Katanya Ustad, Kok Gitu!!

Ahmad Iki Muqimudin
Chapter #2

Chapter tanpa judul #2

Klik

Suara menderu dari kamera analog terdengar seperti dengung serangga malam.

Lelaki itu kembali duduk, matanya terpejam dengan gerakan pelan, ia sodorkan rokok ke mulutnya, ia hisap perlahan tapi dalam. Secangkir kopi yang masih mengepul panas tersajikan di atas meja, di samping lelaki itu.

"Materi kali ini... kitab ta'lim mutaalim, bab pertama, tentang pentingnya ilmu, hehehe."

Lelaki itu membuka kitabnya, sambil memakai kopiah hitam, rambutnya yang gondrong membuat kopiah miring ke kanan.

"Bismillahirrahmanirrahim, Fashlun fi mahiyatil ilmi–"

---

Anak itu berjalan menggendong ranselnya, melintasi gerbang pesantren yang tinggi bertuliskan 'Pesantren Modern Nurul Ilmi'. Anak itu adalah Ari, bernama lengkap Ahmad Sobari.

Giri berjalan pelan di belakang Ari, memperhatikan tas baru Ari yang kemarin ia beli di pasar. Tangannya menggenggam tas jinjing berisi baju-baju Ari.

Ia tersenyum melihat langkah Ari yang cepat dan tegap, mereka berdua memasuki aula dengan banner besar terpasang di depan, 'Selamat Datang Santri Baru'.

Seorang santri kelas lima atau setara kelas dua SMA, menghampiri mereka.

"Assalamualaikum, ahlan wa sahlan, selamat datang di Pondok Pesantren Nurul Ilmi, untuk anak baru ke sebelah kanan dan walinya ke sebelah kiri. Nanti ada panitia yang mengarahkan disana."

Giri mengangguk, "Nak, kamu ikuti kakak itu, ayah ke sini," ujarnya.

"Iya Yah, tenang saja Ari bisa kok." Ia berjalan cepat mengikuti kakak kelas yang memakai almamater dan nametag yang tergantung di leher.

Giri tersenyum, melambaikan tangan. Lalu senyum itu hilang ketika Ari sudah hilang dari pandangannya. Ia berbelok ke pintu sebelah kiri, hanya mengangguk kecil dengan muka datar.

---

Ruangan itu luas, karpet luas terhampar dari ujung ke ujung, bau pengharum ruangan yang disemprotkan melalui kipas angin besar, terasa sejuk dan wangi.

Ari duduk di bagian tengah ujung kanan, ia melepas ranselnya, duduk bersila, menatap ke depan dengan mata melotot dan bibir melengkung ke atas.

Ketika Ari menoleh ke kiri, ia melihat seorang anak tepat di sampingnya, menjepit tas dengan kedua kakinya, wajahnya terbenam di antara kedua lutut. Ari mendengar suara tangis pelan dari anak tersebut.

Ari mencolek tangan anak tersebut, anak itu mengangkat wajah, terlihat matanya basah.

Lihat selengkapnya