Eksplorasi mendalam atas kepanikan jiwa Viqar saat ultimatum dilontarkan. Ia menyadari bahwa ia tak bisa lagi bermain di dua kaki.
POV: Viqar Ghazanfar | Lokasi: Balairung Kemuning
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Hujan di luar Balairung Kemuning tidak sekadar turun; ia menggempur atap sirap kayu ulin tua itu seakan-akan langit sedang menumpahkan seluruh dendam para dewa yang terlupakan. Kilat sesekali merayap melintasi jendela-jendela berkisi ukir, menyinari ubin marmer hitam legam yang dipoles begitu licin hingga bayangan tubuhku di lantai tampak seperti sosok asing yang tercekik dalam kubangan air keruh. Udara di ruangan luas itu sarat dengan bau lembap tanah basah, aroma anyir minyak jarak dari kaki-kaki pelita kuningan yang berkedip sekarat, serta aroma harum dupa cendana yang berusaha sia-sia menutupi kegetiran yang membeku di antara kami berdua.
Dua cangkir porselen hijau telur asin terletak di atas meja jati berkaki lengkung di antara kami. Teh melati di dalam cangkirku sudah lama kehilangan kepulan uapnya, menyisakan selaput tipis di tepian yang tampak seperti genangan air parit yang dingin. Aku menelan ludah, tetapi kerongkonganku terasa seperti lorong berdebu yang ditaburi pecahan kaca. Di dalam rongga dadaku, ada godam raksasa berbobot ratusan pikul yang berayun tanpa henti, menghantam tulang rusukku dengan irama yang menulikan: martabat atau cinta, wangsa atau nurani, kelangsungan nama besar Ghazanfar atau kehancuran manis di pelukan wanita di depanku.
Dan wanita itu—Raden Ayu Kemuning—duduk bersandar di kursi ukir beralas beledu zamrud dengan ketenangan yang luar biasa mengerikan. Tidak ada getar di jemarinya yang lentik, tidak ada hembusan napas gusar yang membuat kebaya sutra hijaunya berkerut, bahkan sehelai benang emas di selendangnya pun tampak tunduk patuh pada ketenangannya. Wanita yang selama dua tahun ini kukenal sebagai sosok yang menundukkan pandangan seraya meremas ujung selendang setiap kali kusapa di selasar barat istana, kini menatapku tepat di pupil mata. Tatapan itu bukan lagi tatapan seorang dara yang memohon sejumput belas kasih asmara; itu adalah tatapan seorang ratu yang sedang menimbang leher seorang pesakitan di atas talenan keadilan.
“Kau membiarkan tehmu membeku, Viqar,” suaranya membelah gemuruh guntur dengan kelembutan yang lebih tajam daripada sabetan sembilu bambu. “Atau mungkinkah lidah seorang bangsawan Ghazanfar terlalu mulia untuk mencicipi seduhan daun kering yang dipetik dari lereng bukit rakyat jelata?”
Aku memaksakan sebuah senyum miring—senyum andalanku yang biasa kupakai untuk memikat para selir kadipaten atau menenangkan kuda perang yang panik sebelum terompet serbu ditiupkan. “Jika kau berniat membunuhku malam ini, Kemuning, tolong jangan gunakan racun dingin dalam cangkir teh. Gunakan saja tatapan lurusmu yang sedingin salju lereng utara itu. Leherku rasanya sudah menggelinding ke lantai marmer bahkan sebelum kau menghunus belati.”
Kemuning tidak berkedip. Satu-satunya gerakan yang ia buat adalah sedikit memiringkan dagunya yang ramping, membiarkan seberkas cahaya pelita menyapu anting-anting mutiaranya yang berkilau redup. “Leluconmu selalu datang tepat pada waktunya untuk menyelamatkan mukamu, Viqar. Sayangnya, lelucon itu selalu terlambat sepuluh ketukan untuk menyelamatkan janjimu.”
