KATALOG IBU

Puspa Seruni
Chapter #10

10. Godaan

Penjelasan Bu Romlah tentang perbedaan karakter makhluk hidup terdengar seperti gumaman semata di telinga Guntur. Angin yang bertiup pelan dari jendela membuat mata Guntur terasa berat. Setiap hari Guntur hanya tidur empat jam. Sebelum adzan subuh, kakinya sudah tegak berdiri di atas gunungan sampah, pulang sekolah punggungnya harus sudah siap menanggung karung-karung beras dan tepung, sedangkan malam hari dia masih harus berjibaku di jalanan menjajakan suaranya yang sama sekali tak merdu itu. Guntur akan tiba di rumah setiap pukul 11 malam.

“Guntur, coba sebutkan perbedaan cara pernapasan pada tanaman dan hewan.”

Suara Bu Romlah membuat Guntur tergerap. Saat namanya disebut mau tak mau kesadarannya ditarik kembali ke dalam kelas.

“Guntur …” Panggil Bu Romlah saat melihat Guntur hanya menatap bingung ke arahnya. “Cuci muka. Jangan tidur di jam pelajaran,” lanjutnya.

Guntur tak membantah. Dia beranjak dari kursinya diiringi suara tawa teman-temannya. 

*** 


Saat kelas usai, Bu Romlah meminta Guntur ke ruang guru. Guntur sebenarnya ingin mengelak, tetapi hari itu Bu Romlah sudah beberapa kali menegurnya karena tidak mengikuti pelajaran dengan baik. Selain karena kurang tidur, pikiran Guntur mengelana pada Murni. Malam sebelumnya, dia melihat ada pasar malam tidak jauh dari tempatnya mengamen. Ada komidi putar, rumah hantu, juga bianglala. Guntur membayangkan bisa naik bianglala bersama Murni. Khayalan itu seringkali membuatnya tak bisa berkonsentrasi mengikuti pelajaran di kelas.

“Guntur, bantu ibu pilah-pilah dokumen ini ya. Dokumen dibawah tahun 2000 kamu letakkan di kardus itu, ya. Terus nanti bawa ke gudang dekat UKS,” ucap Bu Romlah sambil menunjuk dokumen yang memenuhi lemari yang terletak di meja kerjanya.

Ruang guru saat itu masih ramai. Beberapa guru masih tampak mengobrol. Guntur mulai memilah dokumen-dokumen itu dengan cepat, sementara Bu Romlah duduk di mejanya sambil menghitung uang dan mencatat sesuatu di bukunya. Saat satu dus sudah penuh, Guntur mengangkat kardus itu ke gudang yang tidak jauh dari ruang guru. Saat kembali ke ruang guru, Bu Romlah tak ada di mejanya. Setumpuk uang tergeletak begitu saja.

Guntur kembali memilah dokumen. Dokumen yang harus dipilah cukup banyak membuat Guntur harus bergerak cepat jika tak ingin dimarahi Haji Umar karena datang terlambat. Bu Romlah kembali ke mejanya membawa satu gelas es teh.

“Ini buat kamu, ya.” Bu Romlah meletakkan gelas itu di meja. 

Guntur mengangguk dan terus memilah dokumen. Bu Romlah memasukkan lembaran uang yang sudah dihitungnya ke dalam dompet. Setelah itu kembali sibuk dengan buku-buku di mejanya. Satu kardus kembali penuh, Guntur mengangkatnya untuk dibawa ke gudang.

Saat kembali, ruang guru mulai sepi. Hanya ada Pak Sarif yang sibuk menyapu, dan Bu Firza yang sedang berbincang dengan Bu Romlah sambil sesekali tertawa. Guntur kembali memilah dokumen. 

“Bu, sudah tidak ada lagi dokumen di bawah tahun 2000. Tinggal ini,” tunjuk Guntur pada kardus yang berisi dokumen. 

“Oh, iya. Bawa ke gudang terus ke sini minum es teh, ya,” ujar Bu Romlah.

