Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #21

Keretakan yang Tak Dapat Dibalut

Tawaran kompromi busuk dari Viqar Ghazanfar—menjadikan Kemuning selir terhormat demi menyelamatkan cinta di balik aliansi politik dinasti—justru meremukkan sisa-sisa rasa hormat perempuan itu. Kemuning memilih pergi menembus badai malam demi mempertahankan martabat dirinya yang tak terbeli.

POV: Viqar Ghazanfar (Sudut Pandang Orang Pertama) | Lokasi: Tenda Markas Utama Prajurit Ghazanfar, Lembah Lembayung

∘₊✧──────✧₊∘


Hujan di Lembah Lembayung tidak pernah sekadar turun; ia menghantam. Suaranya di atas kain terpal kanvas markasku terdengar seperti dentum ribuan peluru ketapel batu yang dihujankan tanpa henti dari langit malam. Bau tanah basah yang pekat berkelindan dengan sengak minyak jarak dari pelita gantung dan uap karat tembaga baju zirahku yang tergeletak di sudut bangku. Di luar sana, parit-parit pertahanan telah berubah menjadi kubangan lumpur pekat, sementara di dalam tenda berukuran dua puluh langkah ini, udara terasa jauh lebih menyesakkan daripada medan pertempuran mana pun yang pernah kupimpin.

Di seberang meja kayu jati beralas peta taktik perbatasan, Kemuning duduk tegak di atas bangku lipat. Selendang lurik hijaunya yang lembap tersampir di pundak, meneteskan air ke lantai jerami. Rambut hitamnya yang biasanya disanggul rapi dengan tusuk bambu sederhana kini sedikit berantakan, basah oleh tempias badai saat ia menerobos pos penjagaan depan. Wajahnya pucat, tetapi matanya—sepasang mata cokelat gelap yang pernah menatap luka tusuk di lambungku tanpa gentar lima tahun silam—kini menatapku dengan sorot yang teramat tajam.

"Jadi," suaranya membuka kesunyian, begitu tenang hingga membuat deru guntur di atas bukit terdengar seperti kepura-puraan. "Sang Macan Ghazanfar memanggil seorang tabib rendahan di tengah badai sebesar ini hanya untuk menyaksikan cawan tembikar berisi air jahe yang bahkan sudah kehilangan uapnya?"

Aku menarik napas panjang, berusaha memungut senyum tipis yang biasa kami gunakan untuk menertawakan kemalangan. Kuregangkan jemariku yang kaku di atas meja, menyentuh tepian cawan yang ia maksud. Dingin. Tentu saja dingin. Jahe itu telah diseduh setengah jam sebelum ia melangkah masuk.

"Setidaknya jahe ini tidak beracun, Ning," jawabku, mencoba menjaga nada suaraku seringan kapas, meski kerongkonganku terasa seperti digosok serpihan kaca. "Tidak seperti racikan daun sembukan yang kaucekokkan padaku waktu di Karang Wadas dulu. Baunya persis bangkai kuda liar yang membusuk di bawah matahari kemarau."

Satu alis Kemuning terangkat. Ada kedutan halus di sudut bibirnya—jejak tawa lama yang sempat hendak mekar, namun segera layu sebelum sempat merekah. "Itu ramuan penawar tetanus terbaik di seantero lereng selatan, Panglima yang terhormat. Dan jika bangkai kuda itu berhasil menyelamatkan nyawamu dari nanah busuk, seharusnya kau membangun kuil peringatan untuk daun sembukan, bukan malah mengeluh lima tahun kemudian."

"Aku lebih memilih mati terhormat di ujung tombak musuh daripada mati dicekik bau rebusan daun itu," sahutku. Aku tertawa pendek. Sebuah tawa yang garing, hampa, memantul di antara tiang-tiang penyangga tenda yang berderit menahan tiupan angin.

Tetapi tawa itu mati seketika. Kemuning tidak menyambutnya. Ia hanya menatap jemariku yang bertumpu pada peta kulit domba. Di peta itu, segel lilin merah berlambang Singa Ghazanfar bertumpuk di samping segel teratai perak milik Wangsa Narotama. Sebuah tanda pertunangan politik yang telah diumumkan ke seluruh penjuru kadipaten tiga hari yang lalu.

∘₊✧──────✧₊∘


Keheningan kembali merayap masuk, lebih dingin daripada air hujan yang merembes di pinggiran pasak tenda. Pelita tembaga di atasku berkelip liar ketika hembusan angin basah menyelinap melalui celah kain penutup pintu. Bayang-bayang kami memanjang di dinding terpal, condong dan bergetar, seolah dua sosok hantu yang sedang bersiap untuk saling mengoyak.

Pikiranku terseret mundur, meluncur tanpa kendali ke masa lalu yang terasa begitu jauh namun terasa membakar setiap kali disentuh ingatan. Karang Wadas. Pos jaga terluar di tepi jurang bersalju di mana aku, saat itu baru seorang perwira muda tanpa nama besar klan yang membebaniku, terbaring sekarat dengan tiga tulang rusuk remuk dan luka tebasan di bahu kiri. Kemuning yang menemukanku di antara semak berduri. Selama empat puluh hari, di sebuah gubuk reyot dengan atap bocor di sana-sini, perempuan itu menjahit dagingku dengan benang rami dan jarum tumpul yang selalu membuatnya mengumpat kecil.


Saat itu, kami tidak punya apa-apa selain rasa lapar, sepotong singkong bakar yang hangus separuh, dan lelucon-lelucon bodoh tentang para adipati tambun yang takut pada lintah sawah. Di atas ranjang bambu yang berderit itulah, ketika ia meniup luka di lenganku agar rasa perihnya mereda, aku pernah membisikkan sebuah janji konyol: bahwa kelak, jika aku berhasil merebut kembali panji leluhurku, ia akan menjadi satu-satunya ratu yang menduduki takhta di sampingku. Dan saat itu Kemuning hanya melempariku dengan kulit singkong gosong sambil tertawa terbahak-bahak, menyebutku pemimpi yang terlalu banyak menelan darah sendiri.


Kini panji itu telah kembali ke tanganku. Zirahku berlapis sepuhan emas murni. Namaku diteriakkan sepuluh ribu prajurit di medan laga. Namun mengapa di depan tatapannya saat ini, aku merasa jauh lebih miskin daripada pengemis jalanan di gerbang kota?

Lihat selengkapnya