan untuk mencegat barisan militer sambil membawa amarah perempuan.
"Gusti Panglima," bisik Sabda lagi, suaranya cukup keras di tengah sunyinya derai gerimis. "Apakah mata hamba yang sudah rabun karena usia, ataukah kita sedang dihadang oleh siluman pohon randu alas yang kebetulan berwajah persis Gusti Puteri Kemuning dan beraroma melati keraton? Kalau itu siluman, izinkan hamba menyiapkan mantra penolak balak. Tapi kalau itu sungguh Gusti Puteri... hamba rasa lebih selamat kita melompat ke jurang Kali Progo sekarang juga."
Viqar tidak menyahut. Wajahnya pias seketika, pucat bagai kapur lepa yang belum kering. Warna tembaga di kulit ksatria perbatasannya lenyap, digantikan ketegangan murni yang membuat rahangnya mengeras hingga otot-otot lehernya menonjol kaku. Selama tiga tarikan napas panjang, sang panglima agung hanya terpaku di atas pelana, menatapku seperti seorang pencuri ternak yang tertangkap basah di kandang tetangga saat fajar menyingsing.
∘₊✧──────✧₊∘
Bagian 2: Bagian II: Topeng Tata Krama yang Meleleh
Banter Jenaka, Ketakutan Prajurit, dan Pisau Lidah Keraton
☾ ☼ ☽
Perlahan, dengan gerakan kaku seolah zirah perunggunya mendadak berubah menjadi timah cair yang membeku, Viqar turun dari kuda. Kakinya menjejak tanah basah dengan bunyi celepuk lumpur yang sungguh tidak heroik bagi seorang komandan barisan depan.
"Berhenti di situ, Sabda. Jangan ada satu pun yang mendekat," perintah Viqar, suaranya serak tertahan seperti orang yang tenggorokannya disumpal serbuk andesit.
Sabda segera mengangkat tangan, memberi isyarat mundur pada sebelas prajurit di belakangnya. Prajurit-prajurit berperisai itu saling pandang dengan mata membelalak panik. Tidak ada yang lebih menakutkan bagi seorang prajurit berpangkat rendah selain menyaksikan komandan mereka terjerat skandal asmara ningrat di perbatasan wilayah suci.
"Siap, Gusti! Hamba paham betul!" seru Sabda tergesa-gesa sambil membalikkan kudanya dengan gerakan berlebihan. "Kebetulan sekali tapal kuda barisan belakang sepertinya perlu diperiksa satu per satu di bawah kegelapan gerimis yang lebat ini! Anak-anak, putar haluan! Jangan ada yang menoleh ke belakang kecuali kalian ingin lidah kalian dipotong dan dijadikan umpan lele di kolam keputren!"