BABAK I: Titian Kabut dan Kayu yang Berderit
⋅☾ ☼ ☽⋅
Kabut di lembah kaki Gunung Lawu tidak pernah benar-benar tidur; ia hanya bergeser perlahan, melingkari batang-batang pohon damar yang menjulang bagai pilar-pilar raksasa, lalu merayap turun menciumi permukaan tanah basah yang masih menyimpan dendam hujan semalam. Di bawah pijakan kakiku, bilah-bilah kayu jati pada jembatan gantung berderit halus—sebuah suara rengkuhan lapuk yang teramat kukenal, bagaikan rekaman pita tua yang terus memutar ulang derap langkah raguku selama tiga warsa terakhir.
Dingin pagi menyergap tanpa ampun, menusuk kain jarik bermotif parang rusak yang kupilin rapat di ujung jariku. Jemariku kaku, membiru di bagian kuku, namun untuk pertama kalinya dalam ribuan purnama yang melelahkan, gigil ini tidak terasa menyiksa. Ini bukan dingin yang membekukan harapan atau mengikis keberanian. Ini adalah dingin yang membasuh nanar, sebuah penawar dahaga bagi jiwa yang terlalu lama terbakar oleh ketidakpastian.
Aku berdiri persis di tengah titian jembatan, memegang erat tali tambang berselaput lumut tipis di sisi kiri dan kanan. Tali itu kasar dan lembap, memberikan rasa pasti yang nyata pada telapak tanganku. Jauh di bawah sana, di kedalaman jurang yang curam dan diselimuti uap air, gemericik air Sungai Kali Gandul berdentang nyaring menabrak batu-batu andesit purba. Suara gemericik itu bersahutan harmonis dengan siulan burung jalak lawu yang mulai memanggil kawanannya, menyambut fajar yang merayap perlahan dari balik tebing.
Biasanya, setiap kali aku berdiri di sini, kepalaku dipenuhi oleh gemuruh pertanyaan yang tak berkesudahan, sebuah tarian kecemasan yang membuat dadaku sesak: Apakah burung merpati pos akan tiba hari ini membawa carik kertas beraroma tembakau kering? Apakah derap tapak kuda dari arah kota kadipaten yang terdengar samar dari kejauhan menandai kepulangannya? Apakah kali ini dia membawa kabar penentuan?
Namun, pagi ini sungguh berbeda. Kesunyian lereng gunung terasa begitu bening, begitu jernih hingga aku bisa mendengar detak jantungku sendiri yang berirama tenang. Tidak ada surat yang kutunggu. Tidak ada bayangan penunggang kuda yang kucari di antara celah pohon damar. Dan anehnya, ketiadaan penantian itulah yang menghadirkan kebebasan paling suci, paling murni, yang pernah kurasakan sepanjang usiaku.
Napas yang kuhela terasa begitu ringan, meluncur masuk tanpa hambatan, terlepas penuh dari simpul sesak yang selama ini mengikat hulu hatiku. Udara pegunungan yang menyengat segar mengalir masuk memenuhi rongga dada, menyapu bersih residu keraguan yang kemarin sore sempat mengancam akan merobohkan seluruh dinding pertahananku. Di sini, di atas jurang berkabut yang membentang antara tebing bukit dan lereng terjal, aku akhirnya menyadari sebuah kebenaran yang melampaui segala teori cinta: bahwa kepastian yang paling kokoh tidak pernah datang dari janji seorang pria, melainkan dari keberanian seorang wanita untuk menutup pintu penantiannya sendiri.
Lembah di bawahku mulai tersingkap perlahan. Bayang-bayang tebing yang tadinya hitam keabu-abuan kini berangsur memudar, menampilkan gradasi hijau tua dari rumput-rumput liar dan pepohonan paku yang lebat. Aku memejamkan mata sejenak, membiarkan angin dingin menyapu kelopak mataku. Dalam keheningan itu, aku tidak lagi merasa sedang menunggu siapa pun. Aku hanya sedang ada—hadir utuh untuk diriku sendiri.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
BABAK II: Bayang-Bayang Tiga Warsa dan Janji yang Mengambang
⋅☾ ☼ ☽⋅
Bayangan tiga tahun lalu mendadak melintas di ingatan, berputar bagai pertunjukan wayang beber yang samar di balik layar kain. Di titian kayu yang persis sama ini, Viqar pernah berdiri menghadapku. Kala itu, gerimis senja turun rintik-rintik, menciptakan kabut tipis yang membuat rambut ikalnya lepek menempel di pelipisnya yang tegap. Aku masih ingat betul binar matanya—binar mata yang selalu tampak hangat, tetapi anehnya selalu menyembunyikan sebuah telaga rahasia yang tak pernah sanggup kuselam seberapa dalam pun aku mencoba.
"Tunggulah aku, Kemuning," ucapnya saat itu, suaranya berat dan bergetar halus oleh emosi yang sengaja ia rekayasa sedemikian rupa. Ia mengambil tanganku, lalu menyelipkan sehelai daun pakis basah ke telapak tanganku yang gemetar. "Sebelum musim panen ketujuh usai, aku akan membawa jawaban yang pantas untuk martabat keluargamu. Janjiku terikat pada tanah Lawu ini."
