KATALOG IBU

Puspa Seruni
Chapter #9

9. Surat untuk Ibu

Murni memandang Guntur dengan tatapan penuh kekaguman. Meski hanya ibu sewaan, hatinya berbunga mendengar pembacaan surat berjudul Meraih Bintang yang ditulis Guntur. Tulisan itu terpilih untuk dibacakan pada perayaan hari ibu mewakili kelas 3. Bu Romlah selaku wali kelas merasa senang Guntur yang selama ini dikenal hidup berdua dengan kakeknya, ternyata memiliki cinta yang luar biasa pada ibunya. 

“Ibu, bintang itu tidak jauh. Hanya butuh satu kedipan mata bagiku untuk tiba di sana. Dengan kuda dan pedangku, Kesatria Bintang ini akan menjemputmu. Tetaplah disana, Bu. Tetaplah beraroma mawar. Tetaplah bersinar. Menerangi bumiku yang suram.”

Guntur membaca surat itu dengan mata berkaca-kaca. Dia menulis surat itu sepulang dari rumah Susan, setelah Murni berjanji akan menemani Guntur menghadiri perayaan hari ibu di sekolahnya. Guntur menulisnya di dalam kamar, sambil memandangi foto sang ibu yang sudah rusak, yang bagian wajahnya sudah buram. 

Foto itu diambil Kakek Ali dari buku nikah anaknya, Rohanah. Rohanah menikah saat berusia 20 tahun. Seorang lelaki yang dikenalnya di sebuah pasar melamarnya. Namun malang bagi Rohanah, ketika usianya 25 tahun, dia meninggal karena ledakan gunung sampah akibat penumpukan gas metan. Tubuh Rohanah terlempar dan menyebabkan kepalanya terbentur. 

Selama ini, Guntur tidak bisa menggambarkan wajah ibunya dengan jelas. Namun, kehadiran Murni membuatnya terbantu. Guntur membayangkan wajah sang ibu bulat lonjong seperti milik Murni. Begitu juga dengan bentuk mata dan hidungnya yang mancung dan kecil. Akan tetapi, dari semua itu sifat Murni yang lembut dan penuh kasih sayang yang paling membuat Guntur kagum. Sejak Murni berjanji untuk menemani Guntur datang ke acara sekolahnya, nyaris setiap malam Guntur membayangkan mendapat pelukan. Tidurnya berhias bayangan dan senyum Murni.

Suara tepukan yang gemuruh membuat wajah Guntur bersemu merah, apalagi saat pembawa acara meminta Murni turut naik ke atas panggung. Pagi itu Murni mengenakan dress berwarna biru dongker selutut yang membungkus tubuhnya dengan sangat baik. Pada bagian pundak, Murni menyampirkan sebuah selendang berwarna putih gading. Sedangkan rambutnya yang digerai sebahu dihias jepit berbentuk kupu-kupu berwarna emas yang senada dengan warna sepatunya, membuat penampilannya terlihat semakin anggun. 

Tidak hanya Guntur yang memandang takjub, guru-guru serta para wali murid juga ikut berdecak kagum sambil memendam tanya. Benarkah Guntur, anak pemulung, memiliki ibu secantik itu? Kemana selama ini ibunya pergi? Mengapa tega membiarkan Guntur hidup sendirian?

Hal berbeda dirasakan Niko. Dia merasa kalah dan tidak rela kehilangan uang demi membayar sesumbarnya kala itu. Hampir semua teman-teman kelasnya meminta Niko menepati ucapannya untuk menyerahkan semua uang yang dimilikinya pada Guntur. Sampai hari itu, Niko belum sadar bahwa uangnya berkurang 10 lembar.

Di atas panggung, Murni memeluk Guntur sambil mengusap-usap punggungnya. Ada kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuh Guntur. Usapan lembut itu akan dikenang Guntur hingga nanti, saat dirinya masuk dalam penjara. 

Diantara guru yang memandang takjub, ada Pak Wisnu yang diam-diam mengagumi wali murid anak didiknya. Guntur memang pernah bercerita padanya bahwa sang ibu pergi jauh sejak usianya 2 tahun begitu juga sang ayah yang meninggalkan Guntur tanpa kabar berita. Pak Wisnu tidak menduga bahwa ibu Guntur akan hadir dalam perayaan itu. Dia ikut senang melihat anak didiknya yang satu bulan terakhir bermuram durja sejak ditinggal sang kakek. Pak Wisnu menduga, ibunya datang untuk menjemput Guntur yang sudah tidak punya siapa-siapa.

Usai acara, Pak Wisnu menghampiri Guntur. Guntur memperkenalkan Murni pada guru olahraganya itu. 

“Saya senang, akhirnya Guntur bisa berkumpul bersama ibunya. Sejak Kakek Ali meninggal, saya selalu mengkhawatirkannya,” ucap Wisnu usai menyalami Murni. Dia mengusap kepala Guntur.

“Ah, iya. Saya juga senang,” sahut Murni sambil menyembunyikan kegugupannya. Murni sebenarnya terkejut mendengar kabar kematian Kakek Ali. Guntur ataupun Susan tidak pernah menceritakan hal itu.

“Nanti Guntur ikut ibu, ya? atau tetap tinggal di Cilincing?” tanya Wisnu sambil mengalihkan pandangan dari Guntur ke Murni.

“Ah, enggak, Pak. Saya tetap di Cilincing. Ibu, kan, harus kerja. Sesekali saja saya ketemu ibu kalau kangen.” Guntur menyahut sambil tersenyum canggung.

“Oh, begitu. Ya, setidaknya selesaikan dulu SD di sini, ya. Kamu, kan, sudah janji mau ikut lomba lari kalau sudah kelas 4.” Wisnu menoleh ke arah Guntur.

“Siap, Pak.” Guntur tersenyum lebar sambil memasang gaya hormat.

Setelah berbasa-basi, Guntur dan Murni berpamitan. Mereka menyetop bajaj yang lewat di depan sekolah. Di dalam bajaj, Guntur duduk dengan canggung. Untuk meredakan kecanggungan itu, Murni mengajak Guntur berbincang. Mulai dari hobi Guntur, kegiatan sehari-hari, hingga cita-cita Guntur jika dewasa kelak. 

“Aku pengen jadi satpam komplek. Gagah, pakai seragam. Terus punya kuasa mengatur siapa yang boleh masuk area perumahan. Aku lihat satpam kompleks juga sering dapat makanan dari ibu-ibu.” Guntur berujar dengan semringah. Mendengar itu Murni tertawa.

Lihat selengkapnya