Murni berdiri kaku di ambang pintu saat melihat laki-laki yang datang menemuinya adalah Wisnu, pria yang dikenalnya saat acara sekolah Guntur. Jantungnya berdegup kencang. Sementara Wisnu yang duduk di teras, memandang lurus ke jalan raya di hadapannya. Murni merapikan rambut dan cardigan yang dikenakannya, lalu berjalan pelan mendekat ke arah Wisnu.
Wisnu menoleh. Sesaat tatapan keduanya bertemu, lalu masing-masing mengalihkan pandangan ke arah lain dengan gugup. Wisnu berdehem sesaat. Tenggorokannya terasa kerontang.
“Maaf, sudah mengganggu,” ucap Wisnu dengan kaku.
Murni tak menyahut. Dia duduk di kursi rotan di samping Wisnu. Sebuah meja bundar ada di antara keduanya.
“Saya mau membicarakan tentang Guntur.” Wisnu melanjutkan. “Hari ini, Guntur akan dipanggil Kepala Sekolah. Dia …” Wisnu menjeda kalimatnya, menunggu reaksi Murni. Murni menunggu kelanjutan itu tanpa mengatakan apapun. Dia berhati-hati, tidak ingin salah berucap.
“Dia dituduh mencuri uang milik teman dan wali kelasnya,” lanjutnya.
“Hah, mencuri? Bukannya dia pekerja keras?” tanya Murni tak percaya. Wisnu mengangguk.
“Mungkin kamu, sebagai … hmmm … ibunya, mau membantunya.” Kalimat Wisnu terdengar ragu. Dia menoleh pada Murni yang sedang memperhatikannya.
Murni menelan ludah. Telapak tangannya mulai basah. Laki-laki di hadapannya menatapnya dengan lekat dan membuat jantungnya berdetak semakin kencang.
“A … aku.” Murni mengalihkan pandangannya. Merapikan rambut yang berjatuhan ke pipinya dan membawanya ke belakang telinga.
“Bukankah kamu ibunya? Iya, kan?” Wisnu menetak. Murni duduk dengan gelisah.
“Sebenarnya itu … Dia anak yang baik. Dia membantu Susan menemukan bonekanya. Jadi, aku merasa perlu membantunya juga.” Murni menjelaskan tanpa diminta.
Wisnu mengernyitkan kening menatap Murni.
“Susan, anak Mbak Wulan, tinggal di sini juga,” lanjut Murni dengan gugup. “A … aku bukan ibu Guntur.” Murni tertunduk.
Terdengar helaan napas dari Wisnu.
“Kamu tahu pencurian uang yang dilakukan Guntur? Dia menyewa sebuah ruko di dekat pasar. Katanya untuk ibunya. Ibunya mau buka warung makan. Dan ibunya yang kutahu adalah kamu.”
Wisnu menjawab sambil memperhatikan Murni yang sedang sibuk meremas kedua tangannya. Murni menggeleng pelan. Ingatannya melayang pada pembicaraannya dengan Guntur di pasar malam.
Waktu itu, Murni terdiam memperhatikan seorang perempuan yang tampak sibuk melayani pembeli di warungnya. Sesekali perempuan itu mengusap keringat yang mengucur di dahinya dengan punggung tangannya. Guntur memperhatikan Murni yang sedang tertegun itu.
“Kenapa? Ibu kenal perempuan itu?” tanya Guntur. Murni menggeleng.
“Aku cuma suka ngeliatnya sibuk. Suatu hari, aku pengen juga punya warung seperti itu. Bekerja dengan hati senang melayani pembeli,” jawabnya.
“Ibu pengen buka warung?” Guntur menegaskan. Murni mengangguk sambil tersenyum.
“Ya, mungkin warung makan, salon, atau apapun lah usaha yang bisa menghasilkan. Supaya aku bisa mandiri, dan nggak perlu ikut Mami Linda lagi,” sahutnya.
Kala itu Guntur hanya mengangguk dan tak menjawab apa-apa. Perbincangan itu berakhir karena Susan merengek minta permen gula kapas.
“Aku tidak tahu dia akan nekad mencuri uang. Yang aku tahu, dia selalu bekerja keras setiap hari. Dia hanya datang kemari di hari Sabtu. Selebihnya dia hidup untuk bersekolah dan bekerja.” Murni menjelaskan.
