Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #24

Kuncup Melati yang Gugur

Tindakan simbolis memotong ranting melati yang layu sebagai bentuk perpisahan dengan masa lalunya yang naif.

POV: Puteri Kemuning·Taman Sari Keputren

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Kabut tipis merayap dari ceruk-ceruk kolam pemandian Taman Sari Keputren, melata di atas ubin batu hitam yang basah oleh sisa embun sore. Langit di atas cungkup istana perlahan menyepuh tembaga kusam, seolah matahari pun enggan berlama-lama menyaksikan kesunyian yang mengendap di sudut keputren itu. Di hadapan kisi-kisi dinding batu paras yang berlumut kehijauan, Puteri Kemuning berdiri tak bergeming. Angin senja yang berhembus dari arah perbukitan selatan menerbangkan ujung selendang samparan berwarna gading miliknya, mengusap leher jenjangnya yang kaku seperti patung pualam candi.

Di telapak tangan kanannya, tergenggam sebuah belati kecil bermata bilah melengkung halus. Hulunya terbuat dari gading gajah tua yang telah menguning dimakan musim, dipahat menyerupai kepala burung garuda dengan sepasang mata bertatahkan mutiara laut selatan. Mutiara itu tidak lagi berkilau cemerlang; kilaunya meredup, keruh tertimbun bekas peluh dan penantian berbulan-bulan yang sia-sia. Belati itu bukan senjata pembunuh yang haus darah medan laga, melainkan cendera mata asmara—sebuah tanda ikatan janji rahasia yang diselipkan Raden Arya Sena ke balik lipatan stagennya di malam bulan purnama setahun yang lampau.

"Gunakan belati ini untuk memetik kuncup melati pertama yang mekar di pekaranganmu, Kemuning," bisik Sena malam itu, suaranya sehangat tetesan madu hutan di tengah angin malam. "Sebab saat kuncup itu membuka mahkotanya, aku sendiri yang akan menyematkannya di sanggulmu di depan singgasana ayahandamu."

Kemuning memejamkan mata sesaat. Rongga dadanya berdenyut perih, ngilu yang ganjil namun telah begitu akrab hingga terasa seperti denyut nadinya sendiri. Melati yang dijanjikan mekar itu kini meranggas di hadapannya. Sulur-sulur tanaman yang merambat pada teralis kayu jati itu telah mengering kerontang; batang-batangnya yang liat berubah menjadi ranting-ranting rapuh berwarna cokelat jelaga. Daun-daunnya yang dahulu hijau kemilau kini menggulung kaku, berkerut layu laksana kulit bangkai jangkrik di musim kemarau panjang. Tak ada satu pun bunga yang sempat mekar. Janji itu telah mati sebelum sempat mencium wewangian fajar.

"Aduh, Gusti Ayu... Gusti Ayu Kemuning yang ayu rupawan seantero sembilan kadipaten! Kenapa bersila di bibir kolam seperti katak hendak bertapa?"

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Sebuah suara cempreng memecah lamunan getir Kemuning. Dari balik gerbang lengkung bertatah ukiran teratai, melangkah masuk seorang wanita paruh baya dengan tubuh tambun berbalut kain jarik lurik cokelat tua. Emban Kinanti berjalan tertatih-tatih, kedua tangannya menjunjung baki kuningan berisi cangkir tanah liat yang mengepulkan uap harum jahe dan gula kelapa. Setiap langkahnya diiringi bunyi gemeretak halus yang ganjil.

"Mbok Kinanti, lututmu berderit lebih keras daripada derit gerobak jagung pasar legi," sahut Kemuning tanpa menoleh, namun ada riak geli yang samar tergelincir di sudut bibirnya yang dingin.

"Lha bagaimana tidak berderit, Gusti Ayu!" sergah Mbok Kinanti seraya meletakkan baki di atas meja batu bundar dengan bunyi *klotak* yang mantap. "Anak tangga keputren ini dibangun oleh arsitek yang sepertinya dendam pada orang berpaha tebal seperti saya. Setiap kali naik ke paviliun ini, dengkul saya seperti menyanyikan tembang duka lara. Belum lagi wedang jahe ini! Saya pontang-panting meniup arang di dapur wetan, eh, sampai di sini Gusti Putri malah asyik mengasah tatapan mata ke batang pohon mati. Apa pohon itu berutang beras pada Keraton?"

Kemuning menghela napas tipis. Ia menoleh perlahan ke arah abdi yang telah mengasuhnya sejak ia masih berupa orok merah yang merengek dalam gendongan. Mbok Kinanti selalu tahu cara meruntuhkan benteng kesedihan aristokratik yang coba dibangunnya. Di istana yang penuh basa-basi beracun ini, hanya Mbok Kinanti yang berani menyebut pangeran junjungan sebagai 'pria berhidung terlalu mancung untuk orang yang tak pandai menepati kata'.

Lihat selengkapnya