Sebuah sepeda motor terparkir di depan sebuah rumah megah.
Giri berdiri dengan sedikit menunduk, dihadapan seorang pria paruh baya, berpeci putih yang dipanggil H Ridwan.
"Duduk kang, jadinya mau pinjem berapa?" tanya H Ridwan.
"T-tujuh juta Pak Haji." Giri menjawab dengan lirih, suaranya bergetar.
H Ridwan tertawa, "Sebentar lagi bulan puasa, masa pinjemnya tujuh juta, sekalian saja Kang."
Giri mendongak. "Sekaliannya, b-berapa Pak Haji?"
H Ridwan menatap tajam, "Berapa saja, yang penting ada jaminannya."
Giri menoleh kepada motor Astrea-nya, "Kalau jaminannya motor, bagaimana Pak Haji?"
"Gir, motor lu dijual aja, nggak nyampe tiga juta, paling juga bapak bayarin dua juta paling tinggi."
Giri tertunduk, "Saya nggak punya apa-apa lagi Pak Haji."
"Begini aja Gir, karena nggak ada jaminan, Bapak kasih pinjam 10 juta, tapi–" H Ridwan menyunggingkan bibirnya.
"Tapi apa, Pak Haji?"
"Lu gantiinnya 12 juta, Bapak kasih waktu enam bulan, gimana?"
Mata Giri terbelalak, "D-dua b-belas juta, enam bulan Pak Haji?"
"Iya Gir... Itu juga kalau ente mau, Bapak nggak maksa ya." H Ridwan menghembuskan asap rokok ke udara.
Giri melihat ke atas, "Saya boleh pikir-pikir dulu, Pak Haji?"
H Ridwan mengangguk, "Tapi jangan lama-lama, takut duitnya kepake sama yang lain."
"Saya pamit Pak Haji, nanti kalau jadi, saya kabarin." Giri bersalaman.
H Ridwan memanggil salah seorang anak buahnya, "Jep, sini lu! Liatin tuh bocah, gimana caranya dia jadi minjem ke gua."
"Oke Bos," jawab Jepri sambil menaiki motornya, mengikuti Giri yang terlihat dari kejauhan menaiki motor yang terbatuk-batuk.
---
Sementara di Pesantren Nurul Ilmi.
Ari duduk di barisan kedua, ia mengeluarkan buku tulis dan pulpen dan meletakkannya di atas meja.
Seorang guru muda, berumur sekitar 20 tahun masuk–mengucapkan salam.
"Perkenalkan nama saya Ustad Salman Al Farisi, saya wali kelas kalian. Sekarang keluarkan kitab Al-Lughoh Al-Arabiah."
Ari menggaruk kepala, melihat semua temannya mengeluarkan kitab.
Ustad Salman menatap ke sekeliling kelas, "Ada yang belum beli kitab?"