KATALOG IBU

Puspa Seruni
Chapter #3

3. Berburu Harta Karun

Minggu pagi, tak ada jadwal pengambilan sampah di perumahan atau kewajiban ke sekolah. Biasanya Kakek Ali akan membiarkan Guntur bangun lebih siang dari biasanya. Namun hari itu berbeda, Guntur sudah terbangun saat adzan subuh berkumandang. Setelah mencuci muka dan melaksanakan sholat subuh, dia mengganti pakaiannya dengan pakaian yang tergantung di luar rumah, bersebelah dengan pakaian sang kakek. Mereka mengangin-anginkan pakaian yang biasa digunakan untuk mengambil sampah itu di dekat jendela.

“Loh, kok dipakai lagi. Kan mau dicuci,” ucap sang kakek saat melihat Guntur meraih pakaian kerjanya.

“Sampai jam delapan aja, Kek. Mau nyari botol dulu,” sahut Guntur sambil memasang sepatu boot kuning miliknya. Di kepalanya sudah bertengger sebuah topi hitam lusuh. Setelah meraih tongkat garpu dan menentang karung, dia mencium tangan kakeknya lalu berlari menuju TPA.

Sang kakek hanya menatap Guntur sambil menekuk lutut duduk di teras. Tangannya merapatkan sarung yang menyelimuti punggungnya yang bungkuk. Tak jauh dari tempatnya duduk, sebuah kompor menyala. Sambil menunggu air yang direbusnya matang, dipandanginya tiga karung berisi botol dan aneka barang-barang plastik yang dikumpulkan Guntur Sabtu dua hari sebelumnya.

Sudah satu minggu ini Guntur tak henti berburu “harta karun”. Siang hari, dia akan terburu-buru mengganti seragam sekolah dengan pakaian kerjanya dan segera berlari menuju TPA, menaiki gunungan sampah untuk mencari barang-barang yang bisa dibawanya pulang. Saat langit berwarna kemerahan, perburuan itu mau tak mau harus diakhiri. TPA Cilincing tak dilengkapi lampu yang memadai, akan sangat berbahaya jika dia memaksakan diri terus berada di sana hingga malam tiba. 

Guntur akan tiba di rumah setelah adzan maghrib berkumandang. Dia akan pulang membawa karung penuh berisi harta karun pilihan di punggungnya. Kakek Ali yang melihat Guntur datang dengan kulit yang terbakar matahari akan memintanya mandi lalu dia akan menyiapkan nasi dan telur goreng. Keduanya biasanya makan di ruang depan, yang sekaligus menjadi ruang tidur sang kakek.

Setelah makan malam, Kakek Ali akan membantu Guntur mencuci dan memilah-milah barang yang layak dijual untuk dibawa ke rumah Pak Bendo, tengkulak plastik yang jadi langganan mereka. Barang-barang selain plastik, yang masih berfungsi akan disimpan atau dijual di pasar loak dekat pelabuhan. Biasanya sang kakek akan mendorong gerobak berisi plastik-plastik siap jual ke rumah Pak Bendo, sementara Guntur menghabiskan waktu untuk mengulang pelajaran sekolahnya. Namun, sudah dua hari ini dada sang kakek terasa nyeri setiap kali harus mendorong gerobak yang berisi barang-barang rongsokan sehingga barang-barang itu masih menumpuk dan belum terjual.

*** 


Guntur tiba di TPA bersamaan dengan sebuah truk bercat kuning melintas melewati gerbang. Dari aromanya, Guntur tahu sampah yang diangkut berasal dari sebuah perumahan besar tak jauh dari Marunda. Guntur berlari mengejar truk itu. Sepatu boot yang kebesaran tak menjadi penghalang. Saat pantat truk di depan mata, dia mengulurkan tangan kanannya untuk menjangkau bak truk. Ketika tangannya bisa berpegangan, dengan sekuat tenaga dia menarik tubuhnya untuk bergelayutan. Dalam sekejap, Guntur memanjat bak truk.

Truk merangsek masuk ke tengah TPA. Ketika tiba di area pembuangan, truk itu berhenti. Guntur melompat turun. Tak lama, bak truk terangkat menumpahkan isi di dalamnya. Guntur mendekat, mengais-ngais sampah menggunakan tongkat garpu dan mengabaikan bahaya tertimbun sampah yang berjatuhan dari bak truk. Matanya menyipit, memindai dengan jeli sampah-sampah di hadapannya. 

Matahari belum sepenuhnya membuka mata. Langit masih gelap meski semburat merah telah nampak di ufuk timur. Tak banyak pemulung yang sudah bangun dan mulai bekerja. Di gunungan sampah yang lain, Guntur melihat beberapa pria sedang sibuk mengorek-orek sampah, seperti dirinya. Namun, tak seorang pun terlihat teman-teman sebayanya di antara para pemburu “harta karun” itu. Pasti mereka masih tidur, gumam Guntur sambil terus menggerakkan tongkat garpu dengan gesit. 

