Bab 6. Kaleng Biskuit
Pemakaman dilakukan dengan sederhana, sore itu juga. Paguyuban kifayah TPA Cilincing membantu semua proses persiapan pemakaman. Pak RT mengumpulkan donasi dari warga mampu untuk bahu membahu membeli kebutuhan pemakaman. Guntur yang masih berusia sembilan tahun, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dia hanya duduk di samping jasad sang kakek dan terus menangis sesenggukan.
Kakek Ali dimakamkan di pemakaman umum tidak jauh dari area TPA. Gundukan tanah basah itu bertabur kelopak bunga berwarna merah dan putih. Setelah cukup puas menangisi kepergian kakeknya, Pak Wawan merangkul bahu Guntur dan mengajaknya pulang. Ketika tiba, beberapa tetangga masih duduk di teras rumah Guntur. Satu per satu mereka menyalami Guntur dan memberi kata-kata penghiburan.
Meski Guntur sekuat hati menahan agar tak menangis, nyatanya air mata itu tak susut dan terus mengalir tiada henti. Setelah para pelayat meninggalkan rumah Guntur, anak lelaki itu duduk dengan melipat lutut di depan tubuhnya. Punggungnya melengkung. Kepalanya menumpu di atas kedua lututnya. Dia duduk di atas lantai, di samping kasur tipis milik kakeknya.
Setelah cukup lama menangis. Matanya terasa sangat panas dan tak lagi mengeluarkan air mata. Guntur duduk sambil menatap hampa pada kasur busa bersprei kuning itu. Guntur merasakan kekosongan. Rumah kontrakan itu tiba-tiba terasa lapang. Guntur membenahi tempat tidur kakeknya yang terlihat berantakan. Di bawah tumpukan selimut, anak laki-laki itu menemukan kaleng bekas biskuit.
Kaleng bulat pipih sudah sudah tampak karatan. Saat Guntur mengangkatnya, terasa cukup berat. Guntur membuka kaleng itu dengan hati-hati. Saat melihat lembaran uang receh dan koin di dalamnya, Guntur terkejut. Dia menduga, kaleng itu milik Kakek Ali yang digunakan untuk menyimpan uang penjualan barang-barang hasil memulung.
Perlahan Guntur mulai menghitung isinya. Jika digabung dengan uang tabungannya sendiri, uang itu cukup untuk melunasi tagihan sekolah. Harusnya Guntur merasa senang karena dia tak perlu lagi menanggung malu setiap kali bertemu dengan Bu Romlah. Namun, dia justru dihantui rasa bersalah. Akibat terlalu sibuk mengumpulkan uang untuk membayar tagihan sekolah Guntur, Kakek Ali harus bekerja lebih keras hingga kelelahan dan jatuh sakit. Apalagi sejak sibuk mengamen, Guntur jarang memperhatikan kondisi kakeknya.
Keesokan harinya, Guntur tidak masuk sekolah. Suhu tubuhnya meningkat. Guntur menggigil di atas kasur setelah sepanjang malam duduk di lahan kosong di dekat TPA, tempat biasanya dia dan kakeknya menghabiskan malam sambil berkisah tentang Ksatria Bintang. Guntur tidak bisa memejamkan mata. Kenangan bersama sang kakek berkelindan dan membuat bocah malang itu kembali menangis.
Kabar kematian Kakek Ali turut pula terdengar oleh Bu Romlah dan guru-guru di SD 1 Cilincing. Bersama beberapa guru lain, Bu Romlah mengunjungi Guntur untuk turut berbela sungkawa. Tidak terkecuali Pak Wisnu. Saat Bu Romlah datang, dua orang tetangga juga sedang mengunjungi Guntur untuk melayat.
Saat melihat Pak Wisnu, tangis Guntur kembali pecah. Guru olahraga itu memeluk Guntur dan mengusap-usap punggungnya. Setelah agak tenang, Guntur mulai bercerita perihal kematian kakeknya. Guru-guru menyimak cerita Guntur dengan dada yang ikut merasakan kesedihan. Bu Romlah bahkan sempat merasa bersalah karena beberapa kali menagih uang seragam dan buku pada Guntur.
