KATALOG IBU

Puspa Seruni
Chapter #1

1. Sebuah Fakta

Setelah lima hari tak menemukan hal yang mencurigakan pada tingkah laku Guntur, siang itu Wisnu dikejutkan kayuhan sepeda Guntur yang tak seperti biasa. Sepeda yang seharusnya berbelok menuju toko kelontong milik Haji Umar justru berbelok ke arah TPA Cilincing. Bocah lelaki berusia sembilan tahun itu mengayuh sepedanya dengan kecepatan penuh. Dia lantas berbelok masuk ke gang rumahnya. Wisnu menunggu di pinggir jalan dengan keringat mengucur. Ketika putus asa menyapanya, Guntur melintas dengan rambut yang disisir rapi dan klimis. 

Kaos partai lusuh dan kebesaran yang biasa dikenakan berganti kaos hitam bergambar Batman yang tampak baru. Aroma cologne murahan tercium dari jarak lima meter. Guntur terlihat bersepeda dengan riang meninggalkan kawasan Rorotan menuju kawasan Marunda. Wisnu mengikuti Guntur dari jarak aman dan terkejut ketika mendapati anak didiknya itu memasuki sebuah wisma yang diketahui sebagai rumah lokalisasi. 

Guntur menyandarkan sepedanya di bawah pohon jambu di pojok halaman. Dengan langkah riang, dia menapaki batu-batu yang dijajar rapi menuju tangga teras. Ada empat undakan pada teras. Tapak kaki yang melangkah mantap menciptakan suara yang ritmis. Di teras, perempuan berambut sebahu membentangkan tangan menyambut kedatangan Guntur. Guntur berhenti di atas undakan, tersenyum malu-malu lalu menghambur ke pelukan sang perempuan. Mereka berpelukan cukup lama. Setelah pelukan itu terlepas, sang perempuan mengusap kepalanya lalu keduanya berjalan bergandengan ke dalam rumah. Wisnu terpaku di tempatnya. Dia mengenal perempuan itu.

Dari luar, rumah bekas bangunan Belanda itu terlihat asri dengan kaca jendela besar dan halaman yang cukup luas untuk memarkir dua sampai tiga mobil. Tidak ada plang penanda apapun, tetapi hampir semua orang di kawasan Rorotan dan Marunda tahu bahwa rumah itu ditempati sepuluh orang perempuan yang tergusur dari kawasan Kramat Tunggak. Penggusuran itu sendiri dilakukan setelah adanya surat keputusan dari Gubernur Sutiyoso yang berencana mengalihfungsikan kawasan lokalisasi itu menjadi pusat kajian Islam.  Setelah nyaris satu tahun tergusur, lambat laun bermunculan rumah lokalisasi di Jakarta dan salah satunya di daerah Marunda. Rumah itu telah beroperasi dalam hening, tidak ada seorangpun yang berani mengganggu seolah ada penjaga tak kasat mata yang melindunginya. Desas-desus warga mengatakan, wisma itu dibekingi seorang petinggi negeri.

Wisnu menatap geram pada Guntur dan perempuan berambut sebahu yang bergandengan masuk ke dalam rumah. Setelah keduanya menghilang di balik daun pintu, Wisnu menyalakan motornya. Dia memacu motor Honda Astrea milik tetangganya itu menuju Rorotan. Selama membuntuti Guntur, Wisnu sengaja tidak menggunakan motor Honda Win 100 berplat merah miliknya agar tak mudah dikenali. Selain mengganti motor yang biasa dipakainya, dia juga menggunakan helm berpenutup wajah dan topi dekil untuk melengkapi penyamarannya. Wisnu yakin, Guntur tidak mengetahui bahwa selama lima hari terakhir ada seseorang yang mengamati kesehariannya.

Penguntitan itu terpaksa dilakukan karena adanya laporan dari seorang wali murid kelas 6 yang melihat Guntur memasuki rumah prostitusi di Kawasan Marunda. Laporan itu bersamaan dengan adanya laporan kehilangan uang dalam jumlah yang cukup banyak. Pencurian itu terjadi di kelas 3, kelas Guntur. Kehilangan uang itu tidak hanya terjadi satu kali. Niko dan Bu Romlah, wali Kelas 3, mengalami kehilangan uang dalam selang waktu satu minggu. 

