Peluh Guntur mengucur, membasahi kaos putih bergambar beringin yang dia dapat saat musim kampanye itu. Warna putihnya sudah kekuningan karena nyaris setiap hari dikenakan. Topi hitam yang dia kenakan tidak mampu melindungi kepalanya dari sinar matahari yang memanggang garang. Sudah lima jam Guntur berjibaku di gunungan sampah. Satu karung yang dibawanya sudah penuh, sementara karung lainnya baru terisi sebagian. Pagi itu Guntur membawa dua karung, lebih banyak dari hari-hari sebelumnya.
Saat memandang ke arah hamparan sampah, tiba-tiba matanya menyipit silau. Sebuah kaleng biskuit memantulkan cahaya menyilaukan. Cahaya itu membuatnya teringat pada nasib medali-medali Kakek Ali.
Upaya Kakek Ali untuk menjual medali satu hari sebelumnya gagal total. Tidak ada satupun yang sudi membayar medali-medali itu. Mereka menjadi bahan tertawaan para penjual emas di pasar saat berusaha meyakinkan bahwa medali yang mereka punya terbuat dari emas asli.
“Lu jangan ngimpi. Bahkan sepuhan aja bukan loh ini,” ucap seorang lelaki yang menggunakan lup di mata kanannya itu. “Nih, gw gores asam kalau lu berdua kagak percaya,” lanjutnya.
Laki-laki berkepala botak itu menggosok medali ke permukaan batu hitam hingga meninggalkan bekas garis atau lapisan tipis. Setelah itu dia meneteskan asam sitrat pada lapisan hasil goresan tadi. Seketika goresan terlihat bereaksi menampakkan busa berwarna hijau yang dalam hitungan detik larut lalu menghilang sepenuhnya.
“Lihat, kan. Padahal aye pake asam yang untuk 10 karat saja loh ini. Wus, hilang langsung.” Laki-laki itu menyodorkan kembali medali itu ke hadapan Kakek Ali. Raut wajah lelaki berusia tujuh puluh itu terlihat masam.
“Ayo, Kek.” Guntur memasukkan medali-medali itu ke dalam kresek hitam. Dia lalu menggandeng kakeknya dan mengajaknya ke luar toko.
Mereka sudah berkeliling pasar sejak pagi tadi dan semua pedagang emas yang mereka temui mengatakan hal yang sama.
“Itu medali emas,” gumam Kakek Ali dengan tatapan kosong. Guntur tak menjawab. Dia tahu kakeknya kecewa. Namun, keduanya harus terus melangkah. Waktu terus bergulir dan tidak pernah menunggu manusia untuk menyelesaikan kecewanya.
Mereka melangkah pelan melewati lorong-lorong pasar. Beberapa lapak tampak sudah tutup. Hanya tersisa lapak-lapak pakaian, sepatu, dan sebuah toko kelontong di dekat pintu masuk utama. Kegagalan itu membuat Guntur tidak memiliki cara lain selain lebih giat mencari botol plastik dan barang-barang berharga lain di antara tumpukan sampah.
Suara perutnya membuat ingatan itu buyar. Dia mengamati sekitar dan mulai menyadari bahwa teman-temannya sesama pemulung sudah pulang. Guntur merapikan karung miliknya dan memanggulnya. Langkahnya pelan menuruni gunungan sampah dengan hati-hati.
Guntur menghentikan langkah ketika tiba-tiba hidungnya menghidu aroma mawar. Angin dari utara yang berhembus pelan mengantar aroma tak biasa itu tepat di cuping hidung Guntur. Tak hanya mencium aroma mawar, lamat-lamat Guntur mendengar suara tangisan anak perempuan. Guntur berjalan mendekati sumber suara. Alangkah terkejutnya anak lelaki berusia sembilan tahun itu saat mendapati seorang perempuan berpakaian merah muda duduk berjongkok, membujuk seorang gadis kecil yang sedang menangis sesenggukan.
Gadis kecil itu berpakain kuning, dengan sepatu dan tas kuning. Hanya ikat rambutnya yang berwarna merah muda. Guntur menahan senyum. Gadis kecil itu mengingatkannya pada tokoh kartun favoritnya, seekor burung berwarna kuning yang berisik.
Serentak, Guntur menggaruk kepalanya yang tak gatal kemudian celingak-celinguk ke kanan dan ke kiri mencari seseorang yang mungkin dikenalnya. Guntur mencubit pipinya. Sakit.
“Ini bukan mimpi,” gumamnya. Pemandangan itu adalah hal yang tak biasa ada di TPA Cilincing. Perempuan berambut sebahu dan gadis kecil yang cengeng itu tampak asing di antara gunungan sampah yang berbau busuk itu.
“Cari apa, ya?” tanya Guntur memberanikan diri menyela. Keduanya menoleh. Gadis itu berhenti menangis dan mulai mengusap hidungnya yang berair.
“Hai. Hhmm, begini … kami mau cari boneka,” perempuan itu berkata ragu-ragu.
“Boneka? Boneka apa?” Guntur mengerutkan kening.
“Boneka Teddy Bear, namanya Mimi. Kamu lihat nggak?” Gadis kecil itu menyambar. Suaranya cempreng dan lantang. Guntur menahan tawa. Baginya suara gadis itu terdengar lucu seperti Tweety, tokoh fiktif yang sering ditonton di televisi rumah Pak Bendo.
“Enggak. Seperti apa?” tanyanya.