Betapa kekanak-kanakannya aku saat itu. Betapa naifnya jiwa mudaku yang dengan mudah mempercayai bahwa waktu adalah sekutu terbaik cinta. Aku menyimpan daun pakis itu di dalam lipatan kitāb doaku sampai ia mengering dan hancur menjadi serbuk kecokelatan. Nyatanya, waktu bukanlah sekutu; waktu adalah penelanjang kebohongan yang paling dingin. Musim panen ketujuh telah berlalu tanpa bisikan kabar. Ia berganti menjadi musim kedelapan, lalu musim kesembilan. Butir-butir padi di ladang terasering di lereng bukit menguning, dipanen, dibakar jeraminya, dan ditanami kembali berulang kali tanpa ada sepatah kata pun dari Viqar yang memiliki ketegasan.
Viqar adalah seorang pengelana aksara, seorang bangsawan muda yang lihai merangkai perumpamaan indah tentang angin samudra, deburan ombak selatan, dan rembulan yang bersembunyi di balik dahan randu. Namun, di balik segala keindahan susunan katanya, ia selalu gagap, selalu kelu, saat dihadapkan pada satu kata sakral yang membutuhkan keberanian jantan: keputusan. Di tangannya, cinta kami bukanlah sebuah bahtera yang memiliki kemudi dan tujuan pelabuhan yang jelas, melainkan sebuah layang-layang putus—dibiarkannya mengambang tinggi, terbawa pusaran angin gunung tanpa pernah diberi kejelasan apakah akan ditarik pulang atau direlakan jatuh menyentuh tanah.
Puncaknya terjadi kemarin sore. Di serambi pendapa kadipaten yang megah, di tengah aroma dupa kayu cendana dan riuh suara abdi dalem, Viqar akhirnya kembali. Ia berdiri anggun dengan jubah kebesarannya yang terbuat dari kain sutra beludru sulam emas, membawa senyam-senyum yang masih sama manisnya dengan senyuman tiga tahun lalu. Namun, alih-alih membawa rombongan lamaran atau setidaknya kepastian yang tegas, ia kembali menyodorkan janji baru yang lapuk.
"Beri aku sepekan lagi untuk berunding dengan para tetua, Kemuning," bujuknya lembut sore itu. Langkah kakinya mendekat, dan jemarinya yang halus berusaha menyentuh ujung selendang kuning yang melingkari bahuku—sebuah trik manja yang biasanya selalu berhasil meluluhkan segala amarah dan kekecewaanku. "Para tetua masih mempertimbangkan perihal garis keturunan dan selisih kasta kita. Hanya sepekan lagi, kupohon."
Namun, saat mataku menatap manik matanya yang berkilat penuh permohonan itu, sesuatu di dalam jiwaku mendadak patah dengan bunyi yang teramat nyaring di dalam dada. Anehnya, patahnya rasa itu bukan dikarenakan oleh rasa benci atau amarah yang membara, melainkan oleh rasa kelelahan yang teramat pekat—sebuah kelelahan batin yang telah menumpuk selama 1.095 hari.
Aku menarik melangkah mundur satu tapak, membiarkan jemarinya menggapai udara kosong. Suaraku saat membalas ucapannya terdengar sangat tenang, sebuah ketenangan dingin yang bahkan mengejutkan diriku sendiri.
"Tidak, Kakanda Viqar," kataku sambil menatap lurus ke dalam matanya tanpa sedikit pun keraguan. "Cinta yang membutuhkan begitu banyak alasan dan penundaan untuk memuliakan, sesungguhnya hanyalah keraguan yang bersolek di balik kata sabar. Perjalananmu silakan berlanjut menuju puncak cita-citamu, tetapi langkah kakiku telah sampai di tujuannya: rumahku sendiri."
Rasa ngilu dari keputusan kemarin sore itu tentu saja masih tersisa di sini, di balik tulang rusukku. Rasa itu berdenyut pelan bagaikan luka bekas sayatan bambu sembilu yang baru saja dibasuh oleh air garam. Siapa orangnya di dunia ini yang sanggup menghapus kenangan ribuan senja, ratusan surat puisi, dan ribuan bisikan janji hanya dalam satu kedipan fajar? Ada sebuah ruang kosong di dadaku yang masih terbiasa mencatat jejak langkah kakinya.
Tetapi aku sadar, ngilu ini adalah rasa sakit yang sehat—seperti rasa sakit luar biasa ketika sebuah anak panah berkarat yang telah bertahun-tahun tertancap di daging akhirnya dicabut secara paksa. Berdarah, ya. Perih dan menyengat, tentu. Namun, pencabutan luka berkarat itulah satu-satunya cara untuk membuka ruang bagi kesembuhan yang sejati dan utuh.
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
BABAK III: Kepulan Asap Wedang Jahe dan Seloroh Sang Ibu
⋅☾ ☼ ☽⋅
"Sudah kuduga kau berniat menjadi arca baru pengawas jembatan, Nduk."
Sebuah suara renyah, agak serak, namun memancarkan kehangatan yang familiar membuyarkan seluruh pusaran retrospeksi di kepalaku. Aku menoleh cepat ke arah ujung jalan setapak dan mendapati Ibunda sedang berjalan melintasi undakan batu tebing dengan langkah yang sangat hati-hati namun mantap.
Kedua tangannya yang mulai keriput menggenggam dua cangkir seng loreng hijau-putih yang mengepulkan uap panas beraroma wangi, sementara di bawah ketiaknya terselip piring anyaman bambu beralas daun pisang kering. Kain jarik sogan bernuansa cokelat tua yang dikenakannya terangkat sedikit di bagian depan agar tidak terseret lumpur basah, menampakkan selop kulit tua yang bagian tumitnya sudah aus termakan usia.
"Ibu! Kenapa susul kemari sepagi ini? Titian ini masih sangat licin berembun!" seruku khawatir seraya bergegas melangkah beberapa depa ke ujung jembatan untuk menyambut serta membantu membawakan barang bawaannya.