Malam itu menjadi milik Guntur dan Susan. Mereka berlarian di keramaian sambil bergandengan tangan, sementara Murni mengikuti mereka sambil tersenyum lebar. Pasar malam cukup ramai. Warga sekitar Marunda berdatangan untuk menyaksikan atraksi pemotor perempuan di dalam tong setan. Antrian di depan rumah hantu juga mengular. Sedangkan di permainan komidi putar antrian didominasi anak usia TK dan SD yang didampingi orang tuanya. Guntur mengajak Susan pada permainan bianglala. Melihat keranjang yang bergerak naik ke ketinggian membuat Susan bergidik.
“Nggak apa-apa. Kan, ada aku dan Mama Murni. Aman.” Guntur berusaha membujuk Susan.
Di hadapan gadis kecil itu Guntur seringkali berubah layaknya seorang kakak yang selalu siap menjadi penjaga. Guntur tak pernah bergaul akrab dengan teman perempuan, tetapi begitu melihat Susan dengan rambut panjangnya yang dikepang dua dan sikap Susan yang selalu merengek, membuat sifat kakak dalam dirinya keluar.
“Aku nggak mau, ah. Kita naik itu aja.” Susan menunjuk ke arah komidi putar.
“Iya, kita nanti ke sana. Sekarang naik ini dulu, mumpung antriannya tidak panjang. Di atas sana, kamu bisa liat bintang lo. Bintangnya banyak.” Guntur terus membujuk.
“Benar?” Susan menoleh pada Murni.
Murni mengangguk pelan.
“Ayo, kita lihat bintang.” Murni menggandeng tangan Susan dan mengajaknya masuk ke antrian.
Susan akhirnya menurut. Meski takut, tetapi bayangan bintang yang berkerlap-kerlip seperti yang selalu ibunya ceritakan membuatnya penasaran. Guntur tersenyum senang.
Setelah 4 antrian di hadapan mereka masuk ke dalam keranjang, tiba giliran Murni membayar sejumlah uang.
“Satu keranjang, ya, Pak,” ucap Murni.
“Satu keranjang minimal 4 orang, Mbak.” Seorang penjaga tiket berkata.
“Iya, nggak papa. Saya bayar untuk 4 orang.” Murni menyerahkan dua lembar uang lima ribuan.
Laki-laki itu mengangguk dan merobek 4 karcis untuk Murni. Dia membukakan palang besi dan meminta mereka untuk masuk. Keranjang yang mereka masuki berwarna biru. Guntur duduk sendirian, sedangkan Susan duduk sambil memeluk Murni. Guntur tertawa melihat itu.
“Tidak apa-apa,” ucap Guntur meyakinkan Susan.
Keranjang pelan-pelan bergerak naik mengisi penumpang. Susan berusaha untuk tenang seperti yang diucapkan Guntur. Dia melihat-lihat ke sekitar. Namun ketika keranjang naik semakin tinggi, aliran darah di kaki Susan mengalir deras. Dia memeluk Murni dengan erat dan tidak berani menengok ke bawah. Ketika tiba di puncak ketinggian, pelukan Susan pada Murni semakin erat. Dia memejamkan mata. Sementara Guntur sibuk menunjuk bintang-bintang yang malam itu terlihat terang.
“Susan, lihat itu. Bintangnya besar sekali.” Guntur menatap takjub.
Langit Jakarta malam itu tampak bersih dan tidak kelabu. Bintang-bintang berkelipan. Sementara di bawah, lampu-lampu jalanan terlihat semarak. Murni memperhatikan wajah Guntur yang berbinar. Senyum tak pernah lepas dari bibirnya.
“Ah, andai saja …” gumamnya dalam hati.
Susan sesekali mengintip, membuka mata diam-diam dan melihat ke arah yang ditunjuk oleh Guntur. Dia merasa senang, tetapi sekaligus takut. Angin malam bertiup pelan. Ada rasa dingin yang diam-diam menyusup dan membuat Susan menggigil.
“Kamu kedinginan?” tanya Murni. Malam itu Murni mengenakan sweater lengan panjang berwarna hijau botol yang dipadu celana jeans. Sedangkan Susan hanya mengenakan celana jeans panjang dan kaos merah muda berlengan pendek.
“Ini, pakai saja.” Guntur membuka jaketnya dan menyerahkannya pada Susan.
“Kamu nggak dingin?” tanya Murni melihat Guntur yang hanya mengenakan kaos tipis dan celana pendek.
“Nggak papa,” ucapnya. “Kasihan Susan. Aku sudah biasa.” Guntur melanjutkan.
Murni mengenakan jaket itu ke tubuh Susan kemudian memeluknya lagi.
“Apa di bintang ada orang?” tanya Susan tiba-tiba membuat Guntur menoleh.
“Ada, ibuku tinggal di sana,” ucapnya penuh keyakinan.