Semua tabir misteri tersingkap. Bukan karena Viqar tidak mencintai Kemuning, melainkan karena ia memilih menjadi budak hutang
POV: Viqar Ghazanfar·Balairung Kemuning
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
BAGIAN I: PUALAM HITAM DAN SECANGKIR SERAI YANG KEHILANGAN UAP
⋅☾ ☼ ☽⋅
Hawa dingin di Balairung Kemuning malam itu tidak merayap masuk dari jendela berkisi tembaga yang terbuka separuh ke arah taman teratai, melainkan memancar keluar dari lantai marmer pualam hitam yang dipoles terlampau licin oleh para abdi dalem istana. Setiap langkah sol sepatu lars kulitku menghasilkan gema tunggal yang panjang, bergulir di antara pilar-pilar penyangga berkepala garuda, lalu berakhir dengan ketukan yang terdengar persis seperti ketukan palu juru lelang yang sedang menentukan harga tebusan budak tangkapan. Di luar dinding istana, gerimis musim barat mengetuk-ngetuk genting sirap kayu ulin dengan irama yang monoton dan menjemukan—seperti juru tulis pengadilan tak kasatmata yang tak henti-hentinya mencatat rincian dosa masa lalu tanpa pernah berniat menjatuhkan vonis keringanan.
Kemuning duduk di atas bantalan beludru sutra hijau lumut di undakan kedua balairung, persis di bawah bayang-bayang lambang kerajaan teratai emas yang dipahat kaku pada dinding pualam. Di samping lutut kirinya, sebuah mangkuk porselen biru bermotif ombak berisi rebusan serai, bunga cengkih, dan jahe merah telah berhenti mengepulkan uap sejak setengah jam yang lalu. Permukaan cairan cokelat kekuningan itu kini telah membentuk selaput tipis yang dingin dan berminyak, membisu sama seperti sisa-sisa kesabaran sang empunya yang telah lama terkikis habis oleh helaan nafasku yang ragu-ragu.
"Kau berdiri di sana seperti patung peringatan pahlawan tak dikenal yang dipahat oleh seorang tukang batu amatir, Viqar," suara Kemuning membelah kesunyian yang menekan dengan ketajaman yang begitu terukur. Ia sama sekali tidak mengangkat pandangannya. Jemarinya yang ramping, bersih tanpa cincin batu mulia selain sebuah pita tembaga penanda wewenang wilayah tengah, sedang sibuk memilin ujung selendang tenun keemasannya. Jalinan benang sutra itu seolah beribu kali lebih layak diperhatikan daripada seorang komandan sayap kanan kerajaan yang punggungnya kaku bagai papan jemuran dan keningnya basah oleh keringat dingin yang tak tahu adat.
Aku membasahi bibirku yang mendadak terasa sekering pasir muara di musim kemarau panjang. Sebuah senyuman masam—senyuman khas seorang bajingan pasar yang mendapati dirinya tertangkap basah sedang menyelipkan tangan ke dalam kantung sedekah kuil—merayap naik ke sudut bibirku tanpa bisa kucegah. Inilah senjataku yang paling memalukan: saat jiwaku menjerit ketakutan, lidahku justru sibuk mencari lelucon basi untuk menertawakan tiang gantunganku sendiri.
"Setidaknya pemahat amatir itu tahu cara menjaga leher sang pahlawan tetap tegak sebelum algojo datang menebas kepalanya, Puan Penguasa," balasku dengan nada suara yang kuusahakan seringan mungkin, kendati rongga dadaku terasa sesak seperti dihimpit karung timah. "Dan jika marmer hitam kesayanganmu ini digosok sekali lagi dengan minyak kemiri, aku khawatir aku bisa melihat bayangan wajahku sendiri dengan terlampau jelas. Itu pemandangan yang sangat tidak sedap dipandang bagi siapa pun: seekor keledai dungu bertubuh jangkung yang mengenakan zirah perwira kebesaran, tersesat di tengah sarang burung merak yang suci."
