KATALOG IBU

Puspa Seruni
Chapter #5

5. Sebuah Pelukan

Langit terlihat cerah malam itu. Tanpa ada semburat awan yang menutupi kerlip bintang-bintang yang bertaburan. Kakek Ali sudah pamit tidur sejak tadi. Setelah mengetahui adanya tagihan seragam olahraga dan buku yang harus segera dibayar, dia menambah jam kerjanya. Menyusuri jalan lebih lama untuk menemukan benda-benda yang berharga di tempat sampah. Hal yang sama juga dilakukan Guntur, sudah dua minggu ini bocah lelaki itu mengumpulkan botol-botol plastik lebih banyak dari biasanya. Namun uang yang terkumpul belum cukup untuk membayar tagihan sekolah. 

Tidak hanya harus membayar tagihan dari sekolah, Kakek Ali dan Guntur harus mengumpulkan uang untuk membayar uang sewa kamar pada Haji Umar. Upah mengambil sampah di perumahan Graha Indah Raya tak bersisa untuk membayar uang sewa kamar itu, sementara untuk memenuhi kebutuhan makan dan sekolah, Kakek Ali mengandalkan hasil dari memulung.

Guntur menghela napas panjang sambil terus menatap langit Jakarta yang malam itu meriah dengan kehadiran bintang-bintang. Guntur sedang merebahkan diri di lahan kosong tidak jauh dari lokasi TPA. Jika tidak lelah, biasanya Kakek Ali akan menemani Guntur sambil bercerita tentang kisah Kesatria Bintang yang menjadi cerita kesukaan Guntur.

“Ibu …” gumam Guntur pelan.

Tiba-tiba dia teringat pembicaraannya dengan Susan tentang katalog ibu sore tadi.

“Seratus ribu itu sebanyak apa?” tanya Susan bingung. Guntur terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab.

“Sebanyak 40 kilo beras atau 150 kilo botol plastik,” sahut Guntur setelah menghitung dengan jari-jemarinya.

“Tapi Mama Murni nggak pernah beli beras,” Susan menyahut.

“Terus uangnya buat apa?” tanya Guntur.

“Nggak tahu. Mungkin buat beli baju. Baju Mama Murni bagus-bagus.”

Guntur mengangguk-angguk mendengar jawaban Susan.

“Aku nggak punya uang sebanyak itu.” Guntur berkata dengan raut wajah sedih.

“Yah, gagal dong punya mama.” Susan menoleh ke arah Guntur.

“Masih ada Kakek Ali,” ucap Guntur menghibur dirinya sendiri. “Sejak nggak ada ibu, dia yang jaga aku.”

“Dia baik?” tanya Susan polos. Guntur mengangguk.

“Baik banget.” Guntur tersenyum. Susan pun ikut tersenyum.

Guntur menghela napas panjang mengingat pembicaraan itu. Kakek Ali tentu bukan ibu. Meski Kakek Ali hampir tidak pernah memeluk Guntur, tetapi dia tahu bahwa kakeknya sangat menyayanginya. Kakek Ali tidak pernah marah pada Guntur. Tidak pernah memaksa Guntur memulung. Tindakan Guntur untuk membantu mendorong gerobak setiap pagi atau memulung botol plastik setiap sore, semua dilakukan Guntur tanpa paksaaan. Guntur merasa kasihan pada kakeknya yang bekerja keras sendirian untuk membiayai hidup mereka.

“Mencari uang itu tugas kakek. Tugas kamu hanya belajar, jadi pintar, supaya nanti bisa dapat pekerjaan bagus di gedung-gedung tinggi itu.”

Guntur teringat perkataan kakeknya minggu lalu, saat Guntur mengatakan untuk berhenti sekolah dan membantu kakeknya memulung. 

“Sekolah hanya menambah biaya, Kek. Kita lebih butuh uang buat makan dan bayar sewa rumah. Apalagi sekarang kakek sakit, pasti perlu biaya buat berobat juga.” Guntur memberikan alasan.

“Ah, kakek tidak sakit. Buat apa berobat. Sesekali batuk, sesak, itu biasa. Kan, kakek sudah tua. Justru kamu yang lebih penting sekolah. Masa depanmu masih panjang.”

“Tapi Kek …” Guntur ingin melanjutkan bantahannya tetapi Kakek Ali memotong.

“Sudah, pokoknya kamu kerjakan tugas utamamu. Urusan bayar uang sewa, beli beras, uang sekolah, itu sudah jadi tugas kakek.” Kakek Ali beranjak meninggalkan Guntur untuk menghentikan pembicaraan.

Pembicaraan Guntur dengan sang kakek berkelindan dengan pembicaraan Guntur dengan Susan. Guntur memejamkan mata, tetapi kemudian dia membukanya kembali. Dia meraba dadanya. Jantungnya tiba-tiba saja berdegup kencang. Guntur mencoba memejamkan matanya sekali lagi, tetapi buru-buru membuka kembali. Bayangan foto Murni terlihat jelas setiap Guntur mengatupkan kelopaknya.

Ada air mata mengalir dari kedua ujung mata Guntur. Selama ini, dia begitu merindukan sosok ibu yang tidak lagi dia ingat bentuk wajahnya. Namun kedatangan Murni di TPA seolah-olah melengkapi bayangan sosok ibunya yang selama ini dia reka-reka dalam ingatannya. Membayangkan Murni memeluknya, membuat hatinya hangat. Namun, teringat sejumlah uang yang harus disiapkan untuk mendapat pelukan itu, pikirannya mendadak pening.


*** 

Lihat selengkapnya