Guntur kembali mengangguk dan segera mengangkat kardus yang kali ini terasa lebih ringan karena tidak sepenuh kardus-kardus sebelumnya. Saat kembali ke ruang guru, Bu Romlah sudah tidak ada di mejanya. Guntur meletakkan kardus kosong di dekat lemari. Saat menoleh, dilihatnya tas Bu Romlah terbuka. Sebuah dompet berwarna cokelat menyembul. 

Guntur memperhatikan ruang guru yang sepi. Suara Bu Romlah dan Bu Firza serta Pak Sodiq terdengar sayup-sayup dari ruang rapat yang berada persis di sebelah ruang guru. Ketiganya tampak membicarakan hal yang serius. Pintu kayu yang menghubungkan ruang rapat dan ruang guru terbuka, sehingga Guntur yang sedang duduk di hadapan meja Bu Romlah dapat mendengar suara ketiganya. Perlahan Guntur menghabiskan es teh dalam gelas yang sudah berembun itu. Sesekali wajahnya menoleh ke arah pintu, memperhatikan Pak Sarif yang keluar masuk ruang guru untuk membuang sampah.

Jantung Guntur berdegup kencang. Dompet cokelat itu terlihat tebal dengan lembaran uang yang dijejalkan ke dalamnya. Saat es teh dalam gelas tandas, Guntur beranjak kemudian berjongkok. Dia berpura-pura mengikat sepatunya, sebelum dengan cepat tangannya meraih dompet cokelat itu dan menyelipkannya di punggung di dalam seragam sekolahnya.

Guntur buru-buru bangkit dan meraih tas sekolahnya. Dia berjalan dengan jantung berdebar ke arah pintu. Guntur berdiri di depan pintu yang menghubungkan ruang guru dan ruang rapat. Bu Romlah menoleh.

“Sudah selesai, Bu. Saya pamit karena harus bekerja,” ucap Guntur sambil mengangguk.

“Oh, iya. Di ruang guru masih ada Pak Sarif, kan?” tanya Bu Romlah.

“Masih, Bu. Masih bersih-bersih,” sahut Guntur.

“Ya sudah, terima kasih.” 

Guntur sekali lagi mengangguk, kemudian melangkah meninggalkan ruang guru. Guntur melangkah tergesa. Dibalik seragamnya, punggungnya basah oleh keringat dingin. Begitu tiba di parkiran, dia meraih sepeda dan menganyuhnya secepat mungkin.


*** 


Sepanjang siang, pikiran Guntur tidak tenang. Beberapa kali Mang Dayat harus menegurnya karena Guntur lebih banyak melamun. Haji Umar juga turut memperhatikan sikap Guntur yang tak setangkas biasanya dalam bekerja.

“Guntur, kamu sakit?” tanya Haji Umar menghampiri Guntur yang saat itu sedang mengasoh di dekat gudang.

“Nggak Pak Haji. Tadi ditegur bu guru di sekolah, katanya nilai ulangan saya jelek. Jadi saya dikasih tugas,” jawabnya sambil mengusap peluh yang membasahi wajahnya. 

Guntur tidak berbohong, nilai ulangan matematikanya memang buruk. Bu Romlah sudah sempat menegurnya tadi di sekolah. Namun bukan itu yang membuatnya melamun. Dia masih gugup dan tidak menduga memiliki keberanian sebesar itu saat mengambil dompet milik gurunya. Guntur disergap rasa bersalah dan takut. Apalagi selama ini Bu Romlah sudah teramat baik padanya. 

Akan tetapi, keinginan Guntur mengajak Murni jalan-jalan ke pasar malam begitu memenuhi pikirannya. Dia ingin merasakan naik bianglala bersama “ibunya”. Dan untuk itu, ada harga yang harus dia bayar. Namun, setelah dompet Bu Romlah berpindah ke tangannya. Hatinya dilanda bimbang. Seharusnya Guntur tak perlu mengambil dompet itu, mungkin mengambil uang secukupnya saja untuk menyewa Murni, membeli tiket untuk naik bianglala, dan membelikan Susan gulali kapas berbentuk bola. 

“Hari ini toko tutup lebih cepat, kau bisa mengerjakan tugas sekolahmu sepulang bekerja.” Perkataan Haji Umar membuat lamunan Guntur buyar.

Lihat selengkapnya