Ari mengusap nisan kuburan ayahnya, air matanya menetes.
"Kalau tahu begini, mending Ari tidak usah pesantren yah." Ia menempelkan keningnya ke tanah yang masih basah.
"Tenang yah, Ari akan menjadi Ustad yang kaya, Ustad yang terkenal, Ustad yang tidak bisa di remehkan," lirihnya
Dua sosok bertanduk tersenyum mendengar ucapan Ari, "Sebagai petugas baru, ente harus tahu pencapaian terbesar seorang penggoda." Sosok dengan kulit hitam dan lima buah tanduk di kepala berkata.
"Boleh di share, sebagai setan yang baru tugas, minimalnya saya harus tahu target," balas sosok lain berkulit merah dan dua tanduk.
"Tugas pertama menggoda manusia supaya tidak mau beribadah."
Sosok merah mengerutkan dahi, "Bukankah memang tugas utamanya begitu?"
"Kalau mereka lolos, dan tetap beribadah maka jangan dicegah lagi, cukup arahkan ibadah mereka ke pemujaan hawa nafsu."
Sosok merah mengangguk-angguk, "Seperti itu?" Menunjuk ke arah Ari yang masih memeluk kuburan ayahnya.
"Seperti itu, tapi kita harus bantu, supaya dia menjadi penyesat nomor wahid yang yahud, kita buat dia menjadi seorang Ustad yang merasa paling segalanya dan diakui oleh masyarakat," jawab sosok hitam tersebut.
"Sekali dayuh, dua tiga pulau terlewati. Ustadnya sesat, pengikutnya sasar."
Mereka berdua tertawa terbahak-bahak, yang didengar oleh seluruh mahluk kecuali jin dan manusia.
Ari menggenggam tanah merah, mengusap air mata dengan ujung baju. Sebuah sumpah telah diucapkan kepada langit, dan akan meminta bayaran di depan.
---
7 tahun berlalu.
Aku berjalan turun dari panggung dengan dada membusung, kopiah hitam merk mahal menghiasi kepalaku. Ratusan jamaah mulai mengerumuni, ingin bersalaman tapi dihalau oleh panitia.
Aku mengikuti langkah seorang panitia yang mengarahkan ku kepada sebuah rumah mewah, tempat penjamuan setelah acara.
"Selamat datang di rumahku, Gus." Seorang pria berjas dan berdasi mengulurkan tangan bersalaman.
Aku menggenggam erat tangannya, ku lebarkan mulutku, "Terimakasih, rumahnya bagus." Aku melihat sekeliling rumah, mataku tertuju kepada sebuah guci besar yang langka, aku menyunggingkan senyum.
"Terimakasih pujiannya, saya merasa terhormat, perkenalkan saya David."
"Semoga berkah Pak David, dan diganjar oleh Allah dengan berlipat ganda." Aku mengangkat tangan, wah dijamu orang kaya nih, itu guci harganya miliaran, mobil dil luar saja itu SUV keluaran terbaru.