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
Kalimat itu menghantamku tepat di ulu hati, meremukkan sisa-sisa kelakar yang masih berderit di ujung bibirku. Jemari kananku tanpa sadar meraba cincin meterai di jari manis kiriku. Batu obsidian hitam pekat berukir kepala serigala mengaum—lambang kebesaran Wangsa Ghazanfar yang telah diwariskan selama sembilan generasi penunggang kuda padang tandus. Logam perak pengikatnya terasa membakar kulitku dengan dingin yang menusuk tulang, seolah batu itu sendiri hidup dan sedang menggeram mengingatkanku akan darah yang mengalir di nadiku.
Sentuhan pada batu dingin itu melempar jiwaku kembali ke empat belas tahun silam, ke aula batu Benteng Karang Hitam yang pengap dan diterangi obor berjelaga. Aku masih seorang bocah sebelas tahun bertubuh ringkih dengan lutut gemetar, berdiri di hadapan Paman Rustam—sosok raksasa bertangan satu yang baunya selalu mengingatkanku pada karat besi dan lemak kuda. Di hadapanku tergeletak sisa-sisa layang-layang sutra merah bergambar burung walet, hadiah ulang tahun dari mendiang ibuku, yang baru saja dilemparkan Paman ke dalam kobaran api tungku pemanas.
“Menangis, Viqar?” suara parau Paman Rustam waktu itu terdengar seperti gerinda yang mengasah mata pedang. Tangannya yang kasar mencengkeram tengkukku hingga aku terpaksa mendongak menatap kobaran api. “Darah Ghazanfar tidak diciptakan untuk bermain-main dengan sutra dan angin. Burung walet itu rapuh, dan apa pun yang rapuh akan terbakar habis di negeri ini. Ingat ini baik-baik sebelum kau memakai cincin serigala: seorang Ghazanfar tidak pernah meminta maaf, tidak pernah menoleh ke belakang, dan tidak akan pernah membiarkan hatinya ditawan oleh sesuatu yang tak bisa ia tundukkan dengan mata pedang. Jika kau memilih kelembutan, kau memilih kematian bagi wangsafmu.”
Kala itu, bau sutra terbakar dan abu terbang menempel di kelopak mataku. Dan malam ini, di Balairung Kemuning yang megah, bau hangus itu terasa kembali menyengat hidungku. Paman Rustam kini telah menjadi Mahapatih yang mengendalikan separuh dewan penasihat istana. Surat ancamannya yang kuterima dua fajar lalu masih tersimpan rapi di lipatan stagen sutra di pinggangku, tertulis dengan tinta merah kental menyerupai darah beku: ‘Sekali saja kakimu melangkah meminang putri buangan itu tanpa restu dewan klan, nama Viqar akan dicoret dari prasasti leluhur. Kau akan menjadi bangkai gelandangan tanpa panji, dan serigala gurun akan berebut mengoyak ususmu.’
Aku mengembuskan napas panjang yang terdengar gemetar, berusaha menegakkan punggungku di hadapan Kemuning. “Kau tahu apa yang dipertaruhkan di sini, Kemuning. Ini bukan sekadar perkara aku berkemas di tengah malam, mencuri dua ekor kuda terbaik dari istal kadipaten, lalu membawamu lari ke perbukitan kapur selatan untuk beternak kambing dan menanam ubi jalar.”
“Beternak kambing?” Kemuning mengangkat sebelah alisnya yang melengkung indah bagai busur panah gandewa. Sudut bibirnya berkedut tipis—sebuah riak geli yang begitu samar hingga hampir kusangka kilatan bayangan pelita. “Tuan Muda Viqar yang agung, yang bahkan tidak tahu cara membedakan kotoran kuda dengan lumpur rawa tanpa bantuan tiga orang pelayan pribadinya, berkhayal hendak menggembala kambing di lereng kapur? Sungguh, kambing-kambing itu pasti akan mati kelaparan dalam tiga hari karena sang gembala terlalu sibuk meratapi sepatu bot kulit bulunya yang terkena becek.”
───⋅☾ ☼ ☽⋅───