Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #22

Percakapan dengan Ibunda Ratu

Penyembuhan emosional melalui ikatan ibu dan anak. Mahadewi mengajarkan bahwa cinta yang sejati tidak pernah mengecilkan martabat diri.

POV: Puteri Kemuning·Bale Padma, Kediaman Mahadewi Ratnasari

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Langkah kakiku terseret melintasi selasar batu andesit yang dingin, menjauhi hingar-bingar Balairung Saptapratama yang malam itu terasa tak ubahnya gelanggang lelang martabat. Di sana, para menteri dan tetua kadipaten masih sibuk mengunyah sirih sembari memperdebatkan garis keturunan, persekutuan militer, dan—yang paling menusuk ulu hatiku—sikap Raden Danureja yang berdiri kaku bagai patung batu berlumut, menundukkan pandangan setiap kali mataku menuntut kepastian.

Aku tidak berlari ke keputrenku sendiri. Aku tidak ingin dikepung oleh dayang-dayang yang menatapku dengan belas kasihan berbisa, atau cermin berbingkai kuningan yang hanya akan memantulkan wajah seorang puteri mahkota yang baru saja dijadikan lelucon politik. Kakiku membawaku ke sayap barat istana, ke Bale Padma.

Bale Padma selalu berbau seperti pengampunan yang tak menuntut syarat. 

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Begitu tirai beledu bersulam teratai kuputih kubak, aroma dupa cendana tua berpadu dengan rebusan serai dan minyak melati langsung menyergap pernapasanku. Ruangan itu bermandikan cahaya temaram dari lentera minyak jarak berukir burung merak. Di atas amben kayu jati beralas kasur kapuk tebal berselimut kain lurik ungu tua, Ibunda Ratu—Mahadewi Ratnasari—duduk bersila dengan tenang. Jemarinya yang ramping bergerak teratur, menuntun jarum perak menembus bentangan kain mori. Ia sedang menyulam motif sekar jagad, seolah-olah guncangan gempa politik di balairung utama barusan tak lebih penting daripada sehelai benang kusut di sudut selendangnya.

"Kau menutup pintu itu seperti pencuri yang ketakutan membawa lari periuk sayur lodeh, Kemuning," suara ibunda terdengar renyah, datar, namun sarat nada geli yang langsung menelanjangi kepura-puraanku. 

Ia bahkan tidak mengangkat wajahnya dari sulamannya. 

"Ibu..." suaraku tercekat di pangkal tenggorokan. Duri tajam yang kupendam sepanjang malam mendadak mendesak naik ke kelopak mata.

Ibunda menancapkan jarumnya pada bantalan kapas merah, lalu menengadahkan kepala. Alisnya yang lentik terangkat sebelah—sebuah gestur yang sejak masa kanak-kanak kukenal sebagai tanda bahwa Mahadewi Ratnasari siap menguliti keangkuhan siapa pun dengan sebilah pisau humor yang berkilau.

"Masuklah, tutup tirainya sebelum angin malam meniup sisa-sisa wibawa puteri mahkotaku ke parit kaputren," sahutnya tenang sembari menepuk sisi amben di dekat lututnya. "Dan tolong, jangan menangis di atas selendang sutra prada keemasan barumu itu. Sutra itu ditenun perajin Tuban selama enam purnama. Menangislah di sarung lurik Ibu; kain murahan ini sudah kenyang menampung air mata kebodohan manusia selama tiga dasawarsa."

Sindiran itu begitu khas, begitu menusuk sekaligus hangat, hingga getaran di bibirku pecah menjadi tawa getir yang sumbang. Namun tawa itu tak bertahan lebih dari dua detik. Begitu kakiku mendekat dan lututku luruh menghantam lantai kayu jati beralas permadani, seluruh perisai kebanggaan yang kupakai sejak fajar tadi runtuh berantakan.

Aku menjatuhkan kepalaku ke pangkuan ibunda. 

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Kain lurik kasarnya terasa hangat di pipiku. Dan seketika itu pula, tangis yang kutahan di hadapan para adipati, tatapan meremehkan para selir, dan kehampaan tatapan Danureja tumpah tanpa ampun. Bahuku berguncang hebat. Air mataku merembes deras, membasahi kain lurik di atas paha ibunda. Suaraku teredam menjadi raungan sengau yang kekanak-kanakan, jenis tangisan yang belum pernah kukeluarkan lagi semenjak aku berusia tujuh tahun ketika lututku robek terhantam undakan batu candi.

Ibunda tidak menyela. Jemarinya yang hangat dan sedikit kapalan di ujung telunjuk—akibat puluhan tahun memegang busur panah dan jarum sulam istana—mulai menyisir rambutku yang terurai berantakan. Sentuhannya perlahan, menenangkan irama nafasku yang tersengal-sengal.

"Kue ku dan manisan belimbing wuluh ada di piring perak itu," bisik Ibunda setelah beberapa saat hening, nadanya setengah berbisik seperti sedang membocorkan rahasia negara. "Kukira tadi kau terlambat ke mari karena mampir ke dapur mencuri dodol ketan untuk menelan rasa gengsimu."

Lihat selengkapnya