Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #27

Ruang Sidang Kemuning

Awal dari babak konfrontasi puncak. Kemuning tidak lagi dapat diluluhkan oleh pesona fisik maupun suara lembut Viqar.

POV: Puteri Kemuning·Balairung Kemuning, Hanya Berdua Ditemani Sebatang Pelita Minyak

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


PINTU kembar berukir sulur padma itu terkatup rapat di belakangnya, mengunci deru angin malam di luar dinding balairung. Hanya ada sebatang pelita tembaga berkaki tinggi yang menyala di tengah ruangan, melemparkan bayang-bayang panjang dua insan yang terpisah oleh keheningan sedalam palung samudra. Bau jelaga minyak jarak bercampur dengan hawa dingin batu andesit lembap, menciptakan kuburan sunyi bagi segala macam basa-basi yang pernah dipelajari di sekolah keputren.

Viqar berdiri di sana.

Ia tidak lagi mengenakan zirah perangnya yang gemerlap oleh pelat baja perak, melainkan beskap sutra hitam berkerah tinggi dengan sulaman benang emas pusaka Ghazanfar. Wajahnya yang biasanya memancarkan wibawa tanpa tanding kini tampak tirus dan berdebu; kumis tipisnya tak terpangkas rapi, dan bayang kelelahan yang menggantung tebal di bawah kelopak matanya membuat pria itu tampak lebih seperti buronan takhayul ketimbang putra mahkota imperium selatan. Ketika mata kami bertaut di atas nyala api tembaga yang bergetar, ada kilat keputusasaan yang melintas di bibir lelaki itu.

"Kemuning..." Viqar melangkah maju dua tapak. Suaranya serak, sarat oleh nada berat yang dahulu sanggup meruntuhkan segala benteng keraguanku. Tangannya terulur ke depan, terbuka dan menuntut—jemari yang lihai mencengkeram gagang belati kini bergetar hendak meraih pergelangan tanganku. "Demi langit dan bumi, aku datang memenuhi panggilanmu. Tiga hari tiga malam aku memacu kuda menerobos badai lereng utara tanpa memejamkan mata sekejap pun. Kuda jantan terbaikku bahkan roboh muntah darah di pos penjagaan tapal batas. Kemuning, izinkan aku menjelaskan segala—"

"Berhenti di sana, Kakanda."

Suaraku membelah udara dengan ketenangan yang ganjil dan mengerikan. Tidak ada gelegar amarah yang meledak, tidak ada getar tangis yang tersisa. Ketenanganku dingin, bagai air danau di kawah mati yang membeku setelah letusan ratusan tahun silam.

Tangan Viqar tertahan di udara. Menggantung canggung, hampa, bagai dahan patah yang ditolak oleh tanah. Jarinya sedikit mengepal sebelum terkulai lemas di samping pahanya.

"Dinda..." bisiknya, pupil matanya melebar tak percaya. "Mengapa engkau menatapku seolah aku orang asing? Seolah aku serdadu bayaran yang menyelinap lewat jendela gudang?"

"Karena serdadu bayaran setidaknya memiliki kejujuran untuk mengaku bahwa ia datang demi sekantong keping emas," jawabku datar seraya melangkah lambat menuju sisi meja kayu jati berukir. Setiap gesekan kain jarik batiku di atas ubin batu terdengar seperti desis ular di balik ilalang kering. "Sedangkan engkau, Kakanda, datang mengenakan sutra leluhur seraya menjual cerita tentang kuda mati dan mata perih. Sungguh malang nasib kuda tungganganmu itu. Binatang malang itu mati kelelahan hanya untuk mengantarkan seorang pangeran yang bahkan belum memutuskan di mana ia harus meletakkan kehormatannya."

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Sudut bibir Viqar berkedut. Antara rasa terhina sebagai kesatria dan rasa nyeri yang mengoyak kebanggaannya. "Kau mencemoohku? Di saat seluruh dewan perwira Ghazanfar menganggapku pengkhianat karena meninggalkannya diam-diam demi menemuimu di bilik ini?"

"Aku tidak mencemoohmu, Viqar. Aku hanya sedang mengagumi betapa mahalnya harga sebuah kepengecutan yang dibungkus dengan pita keberanian." Aku menepuk permukaan meja kayu jati tebal yang kokoh di antara kami. "Duduklah di seberang meja itu. Empat tapak kaki. Jangan kurang seinci pun."

"Kemuning, demi Dewa, kita bukan duta musuh yang sedang merundingkan tebusan tawanan perang!" serunya parau, berusaha melangkah mendekat lagi.

"Jika engkau melangkah setapak lagi melintasi batas bayang-bayang pelita itu," potongku tenang, jemariku yang lentik perlahan menyelusup ke balik stagen kemben, menyentuh hulu belati kecil berukir merak yang dingin menusuk tulang rusukku, "maka penjaga di balik pintu gerbang timur akan menemukan mayat putra mahkota Ghazanfar dengan kerongkongan terbelah oleh wanita yang pernah kau sebut sebagai rumahmu."

Langkah Viqar membeku seketika. Ia menatap mataku, mencari gertakan belaka yang biasa dimainkan oleh para putri ningrat saat merajuk. Namun ia tidak menemukan apa-apa selain kekosongan yang mengerikan. Perlahan, dengan bahu yang merosot berat, ia menarik kursi kayu bertakik sulur di hadapannya dan menjatuhkan tubuhnya ke sana. Jarak empat langkah meja jati itu membentang bagai jurang tak berdasar.

Di atas kayu jati yang telah dipelitur gelap dan mengilap itu, aku telah menyusun barang-barang persidangan sunyi kami: tiga helai daun lontar bersurat yang seratnya mulai lapuk kecokelatan, sebuah kotak beludru merah kusam berdebu, dan setangkai bunga melati kering yang telah kehilangan seluruh kelopak putihnya—menyisakan tangkai rapuh yang menebarkan aroma apek kenangan mati.

Lihat selengkapnya