Katakan Ya atau Tidak

Amrullah Ibrahim
Chapter #33

Fajar di Lereng Gunung

Kelahiran kembali Puteri Kemuning. Berdiri di tempat yang sama di mana ia pertama kali bertemu Viqar, namun kini dengan kesadaran baru yang utuh. Tindakan simbolis teragung dalam novel. Ketika pria yang dicintainya masih lumpuh dalam keraguan antara takhta klan dan cinta sejati, Kemuning sendirilah yang memadamkan pelita harapan palsu demi menyelamatkan martabat jiwanya.

POV: Puteri Kemuning·Titian Jembatan Kaki Gunung Lawu, Waktu Fajar Baru

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


I. Sumbu Berjelaga dan Gurauan Orang Tercekik

Balairung Kemuning yang Dingin dan Bau Keringat Manisan Pala

⋅☾ ☼ ☽⋅

Pelita tembaga berkaki tiga itu berdiri di sudut Balairung Kemuning seperti saksi bisu yang terlampau tua dan lelah untuk peduli pada nasib anak manusia. Logam kakinya telah diselimuti verdigris kehijauan—karat purba yang menjadi bukti tak terbantahkan bahwa waktu selalu menelan keangkuhan logam, persis seperti ambisi dinasti yang perlahan menggerogoti sumsum pemuda di hadapanku. Minyak jarak di dalam mangkuk pelita mendesis pelan, meletupkan percikan kecil yang mengeluarkan aroma tengik yang menusuk hidung, bertarung sengit dengan wangi bunga melati layu dari sanggul rambutku serta anyir keringat dingin Viqar yang berbau samar seperti manisan pala basi.

Malam telah merambat jauh melampaui tabuh kentongan ketiga. Di luar dinding balairung yang kokoh, angin pegunungan menyusup melalui celah-celah kisi kayu jati berukir naga purba, menggetarkan tirai beludru kuning kemuning yang telah pudar warnanya. Di ruangan seluas tiga puluh depa ini, hanya ada kami berdua: seorang puteri yang telah kehilangan tanah airnya, dan seorang pangeran yang ketakutan kehilangan takhta yang belum pernah benar-benar ia duduki.

Viqar masih mematung di sana, tepat dua jengkal dari tepi alas marmer kelabu. Posturnya serba canggung dan menyedihkan. Sebelah kakinya bergeser sedikit ke arah pintu keluar, seolah naluri binatang di dalam tubuhnya telah memerintahkan otot betisnya untuk segera melarikan diri dari penghakiman ini, sementara kedua tangannya mengepal di balik lipatan rompi sutra ungu keemasan—rompi kebesaran klan Mahardika yang tampak dua ukuran terlalu besar untuk bahunya yang bungkuk didera kecemasan.

**[Viqar]** "Kemuning," suaranya tercekat di kerongkongan, serak dan sumbang, terdengar mirip senar rebab lapuk yang dipaksa berdendang di tengah hujan lebat. "Jika... jika saja kau sudi bersabar barang dua purnama saja. Paman Arya sedang menata ulang persekutuan di kadipaten pesisir utara. Bila lumbung-lumbung padi di perbatasan barat telah aman dari ancaman paceklik, aku bersumpah demi arwah para leluhur... aku akan menemukan jalan keluar bagi kita."

**[Kemuning]** "Dua purnama?" Aku memotong kalimatnya dengan senyuman yang bahkan membuat otot-otot di pipiku sendiri terasa kaku dan kebas. Aku menyilangkan kedua tangan di depan dada, membiarkan selendang sutra kuning gading jatuh menyampir di lengan. "Luar biasa, Viqar. Sungguh sebuah rancangan diplomasi adiluhung yang sangat pantas dipahat dengan tatah perak pada prasasti batu kali. Dua purnama bagi para bangsawan di pesisir adalah waktu yang cukup untuk menghabiskan tujuh tempayan tuak nira, membantai puluhan ekor kambing guling, dan menggelar tiga kali pertarungan ayam jago berdarah. Namun bagiku, Kangmas Pangeran, dua purnama adalah waktu yang tepat bagi Dewan Tetua klanmu untuk memasangkan mahkota emas daun nangka ke kepalamu, sekaligus mengalungkan tali kekang pernikahan Puteri Gayatri ke lehermu yang lembut itu."

**[Viqar]** Viqar menelan ludah dengan susah payah. Jakunnya naik-turun dengan irama yang kacau. "Gayatri hanya... dia hanya bidak kayu di papan catur Paman Arya! Kami bahkan tidak pernah bertegur sapa kecuali tentang jenis rumput kering terbaik untuk kuda pacuan impornya dari tanah seberang! Demi sembilan penjuru angin, Kemuning, apakah kau sungguh-sungguh mengira aku bernafsu pada seorang gadis yang hobi utamanya adalah mencium kuku kuda sebelum tidur dan memeriksa air kencing keledai setiap pagi?"

Tawa kecil bergetar di tenggorokanku—bukan tawa gembira, melainkan jenis desah tawa getir yang kerap dikeluarkan oleh tabib istana tatkala melihat seorang pasien sekarat bersikeras bahwa racun arsenik di mangkuk buburnya hanyalah bumbu ketumbar yang kelewat pedas. Betapa khasnya Viqar. Bahkan di bibir jurang kehancuran cinta kami, ia masih berusaha berlindung di balik kelakar murahan. Humor adalah perisai pengecutnya yang paling mengilap; selembar tirai lelucon tipis yang ia bentangkan agar dunia tidak menyadari bahwa di balik baju zirah kebesarannya tidak ada tulang punggung, melainkan hanya sebongkah daging lunak yang gemetar setiap kali mendengar derap langkah para tetua klannya.

