Guntur tidak ingat kapan tepatnya kedua lengannya mulai kuat menarik gerobak bermuatan sampah itu. Sejak Kakek Ali sering mengalami sesak napas, Guntur akan menarik gerobak itu sebelum adzan subuh berkumandang. Gerobak kayu itu memiliki dua roda besar yang menggelinding halus tanpa hambatan. Kakek Ali selalu merawat jeruji rodanya, memberinya oli yang pekat agar tak berkarat. Meski tubuh Guntur tak setinggi gerobak, lengan dan kakinya laksana kayu trembesi yang liat dan kuat, dan mampu menarik gerobak yang muatannya penuh dan menjulang. Ya, tentu saja dia tak menariknya sendirian, dari arah belakang Kakek Ali akan membantunya mendorong gerobak sambil menceritakan banyak kisah.
Cerita-cerita itu selalu berbeda setiap harinya, membuat Guntur terhibur dan selalu menunggu kisah-kisah baru untuk diceritakan. Sesekali Kakek Ali akan berkisah tentang masa mudanya yang cemerlang sebagai atlet catur nasional atau tentang kesatria bintang. Tak jarang pula pembicaraan berlangsung panjang ketika keduanya mereka-reka situasi dan kondisi yang dialami pemilik rumah dari sampah yang dibuangnya.
Seperti Rabu pagi itu, saat keduanya memulai hari dengan mendorong gerobak menyusuri perumahan yang letaknya tidak jauh dari pelabuhan. Matahari belum muncul dan udara masih terasa dingin ketika Kakek Ali membuka pembicaraan dengan mengomentari sampah di rumah Bu Ratna, rumah ke lima yang mereka datangi pagi itu.
“Bu Ratna sedang bertengkar dengan suaminya,” ucap Kakek Ali berbisik saat dia mengambil sampah dari rumah bercat cokelat itu.
Perempuan bertubuh subur itu seorang pensiunan pegawai negeri yang sekarang sibuk menanam aneka sayur di belakang rumahnya. Tak jarang Bu Ratna akan memberi Kakek Ali satu kantong plastik berisi hasil panen dari kebunnya seperti terong ungu, kangkung, cabai, atau selada. Bu Ratna adalah perempuan yang ramah. Dia hanya tinggal berdua bersama sang suami, seorang pensiunan tentara. Keempat anaknya tinggal di luar kota dan hanya sesekali berkunjung.
“Kok tahu?” tanya Guntur dengan dahi berkerut menanggapi ucapan kakeknya. Kepalanya melongok ke dalam plastik sampah. Tak ada apa-apa yang bisa menunjukkan bahwa Bu Ratna sedang bertengkar dengan suaminya yang berkepala botak itu.
“Ada satu kotak martabak manis dan satu bungkus mie instan.” Kakek Ali terkekeh.
Penjelasan Kakek Ali tak membuat kerut di dahi Guntur lenyap. Lengannya mengangkat kantong sampah itu dan meletakkan di atas gerobak.
“Pak Sarjono penyuka martabak telur, bukan martabak manis. Dan dia terpaksa makan mie instan karena Bu Ratna tidak memasak. Padahal Bu Ratna, kan, suka memasak. Jadi, kalau sampai dia tidak memasak, berarti dia sedang ngambek sama suaminya.” Kakek Ali kembali terkekeh sambil membersihkan sisa-sisa sampah di dalam tong.
“Mungkin Pak Jono hanya pengen makan mie,” sahut Guntur masih bingung dengan kesimpulan sang kakek.
“Tidak. Pak Tentara pernah cerita sama kakek, dokter melarangnya makan mie instan. Tekanan darahnya tinggi dan ginjalnya bermasalah. Jadi, gak mungkin Pak Tentara mau makan mie instan, kecuali terpaksa.” Kakek Ali menjelaskan.
Guntur mengangguk-angguk sambil terus menarik gerobak. Gerobak berhenti di rumah nomor 25 E. Sambil mengambil sampah di rumah berpagar putih itu, Kakek Ali menyapa beberapa orang yang hendak ke masjid di dekat lapangan komplek. Dia juga menyapa Tia, perempuan pemilik rumah yang bertubuh langsing, yang terlihat sedang berolahraga di teras. Perempuan itu tak menjawab sapaan Kakek Ali sambil terus duduk bersila di atas matras dengan kedua tangan berada di atas lutut dalam posisi menggenggam. Kedua matanya terpejam dan dadanya naik turun dengan pelan dan teratur.
Kakek Ali membuka tong sampah dan mengambil kantong yang ada di dalamnya, sedangkan Guntur mengambil potongan ranting yang bergeletakan di luar tong.
“Pak, kardus yang di teras ini dibawa juga, ya.” Teriak Tia dari arah teras. Perempuan itu sudah membuka mata. “Masuk aja, Kek. Gerbang gak dikunci,” lanjutnya.
Setelah menyuruh Kakek Ali masuk, Tia menghilang ke dalam rumah. Tak lama, dia keluar membawa beberapa bungkusan dan sekotak susu UHT. Dengan bertelanjang kaki, Tia berjalan menuju halaman rumahnya yang tak terlalu luas itu, melewati bunga-bunga yang berbaris rapi di pinggir teras. Saat telapak kakinya menyentuh rumput sintetis yang menutup area kosong antara lantai teras dan pagar, dia memanggil Guntur.
“Dik, sini.” Tangan kanannya melambai. Guntur mendekat dengan senang melihat sekotak susu diacungkan padanya.
“Nih, susu dan kaos. Kaos ini punya Kak Tia sih, tapi pasti cukup dipakai kamu.” Dia menyodorkan sebuah plastik berisi pakaian ke hadapan Guntur. “Dan ini, kasih ke Kakek Ali, ya. Kemeja laki-laki, ukurannya M, kayaknya muat,” lanjutnya.
Guntur tersenyum dan meraih pemberian Tia. Tangan kanannya memegang sekotak susu, sedangkan tangan kirinya menenteng plastik hitam berisi satu kaos berwarna putih dan satu kemeja bergaris cokelat.
“Makasih, Kak Tia,” ucapnya sambil membungkuk. Perempuan berusia 25 tahun itu tersenyum sambil mengusap keringat di dahinya.
Kakek Ali sudah meletakkan kardus ke dalam gerobak. Guntur menyusul kakeknya dan bersiap mendorong gerobak. Guntur mengambil kaos pemberian Tia di tas slempang yang dibawanya dan menyerahkan plastik berisi kemeja ke arah kakeknya.
“Masak kakek disuruh pakai baju perempuan?” kata Kakek Ali dengan dahi berkernyit.
“Kak Tia bilang ini baju laki-laki,” jelas Guntur. Kakek membentangkan kemeja itu di depan badannya. Dia lalu mengangguk.
“Mbak Tia dapat pacar baru,” ucapnya pelan. “Kayaknya dia lagi berbunga-bunga,” lanjutnya.
“Bukannya selalu begitu, Kek?” tanya Guntur yang selalu melihat Tia sebagai perempuan yang murah senyum.
Guntur mulai menarik gerobak. Sekilas, dia menoleh ke arah Tia yang sudah kembali berolahraga di teras rumahnya.