Intermezzo Penulis.
Udara panas menyengat, panasnya terasa merambat di punggung sampai ke ubun-ubun, mataku baru terbangun, setelah semalaman berjuang menyelesaikan pesanan catering bersama istriku.
Ramadhan 1447 H,
Bulan yang seharusnya menjadi titik balik, seringkali menjadi sumber kegalauan atau kegundahan hati.
Rencanaku seperti tidak berjalan lancar, dimulai dari dua bulan yang lalu, yaitu bulan Rajab.
---
Nama penaku Muqimuddin Al Hasani, kalau ada yang bertanya 'Pekerjaannya apa?"
Dengan santai, aku hanya terdiam, berpikir lalu menjawab dengan nada yang lirih, "Nganggur."
Karena apa yang aku lakukan sekarang, dikatakan pekerjaan bukan, dibilang bukan tapi dapat gaji, pekerjaanku, eits stop! Jangan bilang pekerjaan, bilang saja 'Profesi'.
Sebuah pertanyaan besar. Siapakah aku?
Maka aku adalah:
1. Pengelola sebuah bangunan besar, yang menjadi sarana sujud atau ibadah umat Islam.
2. Pengelola lembaga pendidikan agama, yang mempelajari dasar ilmu syari'at berbasis kitab.
Mengenai menulis novel, baru digeluti sekitar empat bulan.
Jadi saya pribadi memohon maaf apabila banyak ketidaknyamanan dalam novel saya.
Di bulan Ramadhan ini, mari kita membuang semua keegoan kita, membuka hati kita menerima maaf dan memohon maaf.
Selamat menjalankan ibadah puasa 1447 H.
---
Klik
Kamera kembali dinyalakan, di dalam layar hanya terlihat kursi kosong, segelas kopi yang masih mengepul dan sepiring pisang goreng yang masih hangat.
Terdengar suara adzan berkumandang terekam oleh kamera, Ari muncul lalu duduk di atas kursi menatap kamera sambil membuka sebotol air mineral.
"Bismillahirrahmanirrahim," lirihnya, lalu meneguk air. Ia kembali menatap kamera dengan lirikan tajam.
"Maafkan saya, kalau membuat kalian menunggu kelanjutan dari cerita saya, harap maklum hari ini, hari ke delapan bulan Ramadhan, jadwal ceramah saya penuh sampai akhir Ramadhan, kebetulan waktu kosong saya hanya sampai hari ini."
Ia mengambil sepotong pisang goreng, mengunyahnya perlahan, diselingi suara tawa kecil.