**[Kemuning]** "Dan apakah kuda-kuda berbulu pirang itu nantinya yang akan kau ajak duduk di singgasana gading untuk menyusun undang-undang negeri, Viqar?" tanyaku pelan, membiarkan nada suaraku meluncur dingin laksana tetesan embun pertama di atas mata tombak. "Kudengar kuda-kuda Kadipaten Pesisir sangat setia pada tuannya. Mereka setidaknya mengerti kapan harus meringkik menyambut badai dan kapan harus melompat ke jurang demi kehormatan. Berbeda sekali dengan calon penunggangnya yang malam ini masih meraba-raba sumbu pelita seperti anak balita ketakutan yang tersesat di tengah riuhnya pasar malam malam selikuran."

───⋅☾ ☼ ☽⋅───


II. Bayang-Bayang di Kolam Teratai (Retrospeksi Pertama & Kedua)

Pencurian Pelita Kuil dan Noda Manisan Pala di Atas Dekrit Berdarah

⋅☾ ☼ ☽⋅

Wajah Viqar memucat seketika, seputih kapur sirih yang belum dioleskan ke daun tembakau. Sudut-sudut matanya yang bundar kini basah, berkilau memantulkan lidah api pelita tembaga yang menjilat-jilat udara malam. Ketika ia mengangkat tangan kanannya ke udara, jemarinya bergetar dengan ritme yang memilukan—bukan karena dinginnya hawa pegunungan yang menusuk pori-pori kulit, melainkan karena di dalam rongga dadanya, dua kekuatan raksasa sedang bertarung saling meremukkan: keharusan darah dinasti yang menuntut ketaatan buta, dan cinta masa muda yang kini menuntut kejelasan sikap tanpa syarat.

Melihat jemari bergetar yang ragu-ragu itu mengambang di dekat api, benakku terseret meluncur ke masa lima tahun yang lampau. Kala itu, pelita tembaga berkaki tiga ini belum berkerak hijau oleh karat waktu. Malam itu, di bawah rembulan muson yang basah oleh wangi bunga randu yang berguguran di halaman Kuil Tua Sayang, Viqar masihlah seorang pangeran remaja yang kurus, berambut ikal tak teratur, dengan sepasang lutut yang selalu bertotol luka getah pohon akibat memanjat benteng tanpa izin pengawal istana.

Malam itu, dengan kenekatan gila khas anak bangsawan yang bosan pada tata krama kaku, ia memanjat tembok kuil tua yang batunya telah ditumbuhi lumut tebal hanya demi mencuri pelita tembaga berkaki tiga ini dari altar pemujaan para resi tapa. Ia menyelinap masuk ke pelataran keputrenku melalui lubang saluran air, bajunya sobek tersangkut semak mawar berduri, nafasnya terengah-engah dengan bulir peluh menggantung di ujung hidungnya. Sambil memeluk pelita tembaga itu seolah telah merampas mustika naga dari dasar samudra, ia meletakkannya di undakan batu kali tepi kolam teratai.

'Kemuning!' bisiknya kala itu dengan sepasang mata cokelat yang menyala penuh binar petualangan, seraya mengeluarkan segulung daun lontar kumal dari balik ikat pinggang kain luriknya. 'Pelita tembaga berkaki tiga ini tidak boleh padam malam ini! Aku bahkan telah mencuri setengah botol minyak kayu cendana wangi dari almari pusaka ibunda demi menerangi pembacaan syair agung yang kugubah sendiri!'

Syair itu sesungguhnya adalah sebentuk karya sastra paling menggelikan yang pernah diciptakan di muka bumi. Di dalamnya, Viqar dengan berani menyamakan daun teratai yang mengapung di air tenang dengan tahi lalat manis di pipi kiriku, ditulis dengan tinta jelaga arang yang luntur berantakan terkena cipratan air kolam. Kami berdua duduk bersila di atas batu berlumut hingga kokok ayam jantan pertama menyambut fajar, memakan buah jambu air muda yang kami cocol ke garam cabai, tertawa terbahak-bahak sampai perut kami kram membayangkan bagaimana para pandita kuil yang jenggotnya panjang menyapu tanah akan mengutuk pencuri pelita suci mereka.

Betapa murahnya harapan di masa muda! Betapa mudahnya kita bersumpah untuk menaklukkan sembilan cakrawala ketika satu-satunya musuh yang menghadang hanyalah pengawal istana yang mengantuk di pos jaga. Saat itu, menyalakan pelita adalah lambang keberanian tanpa batas; sebuah deklarasi ceria bahwa cinta kami lebih abadi daripada prasasti batu tembaga mana pun.

Namun keindahan dongeng itu membusuk perlahan, setitik demi setitik, persis seperti minyak jarak basi yang mengental di dasar cawan tembaga ini. Ingatan manis di kolam teratai itu seketika diinjak lumat oleh bayang-bayang kelam tiga purnama yang lalu—hari di mana kereta kencana beroda besi milik Dewan Tetua Mahardika berderak memasuki gerbang pasanggrahan, membawa segulung kain sutra merah tua berstempel lilin darah.

Aku masih mengingat dengan amat jernih bagaimana Viqar melangkah masuk ke kamarku sore itu. Kedua telapak tangannya lengket dan berbau tajam oleh sirup manisan pala kering—kebiasaan kekanak-kanakan yang selalu ia kambuhkan setiap kali jiwanya dihantam kepanikan hebat. Ia mengunyah manisan itu dengan rakus, seolah gula dan asam buah pala dapat menenggelamkan rasa bersalah yang menggerogoti ulu hatinya.

Lihat selengkapnya