Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #31

# Keputusan di Ujung Jarum

Momen kejelasan nurani Kemuning. Mengasihi seseorang tidak berarti harus menghancurkan martabat diri sendiri.

POV: Puteri Kemuning | Lokasi: Balairung Kemuning, Keraton Sri Cempaka

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


Hujan bulan Kartika tidak pernah belajar sopan santun di bumi Sri Cempaka. Air langit itu menghantam atap sirap Balairung Kemuning dengan gemuruh yang menyerupai desing anak panah serdadu perbatasan. Di dalam ruangan berpilar jati hitam berukir naga laut ini, bau dupa gaharu purba bercampur baur dengan aroma tanah basah dan keringat dingin seorang pangeran yang kehilangan mahkotanya sebelum perang sempat dikibarkan. Pelita kuningan berkaki sembilan bergoyang perlahan diembus tempias angin malam, melempar bayang-bayang gelisah ke atas ubin marmer kelabu yang memantulkan sosok kami seperti dua hantu yang enggan beranjak ke liang lahat.

Aku tidak mengangkat wajah dari pemidang sulamanku. Di atas bentangan sutra cindai warna nila itu, sayap seekor garuda kencana baru selesai separuh. Jarum perak bermata intan di jemariku masih terasa sedingin salju lereng Meratus, menusuk kain berulang-ulang dengan ketukan ritmis yang teratur. Setiap tusukan adalah upaya keras menahan degup jantungku sendiri agar tidak melompat keluar dan mempermalukan darah raja-raja yang mengalir di urat nadiku.

“Kain itu tidak akan melarikan diri ke mana pun, Kemuning,” suara Viqar memecah dengung hujan, parau dan bergetar, namun masih menyimpan serpihan kelakar getir yang lazim digunakannya saat terdesak. “Berbeda denganku, yang tampaknya telah berhasil membuang separuh martabat Ghazanfar ke dalam selokan istanamu hanya demi bisa bersimpuh di atas karpet berlumut ini. Sungguh, jika ayahanda tahu aku datang seperti kucing comberan yang kedinginan mencari sisa dendeng di emperan dapurmu, beliau pasti akan bangkit dari kuburnya hanya untuk membunuhku untuk kedua kalinya.”

Aku menarik benang emas terakhir perlahan, lalu mendesah pelan seraya memotong seratnya dengan ujung gunting tembaga. “Kucing basah biasanya memiliki kesopanan paling mendasar, Yang Mulia: mengeringkan bulunya terlebih dahulu sebelum meneteskan air berlumpur ke atas karpet tenun Persia yang didatangkan pamanku dengan menukar tiga puluh ekor kuda teji.”

Namun kata-kataku yang tajam menguap di udara lembap saat aku akhirnya menatapnya. Lelaki itu bersimpuh di atas lututnya sendiri. Jubah beludru hitam bersulam benang perak kebanggaan wangsa Ghazanfar koyak di bagian keliman, basah kuyup oleh lumpur rawa yang pekat. Bahunya yang dulu kukenal bidang dan tegak menantang angin kini melengkung ke bawah, terguncang oleh napas pendek yang tertahan. Seluruh keangkuhan garis keturunan elang gurun itu luruh, menyisakan kerangka seorang pemuda yang sedang dihancurkan oleh isi kepalanya sendiri.

Perlahan, aku meletakkan jarum perakku ke atas bantalan beledu hijau lumut di atas meja cendana. Langkah kakiku tanpa alas bergesek hening di atas marmer. Jarak lima langkah di antara kami terasa seperti perjalanan melintasi seratus musim kekeringan. Ketika aku berhenti tepat di sampingnya dan mengulurkan tangan, jemariku mendarat di atas pundak kirinya yang dingin membeku.

───⋅☾ ☼ ☽⋅───

Lihat selengkapnya