Malam itu, H Masta menatap jendela. Lampu jalan menularakan cahaya kekuningan, menyentuh tanaman hias di depan rumahnya yang tertata rapi. Ia menarik napas panjang… seolah mencoba menelan rasa gelisah.
Ia tahu betul… bila Rizki memeriksa detail arsip keuangan lama, ia bisa dipenjara.
Delapan juta yang menguap tiap bulan bukan angka kecil. Tapi uang itu bukan untuk dirinya semata. Ia juga memainkannya untuk menyusun citra membantu masyarakat miskin, membiayai pengobatan warga, membangun taman kecil di gang sebelah, menyumbang acara tahlilan, membayar snack tiap pengajian, dan yang paling penting… mendorong namanya perlahan-lahan menjadi calon lurah tahun ini.
Ia tidak ke masjid demi mendekat kepada Allah… tetapi demi mendekat kepada masa depan kekuasaan.
“Kalau bukan karena jabatan… buat apa aku bersujud?” dalam batinnya muncul kalimat dingin.
Ia melirik ke arah lemari tua warna cokelat gelap. Lemari yang terlihat biasa, tapi berharga. Di dalamnya ada dokumen-dokumen yang tidak boleh disentuh siapa pun. Dokumen yang mungkin bisa membuat seluruh penghormatannya runtuh hanya dalam satu hari.
Satu amplop cokelat…
Satu angka…
Uang infak yang harusnya untuk Umat berpindah demi kepentingan pribadi
8 juta. Tiap bulan. Selama 5 tahun.
480 juta.
Dan semuanya… dicatat dengan baik. Rapi. Sistematis.
Karena kecurangan yang rapi… adalah kecurangan yang paling cerdas.
Selama ini aman. Hingga datang ketua baru.
---
H Masta melangkah ke musala kecil di rumahnya. Sujud tahajud ia lakukan seakan itu bisa melindungi nurani yang telah ia tutup. Tapi dalam sujud itu… selalu ada yang mengganggu hatinya.
Sebuah bisikan muncul pelan.
“Kau sedang dilihat.”
Namun ia menepis.
“Tidak. Allah sudah sibuk dengan dosa orang lain. Aku hanya manusia biasa yang membantu masyarakat.”
Toh, masyarakat mencintainya. Setiap hari ada saja yang datang mencium tangannya. Mereka menyebutnya dermawan… tokoh panutan… penolong umat.
“Siapa yang akan percaya aku mencuri?” ucapnya bangga.
Tapi kesombongan adalah pintu bagi pelan-pelan masuknya kebenaran. Dan kebenaran makin terasa dekat sejak seorang santrinya Ustad Rizki bernama Zenal memergoki orang suruhan nya yang sedang menebar sihir.
Ditambah datangnya cucu Pak Sobari, bernama Yudi yang katanya punya urusan lama ayahnya Ustad Rizki.
Bersama Dharma, lelaki gila yang terobsesi oleh Siti Badriah, istrinya Ustad Rizki.
Mereka punya dendam.
Sedangkan ia punya ketakutan.
Terkadang, dendam dan ketakutan… bisa duduk dalam satu meja yang sama.