“Apakah dia datang kemari untuk ….” Wisnu menghentikan kalimatnya. Dia ragu untuk melanjutkan. Sekilas diliriknya Murni, mencari raut kecewa atau rasa tersinggung.
“Tidak. Aku tidak menjual diri untuk anak dibawah umur. Dia datang kesini untuk membaca buku. Aku sudah berjanji akan membacakan buku untuk Guntur dan Susan setiap hari Sabtu.” Murni berkata tegas.
Wisnu menunduk. Merasa malu atas pikiran kotornya sendiri.
“Kalau begitu, bantulah Guntur. Datanglah bersamaku ke sekolah siang ini. Aku tidak mau Guntur dikeluarkan dari sekolah karena dianggap sering menggunakan …” Wisnu tercekat. Tangan kanannya bergerak-gerak di hadapan Murni. “Maksudku menggunakan jasamu,” lanjutnya penuh rasa bersalah. “Maafkan aku.” Katanya penuh permohonan.
Murni tersenyum canggung. Ada sembilu yang pelan-pelan menggores hatinya. Disimpannya duka itu dalam hatinya sendiri. Dia tahu, bukan hanya Wisnu yang akan berpikir buruk tentangnya.
“Menurutmu, aku masih bisa menolongnya? Aku ….” Ada nada tidak percaya diri dari kalimat yang diucapkan Murni.
“Penjelasanmu akan menyelamatkan masa depan Guntur,” ucap Wisnu.
Murni mengangguk pelan. Setelah itu dia beranjak masuk untuk berganti pakaian. Wisnu duduk di teras sambil merokok. Dihembusnya asap rokok itu pelan-pelan. Siang itu, dia tidak dapat mendefinisikan perasaannya sendiri.
Ada getar halus yang membuat degup jantungnya mengencang ketika menatap wajah Murni. Namun, di satu sisi ada rasa kecewa melihat perempuan secantik Murni berkubang dalam pekerjaan yang dianggap buruk oleh sebagian besar masyarakat.
Dari dalam ruang tamu, Wulan mengamati Wisnu dan Murni sejak tadi. Pandangan mata Wisnu pada Murni mengingatkan dirinya pada sosok laki-laki yang membuat hatinya patah enam tahun lalu. Wulan menghela napas panjang.
“Mau kemana?” tanya Wulan ketika berpapasan dengan Murni di lorong ruang tengah.
“Ke sekolah Guntur, Mbak. Dia dalam masalah,” sahutnya.
“Murni, ingat nasihat Mbak, ya. Hati-hati. Jangan melibatkan diri terlalu jauh. Bagaimana kalau Mami Linda tahu?” Wulan menarik lengan Murni dan berkata nyaris berbisik.
Murni mengangguk. Dia mengusap tangan perempuan yang sudah dianggap seperti saudaranya itu.
“Iya, Mbak. Aku hanya ingin menolong Guntur sekali lagi. Kalau Mami Linda bertanya, tolong sampaikan aku pergi ke apotik untuk beli obat pereda nyeri menstruasi, ya.” Murni membujuk.
Wulan menghela napas panjang sambil berdecak. Dilepasnya cengkraman tangannya dari lengan Murni.
Wisnu dan Murni pergi dengan berboncengan. Di atas motor, keduanya sama sekali tidak saling berbincang. Murni duduk dengan dada berdegup, demikian juga Wisnu yang melajukan motor dengan kecepatan lebih pelan dari biasanya. Wisnu berharap jarak Marunda ke sekolah bisa bertambah beberapa kilometer. Bagaimanapun, aroma mawar yang menguar dari tubuh Murni menghapus kekecewaannya pada status perempuan bermata bulat itu.
Tiba di sekolah, Wisnu memarkir motornya di parkiran tak jauh dari ruang guru. Waktu itu jam pulang sekolah tinggal sepuluh menit lagi. Saat melintas di depan ruang guru, beberapa guru melongokkan kepalanya ke luar jendela dan memandang pada Murni. Murni mengangguk sambil tersenyum.
“Tunggu di sini, ya,” ucap Wisnu ketika tiba di depan ruang tamu sekolah. “Aku mau menghadap kepala sekolah dulu,” lanjutnya. Murni mengangguk dan duduk di bangku kayu yang ditunjuk Wisnu.