
Penutup kisah roman sejarah "Katakan Ya atau Tidak". Kejelasan sikap, betapapun pahitnya, selalu lebih mulia daripada seumur hidup terperangkap dalam keraguan.
POV: Narator / Epilog·Kadipaten, Tiga Warsa Kemudian
───⋅☾ ☼ ☽⋅───
TIGA warsa telah berlalu sejak malam kelam ketika pelita tembaga di Balairung Sasana Kemuning ditiup padam oleh hembusan nafas keputusasaan. Di lereng timur Pegunungan Wilis, pagi selalu merayap dengan tata krama yang lambat. Kabut putih laksana selendang sutra dewa-dewi perlahan tersibak dari pucuk-pucuk pohon pinus merkusii, memperlihatkan terasering sawah yang mulai berkilau tertimpa pendar emas surya perawan. Udara dingin pegunungan menyengat lembut cuping hidung, membawa serta harum basah humus hutan, getah damar yang terbakar matahari, dan—di atas segalanya—aroma pekat ribuan kuncup melati putih yang sedang merekah serentak di pelataran kadipaten. Bau tanah basah sehabis hujan lebat semalam seolah menjadi minyak wangi purba yang membasuh segala endapan kepedihan masa lalu, menegaskan bahwa tanah ini telah bangkit merdeka dari segala belenggu keluh-kesah.
Di sudut pelataran berbatu andesit yang basah oleh embun, seorang perempuan berjongkok di sisi bedengan tanah gembur. Jemari lentiknya yang dulu terbiasa memetik dawai siter keraton kini belepotan lumpur cokelat pekat. Puteri Kemuning menolak mengenakan sarung tangan beludru bersulam benang perak sebagaimana lazimnya para ningrat berdarah biru. Ia hanya mengenakan sehelai kebaya katun putih berpotongan ringkas, dipadu kain jarik bermotif sidomukti sogan yang ujung bawahnya telah disingsingkan hingga batas betis agar tak terseret lumpur. Selendang sutra kuning gading tersampir santai di bahu kirinya, berkibar pelan tiap kali angin tenggara bertiup mengirim kesejukan dari jurang kali. Tidak ada mahkota ratu di atas gelung rambutnya yang sederhana, hanya setangkai melati segar yang diselipkan di atas telinga kanan, menebarkan wangi murni yang mengalahkan kemewahan minyak kasturi manapun di tanah Jawa.
"Oalah, Gusti Ayu junjungan para bidadari bumi Wilis!" sebuah seruan nyaring yang cempreng memecah kesyahduan kabut pagi, disusul bunyi derit bakiak kayu yang beradu dengan lantai batu selasar. Mbok Randu melangkah tergopoh-gopoh sambil menyeimbangkan sebuah nampan kuningan berisi cangkir tanah liat dan sepiring singkong kukus yang mengepulkan asap sedap. Wajah inang pengasuh sepuh itu berkerut-kerut dramatis, matanya yang bundar mengerling ke arah tanah becek dengan ekspresi ngeri yang dibuat-buat. "Demi Bathara Brahma yang menguasai perapian dapur! Jika mendiang Kanjeng Adipati bangkit dari pasarean dan melihat putri mahkotanya mencangkul tanah laksana kuli tanam upahan dari Kadipaten Kulon, beliau pasti akan mengutuk ubi rebus hamba menjadi batu ampas tahu! Gusti Putri, tangan halus itu diciptakan juru takdir untuk memegang cap stempel pusaka dan menepis lalat ningrat yang kurang ajar, bukan untuk berteman akrab dengan cacing tanah yang gemuk-gemuk itu!"
Kemuning menyeka peluh di dahinya dengan punggung tangan, meninggalkan sedikit corengan tanah basah di pelipisnya yang kuning langsat. Tawa renyahnya berderai, lepas dan tanpa beban—suara tawa yang tiga tahun silam terasa musykil terdengar di istana yang pernah terkungkung duka. "Mbok Randu, cacing-cacing tanah ini jauh lebih jujur daripada kebanyakan pangeran berkumis tebal yang bertamu ke pendapa agung kita. Mereka menggemburkan tanah tanpa menuntut upeti, dan tak pernah mengirim surat berlipat-lipat hanya untuk menanyakan apakah wangi melatiku masih semanis musim semi kemarin. Berikan wedang jahe itu padaku sebelum bibirmu yang tajam itu menghanguskan seisi bedengan bunga ini."
Belum sempat Mbok Randu menyodorkan cangkir tanah liat itu, langkah tegap bersepatu lars kulit berderap dari arah regol keputren. Ki Danureja, lurah wredha sekaligus mantan senapati sayap kiri yang kumis baplangnya seolah dirancang khusus untuk menakut-nakuti perompak selat, melangkah tergesa seraya menenteng segulung lontar berikat tali sutra merah jambu. Namun, ketegasan langkah prajurit gaek itu buyar seketika saat ujung sarung kerisnya menyenggol ranting bugenvil, membuatnya terhuyung kikuk seraya berdeham berat untuk menyelamatkan sisa-sisa wibawanya di hadapan sang junjungan. Mbok Randu langsung mendengus geli, melipat tangan di dada dengan seringai kemenangan.
"Nah, lihatlah sang pahlawan perang kita," sindir Mbok Randu tanpa ampun, memutar bola matanya. "Jalan di atas batu datar saja nyaris mencium lantai perawan, bagaimana dulu bisa menunggang kuda tempur menerjang barisan panah musuh? Jangan bilang kau membawa surat lamaran lagi dari Adipati Jayengrana yang jenggotnya sudah beruban semua itu, Danureja? Jika ya, lebih baik lontar itu kita gunakan untuk menyalakan arang di tungku pemanggangan ketan! Terakhir kali utusannya datang, mereka menghadiahkan dua ekor burung merak jantan yang kerjanya hanya berak di lantai pringgitan dan berteriak parau tiap kali mendengar ayam berkokok!"
"Jaga lidah pedasmu itu, Nyi Randu! Di medan laga, sehelai bulu ketiakku saja bergetar mampu menggentarkan sepuluh prajurit berkuda!" dengus Danureja jengkel seraya memilin kumis lebatnya, kendati telinganya memerah menahan malu. Ia kemudian berlutut dengan satu kaki di hadapan Kemuning, membungkuk takzim seraya merendahkan nada suaranya. "Ampun beribu ampun, Gusti Putri. Gulungan ini bukan dari Adipati tetangga yang gemar merayu. Ini warta resmi dari pelabuhan pesisir utara, dibawa oleh kurir berkuda cepat yang berganti tunggangan tiga kali dari bandar raya." Danureja terdiam sejenak, melirik ragu ke arah Kemuning. "Cap segelnya... burung elang laut mencengkeram trisula perak. Wangsa Ghazanfar."