Puteri Kemuning menuntut kepastian mutlak. Judul novel "Katakan Ya atau Tidak" menjadi ultimatum suci yang membebaskan jiwanyaTuntutan Ketegasan
POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Balairung Kemuning, Meja Perundingan Rasa | Jumlah Kata: 2780 Kata
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
I. Desau Angin Balairung & Meja Perundingan Rasa
⋅☾ ☼ ☽⋅
Angin malam lereng pegunungan menyelinap rakus melalui kisi-kisi ventilasi kayu berukir naga kembar, menggetarkan tirai beludru hijau lumut yang telah digantung sejak zaman mendiang kakek buyutku. Udara membawa bau pekat tanah basah sehabis gerimis, berbaur dengan kepulan dupa cendana yang membakar pelan di atas piringan kuningan berkaki tiga. Namun, tak ada aroma yang lebih menusuk daripada bau minyak jarak dari pelita gantung di tengah ruangan—minyak murahan yang jelaganya gemar menari kian kemari, meninggalkan jelaga hitam di sudut langit-langit, persis seperti janji-janji manis yang dibiarkan menggantung terlalu lama hingga menghitamkan martabat penghuninya.
Di hadapanku membentang meja kayu jati setebal empat jari yang oleh para tetua keraton dijuluki Meja Perundingan Rasa. Permukaannya legam termakan usia, guratan serat kayunya meliuk seperti urat nadi orang yang menahan murka. Dua cangkir porselen retak seribu pemberian saudagar Tartar bertengger di atasnya; air teh melatinya sudah mendingin sejak dua jam lalu, membentuk selaput tipis di tepian cangkir layaknya lapisan es di pucuk Merbabu pada puncak musim kemarau.
Aku berdiri tegak. Jarik sidomukti yang membalut tubuhku terasa kaku, menekan pinggangku seakan mengingatkan bahwa darah ningrat yang mengalir di tubuhku tidak diciptakan untuk membungkuk di hadapan lelaki yang gemar mengemis tempo. Kedua tanganku bertaut tenang di depan stagen, menutupi gemuruh di balik rongga dadaku yang berdetak liar seperti kendang prajurit sebelum serbuan pertama.
Di seberang meja, Raden Viqar duduk dengan bahu merosot, kendati blangkon wulungnya masih terpasang rapi dengan sungsum emas di bagian depan—simbol kebangsawanan yang kini tampak seperti lelucon menyedihkan di mataku. Tangannya terus memainkan tangkai cangkir yang tak disentuhnya, memutar-mutarnya dengan kecemasan seorang pencuri ayam yang tertangkap basah di kandang lurah.
"Kemuning, embun di luar sudah mulai turun," suaranya membuka kebuntuan, pelan dan bergetar, mencoba memasang nada priyayi yang berwibawa kendati tenggorokannya jelas kering kerontang. "Hawa dingin lereng ini tidak baik untuk paru-parumu. Mengapa kita tidak menunda perbincangan berat ini hingga fajar merekah di pendopo luar? Secangkir kopi jahe hangat dan kicau burung kepodang mungkin akan melunakkan kekakuan di antara kita."
Aku menatapnya lurus. Ada getaran geli yang getir menggelayuti sudut bibirku. Betapa lihainya seorang lelaki yang mahir menunggang kuda perang di padang terbuka, mendadak berubah menjadi tabib gadungan yang mencemaskan paru-paruku begitu kata 'kepastian' diketukkan ke meja.
"Tak ada aroma yang lebih menusuk daripada bau minyak jarak pelita yang jelaga—persis seperti janji-janji manis yang dibiarkan menggantung terlalu lama hingga menghitamkan martabat."
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
II. Kilap Janji Palsu & Retrospeksi Telaga Warna
⋅☾ ☼ ☽⋅
"Cukup, Viqar," aku melangkah satu tapak mendekati meja. Bunyi derit lantai kayu jati di bawah selop beludruku terdengar laksana ketukan palu pengadilan kadipaten. Jari telunjuk kananku kuketukkan pelan, dua kali, tepat di samping cangkirnya yang bergeming. "Jangan bicarakan embun malam atau kicau kepodang seolah engkau adalah penyair pengelana yang tersesat di keputrenku. Dua tahun, Kakanda. Dua tahun penuh aku hidup dalam bayang-bayang janjimu yang berkabut tebal melampaui puncak gunung pengasingan."