“Ya, boneka Teddy. Cokelat, gendut, pipi dan perutnya bulat.” Gadis kecil dengan jepit rambut berbentuk strawberry itu menjelaskan sambil mencubit kedua pipinya sendiri. Guntur tersenyum melihatnya.
“Boneka itu tanpa sengaja terbuang ke dalam plastik sampah di rumah kami. Karena boneka itu kotor, mungkin dikira sudah nggak terpakai.” Perempuan yang menutupi kedua bahu dan lengannya dengan cardigan berwarna putih itu membantu menjelaskan.
“Oh, begitu.” Guntur mengangguk-angguk. “Rumah kalian dimana?” tanya Guntur kemudian.
Perempuan itu mengerutkan kening. Raut wajahnya menampakkan ketidaksukaan atas pertanyaan Guntur.
“Maksud saya, kalau saya tahu sampahnya dari daerah mana, mungkin saya bisa bantu carikan. Saya hapal sampah mana dibuang di sebelah mana,” lanjut Guntur menjelaskan sambil menoleh ke gunungan-gunungan sampah yang ada di belakangnya.
“Oh, kami dari Marunda.” Perempuan itu lekas menjawab. Wajahnya kembali terlihat ramah.
“Kalau begitu, tunggu di sana dulu. Saya coba bantu carikan.” Guntur meminta keduanya mengikutinya. Guntur membawa keduanya ke sebuah pohon. Dia menyandarkan kedua karung bawaannya pada pohon dan mempersilakan perempuan dan gadis kecil itu duduk.
“Tak apa-apa. Duduk saja di ban-ban bekas ini. Daripada berdiri,” ucap Guntur. Perempuan itu mengangguk pelan, tetapi tak juga bergerak untuk duduk. Guntur menangkap keengganan dari wajah perempuan berambut sebahu itu. Bocah laki-laki itu hanya tersenyum tipis. Ban-ban bekas itu tentu akan meninggalkan noda hitam pada gaun yang dipakai perempuan itu.
Tidak mau membuang waktu, Guntur segera berlari kembali menaiki gunungan sampah. Matahari bersinar semakin terik. Kaki Guntur melompat dengan lincah, mencari pijakan sampah yang stabil untuk menuju tempat yang dia tuju.
Di bawah pohon, Murni berdiri dengan gelisah. Keringat mengucur di punggungnya. Berbeda dengan Susan, yang tampak antusias. Pandangan matanya tak lepas dari gunungan sampah tempat Guntur berlari kemudian menghilang. Keduanya terus berdiri. Hingga betis Murni kesemutan, tidak tampak bayangan Guntur di kejauhan.
“Sayang, duduk, yuk,” pinta Murni pada Susan.
“Nggak mau. Aku mau nunggu di sini.” Susan menolak ajakan Murni. Murni meraih selembar potongan kardus dan meletakkannya di atas ban bekas, kemudian mendudukinya.
“Sini, pangku Mama Murni. Capek loh,” bujuk Murni pada Susan. Gadis kecil itu tak menggubris.
“Yeay, itu dia.” Susan melonjak girang saat melihat bayangan Guntur menuruni gunungan sampah. Namun, raut wajahnya kembali muram ketika melihat kedua tangan Guntur melambai bebas tanpa membawa apapun.
“Maaf, belum ketemu,” ucap Guntur begitu tiba di hadapan Susan. Saat Guntur masih sibuk mengatur napasnya yang memburu, tiba-tiba Susan menangis. Suara tangisannya terdengar kencang. Guntur panik. Untungnya Murni mendekat dan memeluk Susan.
“Nggak apa-apa. Nanti kita beli lagi, ya,” bujuk Murni menenangkan Susan.
Gadis itu menggelengkan kepala dengan kencang. Suara tangisnya kembali pecah dengan lebih keras.
“Sudah. Ayo, kita pulang. Percuma juga disini, panas loh.” Murni mengusap air mata yang terus mengalir di pipi gadis berusia enam tahun itu. Namun gadis itu terus menangis dan tidak mau diajak pulang.
“Begini saja, nanti sore saya cari lagi. Kalau belum ketemu juga, besok sehabis subuh saya akan cari lagi. Pokoknya saya cari terus, sampai dapat. Gimana?” tanya Guntur mencoba membujuk Susan. Guntur mengatakan kalimat itu dengan penuh penekanan dan semangat membuat mata Susan berbinar.
“Benar?” tanya Susan. Tangisnya berhenti. Guntur mengangguk. Susan tersenyum.
“Ayo pulang. Besok kesini lagi.” Susan menoleh pada Murni.
“Terima kasih, ya …” Murni menggantung kalimatnya. Dia mengulurkan tangan ke arah Guntur.
“Guntur,” sahut Guntur. Dia tak menyambut uluran tangan Murni. Guntur tidak mau mengotori tangan lembut milik Murni.
“Oh, saya Murni dan ini Susan. Terima kasih sudah membantu, ya. Besok, kami datang lagi.” Murni mengangguk pada Guntur.
“Atau, nanti bonekanya aku antar kalau ada? Biar kalian nggak perlu bolak-balik ke sini. Disini bau.” Guntur tersenyum.
“Oh, boleh-boleh. Kami tinggal di Wisma Edelweis, di belakang pertokoan elektronik, di kawasan Marunda. Lokasinya mudah dicari. Kalau bingung tanya saja ojek atau abang becak, pasti tahu Wisma Edelweis.”