Ketika Wisnu berdiri untuk menyampaikan hasil temuannya, semua mata menatapnya tak berkedip. Wisnu berdiri dengan gugup. Tenggorokannya tiba-tiba terasa kering. Dia masih tak percaya dengan apa yang dilihatnya dan sudah meminta tambahan waktu untuk penyelidikan pada kepala sekolah. Namun, permintaannya ditolak dan kepala sekolah memintanya untuk segera menyampaikan hasil temuannya di rapat dewan guru pada hari Senin pagi.
“Silakan, Pak Wisnu. Disampaikan hasil penyelidikannya,” ucap Pak Ahmad saat melihat Wisnu terdiam beberapa saat.
Wisnu mengangguk pelan, berusaha membuka mulutnya yang terasa kaku.
“Saya membuntuti Guntur dari hari Senin, setiap pulang sekolah hingga malam ketika Guntur pulang bekerja.” Wisnu menghela napas panjang kemudian menelan ludah. Dengan terbata dan suara pelan, Wisnu mulai menceritakan pengamatannya setiap hari. Dia menyampaikan bahwa Guntur adalah anak pekerja keras yang pulang ke rumah hanya untuk tidur dan beristirahat.
“Pak Wisnu, tolong jangan bertele-tele. Sampaikan langsung point pentingnya,” desak Pak Edy selaku ketua tim penyelidikan kehilangan uang.
“Tapi ini penting. Supaya kita bisa menimbang semua dengan adil,” sahut Wisnu.
“Ya, silakan dilanjutkan, Pak. Saya rasa itu juga penting, supaya kita tahu latar belakang Guntur dengan lebih jelas.” Pak Ahmad memberi kesempatan bagi Wisnu untuk kembali menjelaskan.
Tidak ada hal yang Wisnu lewatkan, termasuk keprihatinannya saat tahu Guntur memanggul sekarung beras atau satu sak semen nyaris setiap hari untuk membayar sewa kontrakan rumah pada Haji Umar.
“Pak Haji Umar memang memberinya makan siang, bahkan kata Guntur sering juga makan malam. Tetapi dia masih anak-anak. Punggungnya belum sekuat orang dewasa. Dia masih dalam tahap pertumbuhan. Bagaimana jika dia cedera? Bagaimana jika beban itu mengganggu perkembangan tulangnya. Melihat punggung Guntur yang setiap hari dibebani beban sedemikian berat, saya nyaris menyerah dan meminta pada Bapak Kepala Sekolah untuk menghentikan penyelidikan.” Wisnu terdengar menghela napas. “Tapi semua tetap harus dilanjutkan untuk mengungkap kebenaran,” lanjutnya.
Wisnu menceritakan pula bagaimana Guntur harus pergi ke perempatan lampu merah setelah pekerjaannya di toko Haji Umar selesai.
“Dia mengamen dari pukul setengah enam sore hingga pukul sembilan atau sepuluh malam. Saya tidak tahu bagaimana cara tubuhnya bekerja. Setelah seharian punggungnya memanggul beban berat, dia masih punya energi untuk berjibaku dengan asap dan suara bising dari deru kendaraan. Jika itu saya, mungkin saya tidak akan sanggup bekerja dengan jam kerja panjang dan berat seperti itu. Tetapi Guntur menampar saya, seolah memberi tahu bahwa kehidupan ini begitu keras dan kita tidak boleh lembek.” Wisnu menjeda kalimatnya.
Dia memperhatikan satu per satu wajah guru yang hadir dalam rapat dewan guru pagi itu. Tampak air mata menggenang di sudut mata Bu Fidza yang duduk tepat di samping Bu Romlah. Bu Romlah juga terlihat menggigit bibirnya seolah menahan kesedihan. Sementara guru-guru lain memandang Wisnu dengan dahi berkerut.
Wisnu menghela napas, bersiap melanjutkan ceritanya.
“Setiap malam, Guntur pulang ke rumah menjelang tengah malam. Baju seragam dan sepatunya dia simpan dalam tas kresek hitam yang selalu dikaitkan di sepedanya. Sepeda yang dipinjamkan Haji Umar untuknya. Tidak terbayang jika tidak ada sepeda itu, mungkin Guntur akan berlari dari sekolah ke toko kemudian ke lampu merah, lalu ke rumahnya.” Wisnu kembali menghela napas.
“Pada hari ke lima, tepatnya hari Jumat. Sepulang sekolah, Guntur tidak langsung menuju toko Haji Umar, tidak seperti biasanya. Dia menuju area pertokoan di pasar. Dia mencari sebuah ruko untuk disewa. Dari pemilik loss ruko yang akan disewa itu saya mendapat informasi bahwa Guntur berniat membuka warung makan.”
“Tapi dari mana dia dapat uang buat nyewa los ruko, pasti harganya gak murah,” potong Pak Edy tidak sabar.
“Itu yang saya juga belum tahu, Pak. Tapi yang jelas, Guntur belum membayar. Harga sewa rukonya kurang lebih lima puluh ribu per bulan,” sahut Wisnu, melanjutkan ceritanya dengan tenang.
“Kejadian yang tidak biasa di hari Jumat hanya itu saja, setelah itu Guntur bekerja seperti biasa di toko Haji Umar dan malamnya mengamen.” Wisnu menghentikan ceritanya. Dia meminta izin pada Kepala Sekolah untuk membasahi tenggorokannya dengan air putih yang ada di mejanya.
“Pada hari Sabtu,” lanjut Wisnu, “Saya kembali mengikuti Guntur setelah pulang sekolah. Hari itu berbeda, Guntur pulang ke rumahnya. Saya kira, penyelidikan saya hari itu sudah berakhir. Saya sempat berpikir untuk meninggalkan gang, namun ketika melihatnya keluar dari gang dengan raut ceria, saya mengurungkan niat. Guntur mengayuh sepedanya dengan bersemangat. Penampilannya cukup rapi dengan kaos hitam dan rambut yang tersisir rapi. Selama membuntutinya, baru kali itu saya melihatnya mengenakan kaos bersih yang bukan kaos partai yang kebesaran.”
Wisnu menghentikan ceritanya, mengedarkan pandangan pada rekan-rekan guru yang masih antusias mendengarkan kisah keseharian Guntur.
“Saya membuntuti Guntur hingga ke area Marunda. Dan …” Wisnu menjeda kalimatnya. Dia menghela napas panjang. “Guntur masuk ke area Wisma Edelweiss, wisma yang menurut orang-orang adalah tempat prostitusi,” lanjutnya.
Beberapa orang terlihat tak percaya. Mereka menatap Wisnu dengan mulut terbuka dan dahi berkerut, menunggu Wisnu melanjutkan kisahnya.