KATALOG IBU

Puspa Seruni
Chapter #12

12. Kecurigaan

Bab 12. Kecurigaan


Masih pukul 06.30 pagi dan Pak Sarif belum membunyikan bel tanda masuk sekolah. Murid-murid terlihat berlarian dari gerbang sekolah, melintasi halaman menuju ruang kelas. Beberapa siswa yang sudah datang terlebih dahulu tampak duduk-duduk di depan kelas sambil berbincang, sementara ruang guru sudah ramai. Guru-guru yang sudah datang bergerombol di satu meja. Bu Romlah terduduk sambil menangis.

“Kejadiannya kapan, Bu? Bukannya kemarin kita masih ngobrol dan gak ada apa-apa, kan?” Bu Firza duduk di sebelah kanan Bu Romlah.

“Saya gak tahu pastinya, Bu. Pagi tadi saya baru cek pas mau berangkat ke sekolah. Dompet yang buat nyimpan tabungan koperasi gak ada,” ujar Bu Romlah sambil terisak.

Para guru yang mengelilingi Bu Romlah bergantian menanyakan kronologi kehilangan dompet milik Bu Romlah. 

“Setelah dari sekolah, saya sempat mampir ke pasar untuk beli ayam potong. Tapi di pasar saya gak ngeh apa dompet itu masih ada apa enggak karena saya ambil uang dari dompet saya yang lain, yang memang khusus untuk menyimpan uang belanja.”

Saat Bu Romlah bercerita, Kepala Sekolah masuk ke ruang guru dan melihat para guru mengerubungi satu meja.

“Ada apa ini?” tanya Pak Ahmad, Kepala Sekolah.

Bu Firza menjawab pertanyaan Pak Ahmad mewakili Bu Romlah. Dia menceritakan kejadian kehilangan yang dialami oleh Bu Romlah. 

“Coba diingat-ingat dulu, Bu. Kapan terakhir kali ibu melihat dompet itu. Kalau memang kejadiannya di sekolah, ya kita harus selidiki siapa yang mengambil,” ucap Pak Ahmad menutup perbincangan pagi. Pak Sarif sudah membunyikan bel masuk, pertanda para guru harus siap-siap ke ruang kelas masing-masing. 

“Bu, ada yang mau bertemu Bu Romlah. Katanya ibunya salah satu siswa kelas 3.” Pak Sarif tergopoh-gopoh menemui Bu Romlah yang sedang menata beberapa buku untuk dibawa ke kelas.

“Di mana, Pak?” tanya Bu Romlah.

“Tadi saya minta menunggu di ruang tamu, Bu.”

“Oh ya, saya kesana sekarang.”

Bu Romlah bergegas keluar ruang guru menuju ruang tamu yang berada di sebelah ruang wakil kepala sekolah. Ketika Bu Romlah membuka pintu, tampak seorang perempuan berusia 40 tahun duduk di sofa. Perempuan berpakaian biru itu berdiri dan menyalami Bu Romlah.

“Niken, ibunya Niko,” ucapnya.

Setelah berbasa-basi, perempuan yang mengenakan perhiasan satu set mutiara air tawar itu menjelaskan maksud kedatangannya ke sekolah.

“Nico kehilangan uang, Bu. Mungkin sekitar satu minggu atau dua minggu lalu. Jumlahnya cukup banyak, 300 ribu rupiah.” 

Perkataan ibu Niko membuat Bu Romlah terperangah. 

“Untuk apa Niko membawa uang sebanyak itu ke sekolah, Bu? Dua ratus ribu itu sangat banyak sekali.”

“Untuk ditabung, Bu. Neneknya baru datang dari Lampung. Jadi Niko banyak dapat uang.”

“Tapi Niko gak menyerahkan ke saya dan gak ada informasi apa-apa juga,” sahut Bu Romlah bingung.

“Ya, mungkin Niko takut mau bilang sama Ibu. Tapi yang jelas uangnya hilang dan saya sebagai ibunya menuntut penggantian ke pihak sekolah.” Bu Niken berkata ketus.

“Maksudnya bagaimana, Bu?” tanya Bu Romlah semakin bingung.

Lihat selengkapnya