Ramadhan 1440 H, tepatnya 7 tahun lalu.
Ari yang baru saja menginjak umur 25 tahun, sedang berada di sebuah kota di timur tengah, kota yang katanya pernah menjadi salah satu pusat peradaban Islam, namun pernah mempunyai sejarah kelam, ketika bangsa itu di pimpin seorang raja dzalim yang dijuluki Firaun. Tanah itu bernama Mesir.
Ari mendapatkan beasiswa S2 disana, setelah ia menyelesaikan S1 dengan susah payah. Bagi Ari kesusahan adalah teman hidup, kemiskinan adalah tunggangannya sedangkan kemewahan dan kekayaan diibaratkan langit yang tidak bisa teraih dengan cara apapun kecuali mati. Karena setelah mati ruh kita akan diangkat melewati satu persatu tingkat langit.
Waktu itu di pinggir sungai Nil, Ari berdiri dan memandang sungai yang di keramatkan oleh penduduk negara tersebut. Ia membuka sebuah kitab kecil kesukaannya karangan Syaikh Jaznuzi, berjudul Ta'lim Mutaalim.
Ari membuka lembar tentang bab memuliakan ilmu ada satu kalimat dari sayyidina Ali,
"Aku adalah hamba, bagi orang yang mengajarkanku satu huruf, apabila ia ingin mempekerjakanku maka aku akan menuruti, apabila ia ingin menjualku maka jual lah, apabila ia ingin memerdekakanku maka aku akan merdeka."
Kitab yang Ari pelajari setelah ia memutuskan keluar dari pesantren modern tersebut, walaupun dengan meninggalnya ayahnya, segala biaya yang mencekik dibebaskan.
Selepas keluar dari pesantren Ari memutuskan untuk mengikuti kelas paket untuk ijazah setingkat SMA.
Dan di waktu itulah Ari mengalami kejadian yang membuatnya berpikir ulang tentang cita-cita menjadi seorang ustad.
---
Ari menaiki sepeda motor peninggalan Ayahnya, di jok belakang terpasang gerobak kayu untuk menaruh termos air panas dan beberapa renceng kopi.
"Ri, mau berangkat jualan?" Ibu Mae tetangganya yang sedang lewat menyapanya.
"Iya Bu, biasa mencari sesuap nasi," jawab Ari sambil melemparkan senyum sopan.
"Hati-hati, semoga cepat habis dagangannya."
"Amiin, mari Bu." Ari menstarter motor, suara motor yang seringkali membuat matanya berkaca-kaca mengingat perjuangan ayahnya. "Doakan Ari yah," bisiknya lirih.
Tujuan Ari yaitu bunderan Universitas IPB, karena hari itu hari Minggu, banyak orang berlari pagi, atau sekedar berjalan-jalan melepas kejenuhan. Suasana yang asri, penuh dengan pepohonan besar, membuat universitas itu menjadi tujuan orang-orang Bogor Barat untuk berkunjung.
"Kopi hitam satu." Seorang pria memesan, sambil duduk di atas pinggiran trotoar.
Ari mengangguk, ini adalah pesanan ke-10 nya pagi itu.
"Berapa mang?" tanya pria tersebut, setelah Ari memberikan gelas plastik kepadanya.
"Biasa a, lima ribu," Ari menerima uang tersebut, matanya terbelalak melihat ke arah gerbang IPB, dua orang yang sangat ia kenal berjalan ke arahnya, Lani dan Tedi teman satu pondoknya.
Ari menarik topinya untuk menutupi wajahnya, ia pura-pura melihat ke arah lain.