Kemuning mengangkat dagunya perlahan. Gerakan kepalanya lambat, anggun, namun mematikan. Sepasang mata gelap itu—mata yang biasanya mampu menatap peta pergerakan armada laut musuh dengan ketenangan beku seekor elang pemangsa—kini menancap tepat di manik mataku. Tidak ada api kemurkaan yang berkobar di sana. Andai saja ada kemarahan yang meledak, mungkin aku akan merasa jauh lebih lega; seorang prajurit tahu cara menangkis tebasan pedang amarah. Tetapi yang bersemayam di dalam tatapannya malam ini adalah sebuah telaga kehampaan yang begitu sunyi dan dalam, jenis kesunyian yang sanggup meremukkan sendi-sendi seorang veteran perang dan memaksanya berlutut memohon agar tanah di bawah kakinya terbelah menelannya hidup-hidup.
"Keledai setidaknya memiliki kejujuran untuk meringkik saat punggungnya terluka oleh beban atau cambuk majikan, bukan bersilat lidah seperti badut keliling yang sedang kehabisan penonton," desis Kemuning. Suaranya begitu rendah dan tenang, namun setiap katanya meluncur bagai jarum perak yang menembus kain zirah, menancap langsung ke urat malu yang paling kutakuti. "Kau mengirim pesan rahasia lewat merpati pos, meminta pertemuan empat mata tanpa ada satu pun punggawa istana yang mendampingi. Kau memerintahkan pengawal pribadiku untuk menutup pintu gerbang timur dan melarang para dayang mendekati serambi balairung. Kau membuat suasana ini tampak seperti pengkhianatan tingkat tinggi terhadap mahkota... dan sekarang, setelah kau berdiri membeku selama setengah jam di hadapanku di bawah temaram lentera minyak zaitun ini, kau hanya sanggup menyuguhkanku lelucon murahan tentang tukang pahat, kera berseragam, dan lantai marmer licin?"
Kata-katanya membuat udara di sekelilingku membeku seketika. Seluruh dalih diplomatis, seluruh kata-kata puitis penuh metafora kepahlawanan yang telah kususun dan kuhafal di sepanjang perjalanan berkuda selama tiga hari penuh melintasi perbukitan kapur selatan, musnah tanpa bekas. Aku berdiri telanjang di hadapan ketajaman matanya. Topeng prajurit perkasa yang kukenakan selama hampir satu dekade mendadak terasa begitu tipis, rapuh, dan siap hancur berkeping-keping menjadi debu penghinaan.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
BAGIAN II: RETROSPEKSI: DADU TULANG PAUS DAN PANJI YANG TERBAKAR
⋅☾ ☼ ☽⋅
Di balik pelupuk mataku yang memanas perih, aroma harum bunga cengkih dan serai dari mangkuk porselen Kemuning mendadak terhapus, berganti dengan bau busuk masa lalu yang paling ingin kukoyak dari ingatanku: aroma minyak samin tengik yang terbakar di sumbu pelita jelaga, uap tembakau krosok berjamur yang disesap dari pipa tembaga panjang, dan kepulan uap arak aren hitam murahan yang tumpah membasahi lantai papan kayu di kedai-kedai bawah tanah Bandar Karang.
Dua puluh tahun yang lalu, jauh sebelum namaku dielu-elukan oleh ribuan pemuda kota sebagai Komandan Sayap Kanan yang tak terkalahkan di palagan Lembah Merah, aku hanyalah seorang bocah kurus kering berusia dua belas tahun yang meringkuk ketakutan di sudut ruang judi bawah tanah pelabuhan. Punggungku menempel pada dinding batu karang yang berlendir lumut asin, sementara kedua tanganku memeluk lutut yang gemetaran.
Di tengah ruangan pengap bercampur bau muntahan pelaut mabuk itu, sebuah meja bundar dari kayu jati tebal yang permukaannya dilapisi kain laken hijau compang-camping menjadi altar pemujaan sekaligus jurang kutukan. Di atas kain laken yang ternoda bercak anggur dan darah kering itu, sepasang dadu dari tulang paus yang digosok minyak pala berguling-guling tanpa henti. Taktak-taktak. Bunyi benturan tulang itu di atas kayu jati masih terngiang di telingaku hingga malam ini—kering, berongga, dan berbunyi persis seperti suara gigi orang sekarat yang bergemeletuk menahan sakratulmaut.
