Penutup Bagian III. Langkah-langkah kaki di atas lantai marmer dingin menuju medan pertempuran rasa yang sesungguhnya. Di tengah kisi-kisi jati yang bergetar dihantam angin lembah, Puteri Kemuning menuruni tangga bersama pengawalnya, menimbang apakah pertemuannya dengan Viqar malam ini akan menyalakan kembali harapan yang terkoyak atau memadamkan pelita takdir mereka untuk selamanya.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Tangga kayu jati itu berderit sangat halus—sebuah rintihan purba dari serat kayu berusia dua ratus tahun yang dipaksa menanggung beban seorang puteri mahkota bersama seribu dosa leluhurnya yang belum sempat dibayar tunai. Karpet beludru merah kirmizi yang membentang menutupi anak tangga memang cukup tebal untuk menelan derak tumit selop sutraku, namun ia sama sekali tidak berdaya meredam degup jantungku sendiri yang mengetuk rusuk layaknya genderang perang prajurit tapal batas.
Aku melangkah turun satu demi satu. Setiap undakan terasa seperti sebuah hitungan mundur menuju hari pembalasan yang dirancang terlampau megah. Gaun kebesaran dari songket Palembang bertabur benang emas tua ini beratnya tak kurang dari lima belas kati, belum lagi tusuk konde merak emas dengan lima pasang mata zamrud yang terpasang angkuh di kepalaku. Sejak sore tadi, para dayang perias berbisik-bisik bahwa riasan ini akan membuat seluruh adipati bertekuk lutut. Sayangnya, mereka lupa memperingatkan leherku bahwa ia berisiko patah sebelum sempat menyaksikan satupun lutut menyentuh lantai.
Di ujung tangga bawah, lorong sayap barat membentang lurus bagai tenggorokan raksasa yang menelan segala suara. Dinding batu andesit kelabu diapit pilar-pilar jati berukir pilin daun sulur yang merayap liar ke arah langit-langit kubah. Dan di sana, terpasang pada jarak setiap tujuh depa, pelita-pelita dinding dari mangkuk tembaga kuno sedang menyabung nyawa. Minyak kelapa di dalamnya telah berkurang separuh, sementara sumbu kapasnya meliuk-liuk gelisah dihajar hawa dingin yang merayap masuk lewat celah kisi-kisi jendela kayu jati.
Angin dari arah Lembah Rengganis sedang mengamuk malam ini. Ia menyelinap liar bagai pencuri berpengalaman, membawa serta aroma lumut basah, sisa belerang kawah gunung di kejauhan, dan bau dupa cendana mati dari pendapa pemujaan. Ketika hembusan itu melolong menerpa kaca mati dan kisi kisi kayu yang bergetar, sumbu pelita minyak itu serentak membungkuk patah. Nyala apinya mengerut menjadi sebutir biji saga kebiruan, mendesis panik di atas genangan minyak panas, sebelum dengan gagah berani menegak lagi dan melemparkan bayang-bayang panjang berkelebatan di dinding marmer.
"Jika hamba boleh lancang berpendapat, Gusti Puteri," bisik sebuah suara serak di belakang bahu kiriku, begitu kering hingga terdengar seperti dua lembar ampelas yang saling digosokkan, "menyeret kain sepuluh hasta di lantai berangin ini hanya membuktikan dua hal: panjenengan sangat kaya, atau istana ini luar biasa malas menyapu debu."
Aku bahkan tidak perlu menoleh untuk mengetahui seringai macam apa yang sedang bertengger di wajah tua keriput itu. "Tutup mulutmu, Rangga. Atau aku akan meminta bendahara memotong jatah tembakau kunyahmu selama tiga purnama ke depan."
"Ampun seribu ampun, Tuan Puteri," sahut Ki Rangga Sanjaya sembari merapikan selempang pedang bersarung kulit lembu di pinggangnya yang agak tambun. Matanya yang sipit dan terbiasa membaca medan malam tetap mengawasi setiap sudut gelap lorong dengan kewaspadaan seekor kucing hutan tua. "Tapi hamba bersumpah demi makam kakek buyut hamba, pertemuan rahasia di Balairung tengah malam begini selalu berbau dua perkara: makar berdarah, atau asmara yang terlampau tolol untuk diselamatkan akal sehat. Dan sejauh mata memandang, hamba belum mencium bau darah."
───⋅☾ ☼ ☽⋅───