Katanya Ustad, Kok Gitu!!

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #1

Chapter tanpa judul #1

Rumah itu terlihat indah tapi–

Sebuah pohon mangga tumbuh di tengah halaman, umurnya baru 5 tahun kurang lebih, tapi buah yang tumbuh seperti sudah melebihi jumlah daun. Di sebelah kanan rumah ada serumpun bunga melati, yang selalu mengeluarkan wangi setiap malam, dan puluhan pot kecil bunga, mulai dari adendium sampai aglonema.

Mari kita masuk ke dalam, "Tolong, buka sepatunya, saya baru mengepel tadi subuh."

Lantai marmer putih ke abu-abuan terpasang rapi mengkilat, sebuah meja kayu jati lengkap beserta semua kursinya, menambah keanggunan rumah tersebut.

Pintu terbuka, "Silahkan masuk, maaf rumahnya sederhana."

Ucapan itu bertolak belakang dengan lukisan besar yang terpajang di dinding, dan sofa puluhan juta menambah manis ruang tamu ditambah dengan beberapa guci yang sepertinya mahal.

"Silakan berkeliling sendiri, saya siapkan minum dulu."

---

Layar handycam berkedip–merekam, menampakkan seorang pria yang memakai peci tapi hanya separuh, baju koko separuh, yang separuh lagi jaket kulit dengan rambut sebelah berantakan. Ia duduk diatas kursi, menatap tajam kamera.

"Perkenalkan nama saya Ahmad Sobari, saya seorang ustad, mungkin kalian pernah mendengar nama saya di televisi atau di media sosial. Melalui rekaman ini saya ingin mengaku dan meminta maaf bahwa saya bukan ustad yang sebenarnya, saya ustad palsu, seorang munafik yang mengambil keuntungan dari ayat, dari ceramah, dari masjid, dari majelis. Untuk itu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya."

Sobari menghela napas, "Semuanya bermula ketika saya pesantren di sebuah pondok berbasis boarding school."

---

"Nak, cita-citamu apa?" Seorang pria bernama Giri Satria bertanya pada anak laki-laki yang duduk di pangkuannya.

"Ari ingin jadi–" Anak itu menoleh kepada ayahnya. "Kira-kira jadi apa, Yah?"

Giri melihat ke arah layar besar di tengah pertokoan, seorang ustad sedang berceramah tentang berkahnya bulan ramadhan. Ia menatap anaknya, "Ari mau nggak jadi itu?" Menunjuk ke arah layar.

Ari menengok, matanya membesar, mulutnya terbuka, "Hebat sekali Ayah, itu apa namanya?" tanyanya.

"Itu namanya ustad, yang suka memberikan nasihat," jelas Giri singkat.

"Ari boleh kan jadi ustad?"

Giri tertawa kecil, "Boleh, berarti nanti Ari pesantren ya."

Ari kecil mengangguk, matanya kembali menatap layar–berbinar.

Lihat selengkapnya