Kelas tiga riuh karena Bu Romlah sedang ada rapat dewan guru. Dia hanya memberi tugas agar anak-anak mulai menulis cerita tentang kasih sayang ibu. Anak-anak perempuan bergerombol di meja Ana, saling berkisah tentang cerita apa yang akan disampaikan di depan kelas sehari sebelum perayaan hari ibu. Sedangkan anak-anak lelaki, mengelilingi meja Niko. Mereka menatap takjub pada yoyo warna warni yang dibawa Niko.
“Ini hadiah dari ayahku. Dia baru pulang dinas dari Surabaya,” ucap Niko yang dikenal sebagai anak seorang pegawai negeri.
“Kan, sama saja dengan yoyo biasa, yang dari kayu,” sanggah Feri.
“Ya tentu beda. Nih lihat.” Niko mengambil salah satu yoyo berukuran sedang dan mulai memainkannya.
Yoyo meluncur dari jari tengah Niko, berputar cepat dan mengeluarkan cahaya merah berkelap-kelip. Semua mata menatap tak berkedip. Selama ini, mereka hanya bisa memainkan yoyo kayu yang tidak bisa mengeluarkan cahaya.
“Bagus, kan. Ini yoyo tipe baru. Ayahku beli di bandara,” ucap Niko bangga. Niko yakin, beberapa temannya bahkan tidak pernah tahu dimana letak bandara.
“Wah, mainanmu canggih-canggih, ya. Beberapa bulan lalu bawa Game Boy. Jangan-jangan di rumahmu sudah ada PS-2, ya?” tanya Hasan dengan mata membulat.
“Kata ibu, PS-2 bakal jadi hadiah kenaikan kelas. Aku tinggal menunggu saja.” Niko tersenyum lebar sambil bersedekap.
“Wah. Ajaklah kita nanti main.” Adit menanggapi.
Mereka terus membicarakan mainan baru milik Niko. Anak-anak laki-laki itu saling menimpali tanpa sadar salah satu teman kelas mereka duduk termangu di mejanya. Guntur meletakkan kepalanya di meja. Pandangan matanya menatap lurus ke luar jendela. Dia sama sekali tak berminat melihat yoyo baru Niko. Guntur memilih duduk, mengistirahatkan tubuhnya. Punggungnya masih terasa pegal sisa kemarin. Dia menyimpan energi untuk siang nanti.
“Hei, Guntur. Diam saja.” Niko memanggil dari mejanya. Guntur tak menggubris. Niko dan yang lain saling pandang.
“Jangan diganggu, dia masih bingung mau cerita apa buat perayaan hari ibu. Kan, ibunya tinggal di bintang,” sahut Feri sambil tertawa. Teman-temannya yang lain pun ikut tertawa. Niko mendekat ke arah Guntur, lalu duduk di hadapannya.
“Tak usah dipikirkan. Kamu, kan, bisa cerita bahwa ibumu tinggal di bintang. Kalau ada yang tanya kenapa nggak datang, bilang saja nggak ada tiket dari bintang ke bumi.” Wajah Niko terlihat serius saat berkata seperti itu, namun gelak tawa pecah di belakang Guntur.
Guntur tetap tak menggubris. Dia sudah terbiasa menjadi bahan tertawaan teman-temannya, terutama Niko, bocah laki-laki yang terlihat paling kaya di antara teman-temannya yang lain. Niko seolah selalu punya cara untuk mengganggu Guntur. Apalagi badannya yang tinggi dan besar, terlihat mudah mengintimidasi Guntur yang lebih pendek dan kurus.
“Hey, kamu tuli ya? Daritadi diam terus.” Niko menjitak kepala Guntur. Guntur menggeser kepalanya, menjauh dari tangan Niko. Pandangan matanya tetap mengarah ke luar jendela.