Dua kejadian itu membuat Kepala Sekolah berang dan bergegas menggelar rapat dewan guru. Bu Romlah dan Niko dimintai keterangan. Dari penuturan Niko, uang seratus ribu miliknya yang disimpan di dalam dompet hilang saat jam istirahat. Sedangkan Bu Romlah, tampak tidak yakin dimana pastinya uang sebesar enam ratus ribu miliknya lenyap. Dengan menimbang kronologi pencurian dan laporan wali murid terkait aktivitas Guntur yang mencurigakan, rapat dewan guru akhirnya memunculkan nama Guntur sebagai tersangka satu-satunya.

“Kakeknya sudah meninggal. Jika benar Guntur sering ke lokalisasi, dia pasti butuh uang yang tidak sedikit. Dan tidak mungkin dari hasil mulung.” Pak Eko, wali kelas 6 memberi pandangan.

“Saya setuju. Apalagi dengar-dengar, yang di wisma itu bukan pelacur biasa. Penggunanya banyak kalangan menengah ke atas,” tambah Bu Nining, guru kesenian.

“Gak masuk akal ada anak pemulung bisa nyewa perempuan begituan, apalagi tarifnya mahal,” Bu Astuti, guru matematika menyela kedua rekannya.

“Dan aneh juga, kenapa Niko harus membawa uang sebanyak itu ke sekolah. Untuk apa? Apa itu tidak patut dipertanyakan?” sahut Pak Wasik, guru BK.

“Bapak boleh saja meragukan Niko, menganggap dia hanya mengarang cerita. Tapi bagaimana dengan uang Bu Romlah? Kita tahu Bu Romlah bendahara koperasi, uang tabungan anggota ada padanya.” Pak Danu, guru Agama, menoleh pada Bu Romlah yang duduk di sampingnya.

Perdebatan pun terjadi. Tidak semua guru sepakat untuk mengaitkan kejadian kehilangan uang di kelas 3 dengan laporan wali murid. Sebagian menganggap itu dua kejadian yang berbeda, namun sebagian lain melihat ada hubungan dari dua kejadian.

Di sudut ruangan, Wisnu duduk dengan kepala pening. Pandangannya jauh ke arah lapangan voli di samping sekolah. Sesekali, dari hidung dan mulutnya keluar asap rokok yang dibuang ke luar jendela. Wisnu mengenal Guntur sebagai murid yang jujur dan bertanggung jawab. Bahkan Guntur terlihat berbeda dari anak-anak sebayanya yang masih sibuk bermain karena Guntur harus membanting tulang membantu kakeknya mencari nafkah.

Dengan postur tubuh yang kecil dan padat, anak kelas 3 SDN 1 Cilincing itu memiliki dua kaki yang lincah dan kuat. Bocah laki-laki berkulit gelap itu terlatih berlari di belakang truk-truk sampah yang masuk ke TPA Cilincing. Dengan kaki yang terbungkus sepatu boots bekas berwarna kuning yang tampak kebesaran, Guntur akan mengejar truk yang membawa muatan sampah dari berbagai sudut Jakarta. Dia berupaya menaikinya sebelum pemulung lain tiba. Kesempatan pertama akan membuat Guntur lebih leluasa memilih “harta karun” sebelum yang lain ikut berebut naik. 

Keakraban Guntur dan Wisnu terjalin sejak satu tahun lalu. Pagi itu, Wisnu berdiri di gerbang sekolah sebagai guru piket yang bertugas memantau siswa yang terlambat. Dari jauh, Wisnu melihat Guntur–siswa kelas 2, berlari kencang ke arah gerbang. Tepat saat pintu akan ditutup oleh Wisnu, tubuh ramping Guntur menyelinap masuk. Dengan bibir tersenyum, Guntur menganggukkan kepala pada Wisnu yang berdiri berkacak pinggang.

Lihat selengkapnya