“Nanti ibu coba bantu bicara ke bagian keuangan, siapa tahu bisa dapat keringanan pembayaran, ya,” ucap Bu Romlah ketika berpamitan.
“Ini uang duka dari bapak ibu guru. Senin depan, ibu tunggu di sekolah, ya. Kamu harus tetap sekolah.” Bu Romlah melanjutkan.
Guntur menerima sambil meneteskan air mata.
“Terima kasih banyak, Bu,” suara Guntur terbata di sela isak tangisnya.
Satu per satu bapak ibu guru menyalami Guntur. Pak Wisnu, yang paling terakhir berpamitan, menepuk bahu Guntur dan mengusap kepalanya.
“Kalau butuh bantuan, kabari Bapak, ya,” ucapnya.
Guntur mengangguk pelan.
***
Duka itu hanya boleh dirayakan sekejap, kehidupan tidak memberi waktu panjang bagi Guntur untuk berlama-lama larut dalam kesedihan. Setelah Pak Wisnu dan Bu Romlah pulang, Haji Umar datang mengunjungi Guntur. Dia membawa 5 kilo beras dan 1 krat telur.
“Kakekmu orang baik,” katanya. “Dan saya yakin, kamu juga anak baik.” Haji Umar melanjutkan. “Apa rencanamu setelah ini?” tanyanya.
“Saya belum tahu Pak Haji. Paling mulung seperti biasa, sambil sekolah.” Guntur menjawab sambil menunduk.
“Ya ya ya, mulung, ya. Kalau kamu sudah lebih besar, sebenarnya kamu bisa kerja di tempat saya. Jadi kuli panggul di toko.” Haji Umar menanggapi.
Haji Umar adalah pemilik toko kelontong terbesar di daerah Cilincing. Setiap hari tokonya selalu ramai melayani pembelian partai besar dan grosiran. Dia memiliki 4 pegawai di sana. Satu sebagai pelayan toko, satu sebagai pencatat stok barang masuk dan keluar, dan dua orang sebagai kuli panggul. Satu kuli panggulnya sudah berusia tua dan mulai sakit-sakitan namun Haji Umar tidak bisa memberhentikannya dengan alasan kemanusiaan. Kuli itu sudah bekerja sejak toko itu baru dirintis belasan tahun lalu. Bagi Haji Umar, lebih baik dia mencari pekerja tambahan untuk membantu dua kuli panggul yang sudah ada daripada memecat kuli yang sudah sakit-sakitan.
Sebenarnya, Haji Umar tidak yakin atas penawarannya pada Guntur. Badan anak lelaki itu tergolong kecil jika dibandingkan teman-teman seusianya. Namun, dia pernah melihat Guntur memanggul dua karung berisi botol plastik dan menarik gerobak sampah membantu kakeknya.
“Ah, tapi pekerjaan itu mungkin tak cocok buatmu, ya. Manggul sekarung beras pasti beda dengan manggul sekarung botol plastik,” ucap Haji Umar menambahkan.
Guntur tak menyahut dan terus menunduk. Dia belum pernah menjadi kuli panggul, apalagi letak toko kelontong Haji Umar cukup jauh dari tempat tinggalnya.
“Kalau diizinkan, saya akan coba Pak Haji,” sahut Guntur kemudian.
“Ya, sebenarnya saya ingin memastikan apa kamu bisa bayar uang kontrakan ini atau tidak. Bagi saya tak masalah kalau kamu tetap memulung, tapi apa bakal cukup buat bayar kontrakan?” tanya Haji Umar.
Kontrakan yang ditempati Guntur dan kakeknya adalah kontrakan laris. Meski bangunannya berhimpitan, tetapi Haji Umar selalu merawat kontrakannya dengan baik. Kamar mandi umum yang disediakan tidak pernah kekurangan air. Lokasi itu juga tergolong aman dan mudah dijangkau. Sehingga ada saja pencari kontrakan yang menghubungi Haji Umar untuk menanyakan apakah ada rumah kosong atau tidak.