Pergolakan eksistensial Viqar. Bayang-bayang kehancuran jiwanya jika ia terus bersembunyi dalam sangkar keraguan.| POV: Viqar Ghazanfar | Lokasi: Bibir Tebing Jurang Merapi, Ketinggian 2.200 mdpl
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Batu andesit di bawah sepasang ladam sepatu bajaku terasa rapuh dan getas, seolah Merapi sendiri tengah bernapas tersengal-sengal dalam tidur purbanya di bawah kerak bumi yang menghitam. Di sini, pada tubir jurang yang menganga sedalam seribu depa tanpa dinding penahan, dunia fana serasa terhenti dalam kepulan kabut belerang kelabu yang bergulung-gulung lambat. Angin petang meliuk ganas dari arah tenggara, menderu melintasi tebing-tebing karang terjal dan merobek ujung jubah zirahku yang telah koyak. Jubah kebesaran ksatria berpola sulur kencana itu kini tak ubahnya kain perca kusam—ternoda jelaga arang, bercak karat besi, dan kerak darah kering dari orang-orang yang kusumpahi untuk kulindungi dengan nyawaku, namun pada akhirnya kubiarkan lumat dalam kobaran api Parangjati.
Kutatap ke bawah, menembus selimut awan rendah yang merayap di celah-celah lereng menyerupai bentangan kain kafan raksasa yang menutupi kuburan massal. Jauh di ceruk lembah yang teramat dalam, kerlip lentera Kadipaten Kemuning berkedip sayu laksana serpihan bara yang sekarat dihembus badai malam. Betapa ganjilnya rasa keagungan semu itu ketika dipandang dari tepi jurang maut ini: istana megah berpilar jati kencana berusia ratusan tahun, balairung beratap limasan tumpang tiga yang sarat akan bisik-bisik intrik para menteri berbau minyak mawar, dan permukiman jelata yang meringkuk ketakutan di balik pagar bambu, semuanya tampak begitu kerdil dan rapuh. Segalanya laksana gundukan pasir yang bisa disapu musnah oleh sekali hembusan abu panas kepundan Merapi.
Pikiranku terseret mundur, hanyut sepuluh purnama ke masa silam yang terasa seperti dongeng dari kehidupan orang lain—ke Paviliun Melati di jantung keraton Kemuning. Hari itu langit cerah keemasan, harum dupa kayu cendana berpadu semerbak seribu kuntum melati segar yang dironce teliti oleh para dayang berselendang sutra. Aku masih bisa merasakan dinginnya bilah keris pusaka Kyai Condroso yang diletakkan mendiang Maha Patih Mahisa Wardhana di atas pundak kiriku dan kananku. 'Viqar,' bisik sang guru tua dengan mata tua yang basah oleh kebanggaan seorang bapak, 'pedang seorang ksatria sejati tidak pernah dihunus karena kebencian pada musuh di hadapannya, melainkan demi cinta suci pada apa yang ia lindungi di belakang punggungnya. Jagalah sumpah Kemuning, walau langit runtuh menimpa ubun-ubunmu. Sebab tanpa kehormatan, seorang prajurit hanyalah binatang buas berseragam.'
Betapa manisnya racun kepolosan anak muda. Sang Guru yang bijak tidak pernah mengajarkan apa yang harus kulakukan ketika yang hendak meruntuhkan langit itu adalah junjunganku sendiri. Beliau tidak pernah menuliskan panduan perang ketika perintah resmi dari singgasana emas berbau busuk oleh pengkhianatan terhadap rakyat sendiri. Tiga purnama lalu, di Benteng Parangjati, aku telah menjaga kehormatan sumpah itu dengan kepatuhan yang membabi buta. Aku tidak membangkang satu patah kata pun saat titah mundur diturunkan oleh segel resmi kerajaan, membiarkan gerbang luar terkunci rapat demi 'menjaga keutuhan garis pertahanan inti'. Dan apa hasilnya? Parangjati dibakar hingga rata dengan tanah. Ratusan anak dan perempuan meregang nyawa dalam jerit tangis yang tak sempat terucap, sementara aku tetap berdiri utuh di menara pengawas dengan dada berkalung medali ksatria tanpa cacat sedikit pun. Betapa menjijikkannya kesucian yang ditegakkan di atas timbunan bangkai orang-orang tak berdosa.
Kutundukkan kepalaku. Tenggorokanku terasa kering dan terbakar oleh hawa solfatara yang merembes keluar dari rekah-rekah batu. Satu langkah kecil ke depan—hanya sejauh satu jengkal tapak kaki—dan seluruh pusaran rasa bersalah, seluruh aib yang membakar rongga dadaku, akan berakhir dalam benturan hening di dasar jurang bebatuan purba. Tak akan ada lagi mimpi buruk tentang jeritan anak-anak Parangjati, tak akan ada lagi tatapan mencemooh dari para bangsawan yang kenyang oleh suap.
Kerikil tiba-tiba berpentalan dari lereng tebing di belakangku. Suara langkah sepatu besi yang berat dan terseret mengikis permukaan batu cadas, disertai desah napas memburu dan sumpah serapah lirih yang sama sekali tidak terdengar anggun.
"Bagus sekali, Tuan Panglima Yang Teramat Mulia dan Mahasempurna," cibir sebuah suara serak yang kukenal lebih baik daripada suaraku sendiri. "Dari sekian puluh ribu jengkal tanah subur di Pulau Jawa untuk merenungi kegagalan hidupmu, kau harus memilih batu karang paling runcing, paling berangin, di mana pantatku membeku dalam hitungan tiga helaan napas dan seluruh udaranya berbau seperti kentut naga purba yang mati karena sakit perut."
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Aku tidak menoleh. Aku sudah hafal betul lagak berjalannya yang sedikit terpincang-pincang akibat sabetan mata tombak berkait di lembah barat dua tahun lalu—luka yang ia dapatkan karena melompat ke depanku saat kudaku terperosok ke parit jebakan. Aryo Damar melangkah santai tanpa beban, seolah tubir jurang Merapi yang mengerikan ini hanyalah teras belakang warung tuak langganannya. Dengan bunyi gemeretak zirah pelindung paha yang beradu, ia menjatuhkan dirinya di atas bongkahan batu andesit berlumut kering di samping kananku, mendesah teramat panjang seolah seluruh tulang belakangnya baru saja digilas roda gerobak gabah.
"Kutinggalkan kau di pos jaga ketiga di kaki lereng, Aryo. Bersama perapian dan kendi anggur. Mengapa kau merangkak naik sampai ke puncak kepundan terkutuk ini?"