Pikiranku ditarik mundur secara kejam ke masa dua warsa silam. Ingatan itu datang seperti tusukan jarum emas yang hangat namun beracun: Telaga Warna di batas timur kadipaten, saat fajar masih merah muda dan kabut menggantung laksana selendang bidadari di atas permukaan air yang kehijauan. Hari itu, Viqar turun dari punggung kudanya yang berpelana perak, memetik sekuntum kuncup melati liar yang basah oleh embun murni, lalu menyematkannya di sela sanggulku dengan jari-jarinya yang gemetar.
Kala itu, matanya berkilau begitu bening. 'Kemuning,' bisiknya dengan kesungguhan yang sanggup meruntuhkan benteng pertahanan apa pun, 'demi Hyang Widhi dan riak telaga ini, melati ini adalah ikrar suciku. Tak ada permaisuri lain yang berhak menduduki singgasana Kasultanan Lor selain engkau. Tunggulah aku menyelesaikan tapabrata dan urusan pusaka keluarga di bukit seberang.'
Dua tahun aku menyiram kuncup melati itu—yang telah lama mengering, mengeriput menjadi bangkai cokelat di dalam kotak kayu cendana di peraduanku. Setiap kali keraguan merayap di malam-malam sepi, aku membuka kotak itu, mencium sisa aroma kelopaknya yang telah menjelma debu, lalu membohongi diriku sendiri bahwa lelaki itu sedang bertarung mempertaruhkan nyawa demi cinta kami. Betapa bodohnya seorang putri adipati yang rela menukar marwahnya demi sepotong bangkai bunga kering!
Viqar mengangkat wajahnya, kedua tangannya terkepal di sisi tubuhnya hingga buku-buku jarinya memutih pasi di bawah temaram lentera. "Aku mencintaimu, Kemuning... Sumpahku di telaga itu nyata! Tak pernah ada sedetik pun aku mendua dalam batinku. Semua yang kulakukan adalah rantai takdir yang rumit. Apakah engkau mengira sengketa tanah pusaka keluarga di bukit utara itu semudah membalik telapak tangan? Para tetua di sana—"
"Kambing kendit di bukit utara itu barangkali sudah beranak tujuh turunan, Kakanda," potongku dengan nada setenang air sumur tua yang dingin, "tapi patok batas tanahmu masih saja bergeser mengikuti arah angin diplomasi mulutmu. Jangan jadikan tanah padas berbatu itu sebagai tameng atas ketidakberdayaanmu mengambil keputusan. Apakah tanah pusaka itu juga yang menyuruhmu berlayar tiga kali ke kadipaten pesisir bulan lalu tanpa mengirimkan sehelai daun lontar pun ke bilik keputrenku?"
"Betapa bodohnya seorang putri adipati yang rela menukar marwahnya demi sepotong bangkai bunga kering yang disangka sumpah abadi."
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
III. Intervensi Jenaka Mbok Rondok & Wedang Jahe Serai
⋅☾ ☼ ☽⋅
Sebelum Viqar sempat menyusun kebohongan barunya, bunyi engsel pintu samping berderit panjang, memecah ketegangan yang nyaris meledakkan dinding balairung. Sesosok tubuh gempal dengan kain lurik cokelat lusuh menyembul masuk, membawa nampan kuningan berukir bunga kantil yang sudah penyok di ujungnya.
Itu Mbok Rondok, emban sepuh yang telah merawatku sejak tali pusarku dipotong dukun bayi istana. Langkah kakinya lambat, diseret sengaja di atas lantai kayu sembari mendengus-dengus seperti lokomotif uap tua milik saudagar Belanda di kota pelabuhan.
"Nuwun sewu, Ndoro Ayu... Nuwun sewu, Raden Bagus," gumam Mbok Rondok tanpa menatap mata siapa pun, meletakkan dua mangkuk tanah liat berisi cairan kecokelatan yang mengepulkan uap pedas jahe merah dan serai memar. "Hawa malam ini kurang ajar betul, dinginnya menusuk sampai ke tulang sumsum orang jompo. Kalau orang muda tahan begadang mengunyah angin, tapi cangkir teh porselen ini sudah menggigil kedinginan. Jadi simbok buatkan wedang jahe bakar campur gula kelapa tua. Biar yang darahnya beku bisa agak encer sedikit otaknya."
Viqar terbatuk canggung, merapikan letak keris di pinggang belakangnya seakan benda bertatah intan itu mendadak terlalu berat untuk ditopang. "Terima kasih, Mbok. Kau selalu teliti menjaga kenyamanan keputren."