Ketika terang perlahan datang, TPA mulai ramai. Semakin banyak truk pengangkut sampah berdatangan. Para pemulung mulai merambati gunungan sampah seperti semut mengerubungi makanan. Teman-teman sepermainan Guntur mulai datang menyapa. Sesekali mereka akan terlihat berebutan, di waktu lain terdengar suara tawa berderai. Mereka bersuka ria, seolah-olah gunungan sampah itu adalah arena bermain yang menyenangkan. 

“Aku dapat sepatu!” Suara teriakan seorang anak lelaki membuat semua mata menoleh.

Anak bertubuh kurus yang berdiri tak jauh dari Guntur mengacungkan dua buah sepatu tinggi-tinggi di atas kepalanya. Mata anak itu berbinar. Senyumnya mekar laksana matahari pagi yang baru menyembul.

“Mantap. Sepatu bola, ya?” tanya yang lain.

“Bukan, sepatu sekolah. Mereknya Ardiles,” sahut penemu sepatu berwarna hitam itu.

“Weh, bagus itu. Coba dulu, kalau kebesaran bisa oper kesini,” sahut yang lain disertai derai tawa.

Sambil bersenda gurau, perburuan terus berjalan. Guntur semakin naik ke atas gunungan. Karungnya sudah terisi sebuah tas ransel berwarna hijau yang resletingnya rusak, botol-botol plastik dan kaca, panci penyok, sepasang sepatu perempuan yang sudah mengelupas, dan beberapa kardus. 

Diantara teman-temannya, Guntur dikenal sebagai navigator gunung sampah. Dia hafal “peta” TPA yang selalu berubah. Guntur dapat mengenali gunungan mana yang labil dan mudah longsor, dan bagian mana yang stabil dan aman dipijak. Meski postur tubuhnya cenderung kecil untuk anak usia sembilan tahun, namun Guntur dikenal memiliki otot yang liat. Tangan dan punggungnya tangguh memanggul karung berisi benda-benda berharga yang dipungutnya. 

Perburuan harta karun itu kerap membuat punggung dan kakinya pegal. Namun Guntur memendam kelelahan itu sendirian, apalagi sejak Kakek Ali mulai sakit-sakitan satu tahun terakhir. Mau tidak mau, Guntur harus bekerja lebih giat lagi untuk mencari benda-benda yang bisa menyambung hidupnya. Tagihan pembayaran uang seragam dan buku dari sekolah turut serta menjadi penambah semangatnya dalam bekerja.

Satu minggu lalu, Bu Romlah memintanya tetap tinggal di kelas ketika bel istirahat berdering. Wali kelas tiga itu menghampiri Guntur yang duduk di bangkunya dengan wajah penuh tanya. Dia tak terlambat hari itu, pekerjaan rumah yang diberikan hari sebelumnya pun telah diselesaikan. Entah kenapa Bu Romlah tak mengizinkannya istirahat bersama teman-temannya yang lain.

“Guntur, ada surat dari bagian keuangan. Katanya, uang seragam dan buku yang sudah menunggak dari awal tahun ajaran harus segera dilunasi.” Bu Romlah duduk di bangku di samping Guntur. Dia menyodorkan sebuah amplop cokelat ke hadapan bocah berkulit gelap itu.

“Totalnya 150 ribu. Awal cawu lalu, kamu bayar dua puluh ribu untuk seragam dan lima ribu untuk uang buku. Jadi uang seragamnya sisa delapan puluh ribu dan uang bukunya sisa tujuh puluh ribu.” Bu Romlah menjelaskan.

Terdengar suara helaan napas panjang dari Guntur. Bu Romlah menatap muridnya yang selalu menggunakan sepatu dengan bagian jempol berlubang itu. Bintik-bintik putih serupa panu menghias pipi dan leher Guntur. Sebenarnya dia tidak tega menagih uang itu. Dia tahu betul kondisi Guntur dan kakeknya. Namun apa mau dikata dia pun tak sanggup membantu Guntur untuk melunasi sisa uang seragam dan buku itu. Gajinya sebagai PNS golongan III-a telah habis untuk membiayai anak sulungnya yang sedang kuliah di Yogya.

“Apa kamu butuh bantuan ibu untuk bicara pada kakekmu? Atau cukup surat ini saja?” lanjutnya. Dia bermaksud menawarkan bantuan tetapi Guntur tak menyahut. Matanya menatap kosong pada surat di hadapannya, sedangkan mulutnya masih terkunci. 

“Guntur,” panggil Bu Romlah saat murid di hadapannya itu tak menanggapi perkataannya. Dia menyentuh lengan Guntur. 

Lihat selengkapnya