Dan lelaki yang melempar dadu itu dengan mata merah menyala dan urat leher yang menegang kaku seperti tambang kapal adalah ayah kandungku sendiri: Laksamana Agung Malik Ghazanfar. Pahlawan agung yang patung dadanya terpasang di balai kota dengan selempang penghargaan dari emas murni, lelaki yang diagungkan para penyair istana sebagai 'Sang Elang Samudra', padahal dalam kenyataannya hanyalah seekor serigala tua penjudi yang jiwanya telah digadaikan kepada syahwat lemparan angka.
"Satu putaran lagi, Viqar kecilku!" suara serak ayahku terdengar bagai bisikan iblis yang menggema dari dasar sumur tua, diiringi gelak tawa parau yang berbau asap candu dan arak basi. Matanya yang cekung menatapku liar saat tangannya meraih cawan dadu gading. "Lihat ayahmu malam ini! Satu lemparan angka genap lagi, dan seluruh kapal perbekalan yang ditahan para bajak laut di Selat Pesisir akan kembali ke bawah panji kita! Aku akan tebus kembali tanah pusaka kakekmu yang tersita! Aku akan belikan ibumu kalung zamrud sebesar telur puyuh! Kau akan menjadi pangeran samudra yang paling disegani di tujuh tanjung!"
Namun tidak pernah ada angka genap yang menyelamatkannya. Yang datang hanyalah kebohongan demi kebohongan baru untuk menutupi jurang utang yang kian menganga. Setiap kali dadu tulang paus itu berhenti pada angka sial, selembar surat utang bertinta merah darah kembali ditandatanganinya di bawah todongan tatapan dingin para perantara sindikat bajak laut Pesisir Barat.
Puncak dari kegilaan itu terjadi ketika aku menginjak usia lima belas tahun. Malam itu, bukan sekadar keping perak atau surat tanah keluarga yang dipertaruhkan ayahku di atas meja judi Bandar Karang, melainkan rute rahasia pelayaran tiga kapal perang garnisun kekaisaran yang mengangkut peti rempah dan kas militer tahunan. Ayahku sengaja memerintahkan konvoi itu melayari alur dangkal yang mematikan di Selat Pesisir, menyerahkan mereka bulat-bulat ke dalam sergapan meriam armada bajak laut Pesisir, semata-mata agar kemenangannya di meja judi lintah darat dihapuskan sebagai 'kompensasi jasa navigasi'.
Keesokan harinya, ketika berita mengenai terbakarnya tiga kapal garnisun dan tewasnya seratus dua puluh perwira laut tiba di istana raja, ayahku bersimpuh di hadapan baginda dengan jubah yang disobek dan debu yang ditaburkan di atas kepalanya. Ia menangis tersedu-sedu, bersumpah di hadapan mahkota bahwa armada itu ditelan oleh 'bencana badai topan yang tak terelakkan dan amukan gurita raksasa laut selatan'. Negeri ini berkabung, para janda menangisi suami mereka yang gugur, dan ayahku menerima medali penghibur duka dari dewan kerajaan. Tidak ada seorang pun yang tahu bahwa air mata kepahlawanannya hanyalah ludah beracun yang digunakan untuk membasuh darah pengkhianatannya sendiri.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
BAGIAN III: RANJANG APEK DAN WARISAN TERKUTUK
⋅☾ ☼ ☽⋅
Kebohongan itu berhasil bertahan selama bertahun-tahun, menyelimuti rumah besar keluarga Ghazanfar dengan tirai kemuliaan palsu. Ayahku terus dielu-elukan sebagai sesepuh perang, sementara aku meniti karier kemiliteran dengan satu tekad gila: membersihkan noda yang tak terlihat itu dengan darah musuh di medan tempur. Setiap sayatan pedang di tubuhku di palagan perbatasan selatan kutanggung dengan senyuman, karena kupikir setiap tetes darah yang kutumpahkan untuk negeri ini akan mampu menebus dosa busuk yang disembunyikan di bawah lantai rumah kami.
Betapa congkak dan naifnya diriku saat itu.
Kenyataan yang sesungguhnya baru menghunjam ulu hatiku pada malam saat ayahku meregang nyawa di pembaringan reotnya lima musim dingin yang lalu. Kamar tidurnya di sayap barat rumah keluarga berbau apek, dipenuhi uap cuka asam dan bau nanah dari paru-parunya yang membusuk digerogoti batuk darah menahun. Di luar, angin laut menderu membawa bau garam dan bangkai ganggang yang membusuk di dermaga.