Tanggal 22 Desember semakin dekat. Teman-temannya sudah sibuk menyiapkan cerita terbaik tentang ibu mereka yang akan disampaikan di depan kelas. Bu Romlah mengatakan, cerita terbaik akan dibacakan saat perayaan hari ibu. Membacakan cerita terkait ibu sambil di dampingi sang ibu, tentu akan menjadi kenangan manis bagi murid-murid SDN 1 Cilincing. Semua berlomba mempersiapkan naskah terbaik.
Guntur tentu saja tak bisa ikut andil. Pikirannya kalut bagaimana caranya mendatangkan sang ibu yang tinggal di bintang. Sebuah hal yang sangat mustahil. Namun, tantangan dari Niko membuatnya tak mau menyerah. Pasti ada jalan, gumamnya sambil terus memacu semangatnya bekerja.
Usai bekerja di toko Haji Umar, Guntur tak mau tinggal diam. Dia akan masuk ke lokasi TPA untuk memulung. Dengan bermodal senter di kepalanya, Guntur menapaki timbunan sampah mencari harta karun untuk menambah pundi-pundi uangnya. Uang dari dompet Niko masih tersimpan rapi. Jumlahnya cukup untuk menyewa Murni selama satu jam, tetapi tentu saja itu terlalu singkat untuk mengajak Murni mengikuti kegiatan di sekolah. Setidaknya Guntur harus memiliki uang 200 ribu agar bisa lebih leluasa mengikuti acara perayaan hari ibu. Bukankah jika dia berhasil mengajak ibu ke acara itu Niko akan memberinya sejumlah uang? Tentu saja uang dari Niko itu nantinya akan dikembalikan pada Niko sebagai ganti uang yang sudah dicurinya dari dompet milik Niko.
Guntur terus bekerja keras dari pagi, siang, dan malam. Mengumpulkan recehan demi recehan agar uangnya segera bisa terkumpul. Tidak hanya itu, Guntur rela makan satu kali sehari, di toko Haji Umar, demi untuk menekan pengeluaran. Alhasil, tubuh Guntur terlihat semakin kurus dan kering. Melihat itu Haji Umar merasa khawatir dan memerintahkan tukang masak untuk memberi Guntur satu porsi makanan tambahan setiap sore. Meski Guntur merasa pekerjaan di toko sangat berat, namun dia bertahan. Setidaknya, dia tak perlu lagi memikirkan perkara makan setiap hari.
“Guntur, bawa sepeda onthel di gudang. Biar kamu nggak harus capek lari kalau mau ke toko,” ucap Haji Umar.
Guntur merasa senang, meski sepeda itu terlalu besar baginya tetapi tentu akan memudahkan. Sepatunya sudah mulai rusak akibat terus menerus berlari jarak jauh dari sekolah ke toko. Dengan sepeda itu, dia juga bisa menghemat tenaganya dan lebih cepat tiba di toko.
***
Ketika perayaan hari ibu tinggal dua hari lagi, tabungan Guntur belum genap 200 ribu. Pikirannya semakin kalut. Terbayang ejekan Niko dan kawan-kawan lainnya jika melihat Guntur datang ke sekolah seorang diri.
Guntur termangu, duduk di puncak gunungan sampah. Matahari mulai merayap naik di langit sebelah timur. Hangat matahari pagi tidak sanggup menenangkan hati Guntur yang resah. Dia duduk sambil bersandar pada karung berisi botol-botol plastik dan benda-benda lainnya. Anak laki-laki itu sudah tiba di garis putus asa. Dia mulai berpikir, memiliki ibu adalah mimpi di siang bolong. Bahkan seorang ibu sementara tidak akan bisa dia miliki. Guntur menatap langit dengan mata memicing.
“Kesatria Bintang, bawa ibu kemari,” teriaknya. “Kesatria Bintang, kamu dengar aku tidak.” Guntur lagi-lagi berteriak. Suaranya menyebar keseluruh penjuru TPA. Beberapa kawannya yang mendengar itu tertawa cekikikan dan menganggap Guntur gila. Sedangkan orang dewasa merasa kasihan melihat Guntur yang hidup sebatang kara.
“Hei, diam. Jangan teriak-teriak, nanti longsor, loh.” Seorang kawannya melempar sesuatu ke arah Guntur. Benda itu mengenai kepalanya dan jatuh tepat di kaki Guntur yang sedang ditekuk di depan badannya. Semula Guntur mengira itu pakaian bekas yang digulung-gulung dan sangat kotor akibat terlalu lama tertimbun sampah. Namun, setelah beberapa saat, Guntur terkejut. Dia meraih benda bulat dan kotor itu. Guntur membolak-balik benda itu dan meneliti dengan cermat.
Benda itu bukan pakaian bekas yang digulung-gulung. Itu adalah sebuah boneka berbulu. Dengan terburu-buru, Guntur meraih benda itu dan memasukkannya ke dalam karung miliknya.
“Aku pulang,” teriak Guntur berpamitan pada kawan-kawannya.
“Pulanglah calon sarjana, kau harus sekolah, kan. Biar kami yang menguasai TPA,” sahut kawannya yang sedang sibuk memilah sampah.
Guntur melambai sambil tersenyum. Dia berlari dengan penuh semangat. Guntur ingin segera tiba di rumah dan mencuci boneka berbulu itu. Dia tidak pernah melihat boneka Mimi milik Susan, namun Guntur bisa memperkirakan bentuk boneka beruang dengan perut dan pipi yang bulat. Meski tidak terlalu yakin dengan hasil temuannya, tetapi dia ingin segera menemui Susan untuk memastikan apakah boneka itu miliknya atau bukan.
Tiba di rumah, Guntur membilas boneka itu dan merendamnya dalam air yang telah dicampur dengan deterjen. Sambil menunggu, Guntur membersihkan diri untuk bersiap pergi ke sekolah. Setelah tiga puluh menit direndam, tidak ada perubahan berarti. Warnanya tetap cokelat lusuh dan bau busuk yang masih menempel. Jika diperhatikan dengan seksama, boneka itu tampak mengerikan dan jauh dari kesan menggemaskan. Guntur jadi ragu pada temuannya.
Guntur memasukkan boneka itu ke dalam plastik setelah sebelumnya memerasnya dengan sekuat tenaga. Rembesan air masih terus menetes dari ujung kaki dan tangan boneka itu. Guntur membawa boneka itu ke sekolah dan menjemurnya di belakang kelas.
Sepulang sekolah, Guntur mengayuh sepedanya menuju rumah susah. Tangan kanannya memegang boneka beruang yang sudah setengah kering. Untuk menuju kawasan Marunda, Guntur harus menempuh jarak 1,5 km. Selama perjalanan, Guntur mengayuh sepedanya dengan gelisah. Dia teringat pertanyaan Bu Romlah saat jam istirahat.
“Guntur, kamu sudah menulis cerita tentang ibu?”
Guntur menggeleng pelan. Dia benar-benar tidak tahu apa yang harus diceritakan tentang sang ibu. Guntur tidak pernah ingat hal apa saja yang dilaluinya bersama sang ibu. Saat ibunya tiada, usianya masih 2 tahun. Dia tidak ingat apapun. Kenangan tentang ibunya dibangun dari cerita-cerita Kakek Ali, khususnya dari kisah Kesatria Bintang.
“Kamu boleh menulis perasaanmu yang merindukan ibumu. Kamu pernah bilang, kan, pada ibu kalau ibumu pergi jauh dan tidak pernah berkabar. Nah, tulislah keinginanmu untuk bertemu dengannya,” lanjut Bu Romlah.