.Wisnu duduk di seberang jalan dengan keringat mengucur deras. Pantulan panas dari aspal jalan membuat wajah dan punggungnya basah. Sesekali Wisnu turun dari motornya yang di parkir di bawah pohon di pinggir jalan, lalu duduk di trotoar sambil terus memandang ke arah toko milik Haji Umar. Ada dua truk terparkir di depan toko. Tiga orang kuli panggul keluar masuk membawa karung goni berisi beras di punggung mereka untuk di letakkan di atas truk. Salah satu dari ketiga kuli panggul itu adalah Guntur, anak kelas 3 SD yang sedang menjadi pusat perhatiannya.
Dengan perasaan bosan, Wisnu kembali menyulut sebatang rokok di jari tangannya. Dihembuskannya asap rokok itu pelan-pelan. Pikirannya melayang bersama asap tipis yang kemudian hilang terbawa angin itu. Sudah empat hari Wisnu melakukan hal yang sama. Rutinitas Guntur sejak pulang sekolah hingga malam sudah dilaporkan pada Pak Ahmad.
“Tidak ada yang mencurigakan, Pak. Sepulang sekolah, Guntur bekerja di toko. Jadi kuli panggul. Setelah itu, dia mengamen di perempatan sama temannya. Sekitar jam 9, dia pulang ke rumah dan nggak keluar rumah lagi.” Wisnu berusaha menjelaskan pada Pak Ahmad hasil penyelidikannya selama tiga hari.
“Sabar, tunggulah sampai hari Jumat atau Sabtu ini. Sekolah kan pulang lebih awal, siapa tahu Guntur ke wisma itu di akhir pekan,” ucap Pak Ahmad menenangkan. “Seandainya akhir pekan ini tidak apa-apa, kita sudahi saja. Saya rasa waktu tujuh hari sudah cukup untuk penyelidikan,” lanjutnya.
“Sejujurnya, saya berharap tuduhan itu keliru, Pak. Saya kenal Guntur, saya tahu bagaimana kerja kerasnya untuk membantu kakeknya dulu. Apalagi, ketika melihat dia memanggul sekarung beras. Rasanya gak mungkin dia melakukan itu.” Wisnu berkata pelan, ada gurat harapan terpancar dari wajahnya.
“Saya juga berharap begitu. Apalagi jawaban Niko saat ditanya sama Pak Edy juga berputar-putar dan tidak konsisten. Saya jadi ragu, apa benar uang Niko hilang di sekolah.” sahut Pak Ahmad.
Wisnu menyimak penjelasan kepala sekolah.
“Tapi, kita tentu tahu bahwa Bu Romlah tidak seperti Niko. Uangnya benar-benar hilang. Dan dia ingat terakhir kali melihat dompetnya sebelum pulang sekolah,” lanjut Pak Ahmad.
“Iya, saya dengar dari pembicaraan guru-guru tadi di ruangan,” sahut Wisnu.
“Dan tersangkanya ada Guntur dan Pak Sarif. Makanya sekarang Pak Edy juga sedang mengamati Pak Sarif.” Pak Ahmad kembali menjelaskan. “Pak Wisnu lanjutkan saja dulu penyelidikannya. Supaya bisa jelas semuanya,” lanjutnya.
Wisnu mengangguk tegas.
Laki-laki itu teringat perbincangannya siang tadi dengan Kepala Sekolah. Sebenarnya dia tidak mau lagi melanjutkan penyelidikan yang hasilnya sama saja setiap hari. Bukan karena Wisnu tidak mau menjalankan perintah atasannya, tetapi setiap kali melihat Guntur memanggul karung punggung Wisnu ikut merasa ngilu. Tak terbayang, seorang anak berusia 9 tahun menjadi kuli panggul. Namun, yang lebih tak masuk akal bagi Wisnu, Guntur menjalaninya dengan riang.
Apalagi ketika melihat Guntur mengamen. Meski tersirat kelelahan di wajahnya, bibirnya tak pernah lepas dari senyum. Sambil menunggu lampu merah di trotoar, Guntur biasanya akan bercanda bersama teman pengamennya. Tawanya berderai riang. Terlihat sekali Guntur menikmati setiap hal dalam kesehariannya.
Wisnu tidak pernah tahu berapa uang yang didapat Guntur dari mengamen, namun dari caranya menerima uang itu dengan mata bercahaya, Wisnu bisa melihat uang itu sangat berharga bagi Guntur. Dari penyelidikan itu pula, Wisnu jadi tahu bahwa Guntur mengalokasikan sebagian besar waktunya untuk bekerja dan pulang ke rumah hanya untuk tidur. Sangat berbeda dengan anak-anak seusianya yang masih sibuk bermain.
Wisnu melirik jam tangan yang menunjukkan pukul empat lewat lima puluh menit. Sepuluh menit lagi, jam kerja Guntur di toko Haji Umar akan berakhir. Wisnu mengusap wajahnya yang mulai lelah duduk di pinggir jalan. Topi dan kacamata yang dikenakan dalam penyamaran tak pernah dilepasnya. Penampilannya membuat orang sering salah sangka, Beberapa kali Wisna dikira tukang ojek.
Saat melihat Guntur keluar dari halaman toko Haji Umar dengan sepedanya, Wisnu mengikutinya dari jarak cukup jauh. Dia sudah hapal jalan yang bakal dipilih Guntur untuk menuju lokasi kerja berikutnya.
Tiba di lampu merah, Wisnu melajukan motornya menuju warung kopi tidak jauh dari lampu merah. Dia memilih duduk lesehan di trotoar sambil memandang ke arah lampu merah. Seperti biasa, Guntur mulai mengamen bersama seorang anak lelaki yang usianya lebih tua dari Guntur. Mereka bergerak dari satu mobil ke mobil lainnya. Tak sedikit yang membuka jendela memberi mereka belas kasih, namun tak jarang juga suara mereka berbuah lambaian tangan dari pemilik kendaraan.
Setelah empat cangkir kopi dan lima pisang goreng dihabiskan, Wisnu melirik jam di pergelangan tangannya yang menunjukkan pukul 9 malam. Hari itu dia sudah menghabiskan 2 pak rokok untuk membunuh rasa bosan selama mengawasi Guntur bekerja. Praktis pengeluarannya selama empat hari ini meningkat drastis.