Suasana tenang sebelum badai (calm before the storm). Kemuning merajut ketenangannya dengan doa dan tata krama bangsawan agung.# Bab 25: Menjelang Malam Penentuan
*Bagian III: Titik Nadir & Tuntutan Kepastian* | POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Kamar Pusaka Kadipaten
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Adegan I: Harum Kelapa Pandan dan Guyonan Mbok Ratih
⋅☾ ☼ ☽⋅
Aroma minyak kelapa bercampur perasan daun pandan muda itu merayap pelan di antara helai-helai rambut hitamku yang tergerai hingga pinggang. Dingin, pekat, sekaligus membawa memori purba tentang keteduhan pekarangan keputren yang kini terasa seperti ilusi masa kanak-kanak. Di hadapanku, cermin perunggu peninggalan leluhur—yang permukaannya tempaan tangan mpu berabad lampau—membiaskan bayangan seorang perempuan berwajah pucat, dengan sepasang mata yang terlalu lelah untuk sekadar bersandiwara ramah.
Mbok Ratih menarik sisir tanduk kerbau itu perlahan dari pucuk kepala ke ujung rambutku. Gerakannya mantap, teratur, nyaris menyerupai ritus persembahyangan. Namun, helaan napasku yang tersendat tak luput dari telinga tua perempuan yang telah mengasuhku sejak tangis pertamaku mengguncang bangsal kadipaten.
“Napas itu ditarik sampai ke pusar, Gusti Putri,” bisik Mbok Ratih seraya mendengus kecil. Bibirnya yang berkerut mengulum senyum geli. “Bukan dicekik di tenggorokan seperti orang sedang menelan biji kedondong utuh. Kalau bahu Gusti setegang kayu jati kering begini, sisir tanduk warisan eyang buyut ini bisa patah jadi dua. Kalau patah, dosa siapa coba? Dosa Raden Viqar atau dosa takdir Kadipaten?”
Tawa kecil terlepas dari celah bibirku, rapuh namun berhasil meremukkan kekakuan udara yang sejak tadi menyesakkan dada. “Mbok ini selalu saja bisa menyalahkan orang yang bahkan belum menjejakkan kakinya di pelataran.”
“Lho, kenyataannya memang begitu, Cah Ayu,” sahut Mbok Ratih sembari menuang setetes lagi minyak wangi ke telapak tangannya yang kapalan, lalu menggosokkannya hingga hangat sebelum membelai pelipisku. “Laki-laki macam Raden Viqar itu jenisnya berbahaya. Langkahnya tegap, sorot matanya tajam seperti elang kelaparan, kumis tipisnya membuat para perawan keputren lupa jalan pulang ke dapur. Tapi Gusti tahu apa yang paling celaka dari orang seperti dia?”
Aku memandangi bayangan kerutan mata Mbok Ratih lewat cermin perunggu. “Apa, Mbok?”
“Mulutnya lebih hemat kata daripada bendahara kadipaten saat musim paceklik,” gerutu Mbok Ratih, sengaja melebih-lebihkan cemberutnya sampai dagunya bergetar jenaka. “Kalau bicara setengah-setengah, bikin orang penasaran setengah mati. Nah, sekarang Gusti Putri sendiri yang tersiksa, sampai-sampai bedak beras ketan di pipi ini nyaris retak gara-gara Gusti lupa bagaimana caranya tersenyum wajar.”
“Aku bukan sedang lupa tersenyum, Mbok,” tukasku pelan, merasakan denyut di dada kiriku berdentam kian liar seperti genderang perang yang ditabuh di kejauhan. “Aku hanya sedang menghitung sisa waktu sebelum topeng diplomasi ini harus kutanggalkan selamanya.”
Di sudut ruangan, kepulan asap dupa gaharu dan kemenyan madu membubung dari wadah kuningan berkaki kijang. Harumnya manis, mistis, dan sengaja dinyalakan untuk meneduhkan gemuruh badai di kepalaku. Tetapi dupa hanyalah asap; ia mampu membius penciuman, namun tidak pernah sanggup menidurkan ketakutan seorang puteri yang tahu bahwa malam ini adalah garis batas antara kedaulatan martabat atau pengkhianatan paling menyakitkan.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Adegan II: Guratan Parang Klithik & Penolakan Kilau Emas